
"Jaga bicaramu Karina!" ujar Pak Wijaya
Suasana menjadi sedikit tegang.
"Kenapa Mama Papa gak ngundang aku? Lupa, masih punya anak selain dia!" ketus Karina
"Keenan hanya membawa pacarnya ke rumah. Kita tidak mengadakan pesta, Nak" ucap Mama
"Kamu sengaja kan? Ngajak wanita itu kesini agar Mama Papa melupakanku?" tuduh Karina pada Keenan
"Apa maksudmu Kak?"
"Gak usah pura-pura lagi!"
"Kakak kemana saja? Apa Kakak sudah lupa, kalau Kakak masih punya orangtua?" sindir Keenan
"Aku sibuk. Aku mengurus perusahaan Papa, demi kehidupan kamu juga." sindirnya.
"Sesibuk itu sampai Kakak lupa jalan pulang?" Keenan membalasnya
"Aku juga tak yakin, kakak berusaha memajukan perusahaan Papa. Yang ku tahu kakak bisanya menghabiskan uang Papa!" ketus Keenan
Karina mengepalkan tangannya sementara Lala duduk mematung melihat perdebatan keluarga mereka.
'Astaga ternyata bukan hanya sinetron, drama Korea, atau Lakorn yang berselisih cuma gara-gara harta' batin Lala
Mama berdiri menghampiri Karina.
"Duduk dulu" ajak Mama
Mama menggeser kursi disamping Lala membuat jantung Lala berdetak lebih kencang.
"Aku gak mau dekat orang asing" ucap Karina pada Lala. Dia menatap Lala dengan tampang tak suka. Karina memilih duduk berjeda satu kursi dengan Lala.
"Minum dulu" pinta Mama Keenan
"Aku gak haus Ma" tolak Karina
"Setidaknya untuk mengontrol emosimu" titahnya. Karina minum dengan enggan.
Suasana hening dan sangat menegangkan untuk mereka.
"Aku bawa Lala pulang, Ma" Keenan berdiri
"Keenan duduk!" titah Pak Wijaya
"Maaf ya La, jika membuatmu tak nyaman" ucap Pak Wijaya
"Tapi, kamu harus tahu, yaa beginilah kami."
"Mm..tidak apa-apa, Om" ucap Lala
"Papa ingin bicara dengan kalian berdua. Mumpung kalian berkumpul" ucap Pak Wijaya pada Keenan dan Karina
"Kalau begitu aku pam.."
"Enggak Hon. Tadi aku izin sama Ibu. Kamu pulang sama aku lagi." pinta Keenan
"Kamu tunggu di kamarku ya?" ucap Keenan
"Gak apa-apa kan La?" tanya Mama Keenan
"Enggak apa-apa tante."
"Yuk Hon" ajak Keenan seraya berdiri hendak meninggalkan mereka
"Gak salah apa? Dia pacaran dengan orang seperti itu." ucap Karina
"Karina!" Mama Keenan mengingatkannya
Lala menarik nafas panjang.
'Jangan ambil hati La, kakaknya emang gak waras. Sabar.. ' batin Lala
Keduanya berjalan tanpa ada yang berbicara hingga Lala masuk ke kamar Keenan.
"Maafkan Kakakku merusak suasana kita, Hon" sesal Keenan
"Gak apa-apa Bee. Bukan salah kamu"
"Aku gak nyangka dia bakal pulang" ucap Keenan frustasi
"Sana, kamu ditunggu kan?"
"Give me hug, baby please" pinta Keenan
Mereka berpelukan erat.
"Jangan berhenti sampai disini ya Hon." ucap Keenan tepat ditelinga Lala. Dia melepas pelukannya kemudian mengecup kening Lala.
"Love you, honey" ucapnya seraya tersenyum.
Keenan melangkah menuju pintu kamar.
"Kamu tidur saja kalau ngantuk Hon. Atau mau apa saja boleh. Jangan sungkan" ucap Keenan
"Aku turun ya." Keenan melambaikan tangannya
'Ya elah, dia kayak mau pergi ke Dubai saja. Padahal cuma turun ke bawah' gumam Lala seraya tersenyum.
"Apa yang aku lakukan dirumah ini, Tuhan. Kenapa aku bisa terjebak disini" gumamnya seraya berjalan mondar mandir
Lala kini duduk di tepi kasur.
"Hah! Terserah lah. Ikuti arusmu saja La." gumamnya lagi. Dia merebahkan tubuhnya di kasur Keenan.
"Wanginya khas banget" gumam Lala. Dia merasa tenang saat menghirup aroma bantal guling milik Keenan.
"Ya Tuhan.. Gila gila gila.. Kejauhan mikirnya La, kamu pake mikir jadi istrinya dia" gumamnya sendiri
"Tapi kalau beneran kita jodoh bagaimana yaa. Ya Tuhan, skenario-Mu sulit ku tebak." gumamnya seraya menatap langit-langit kamar Keenan.
***
Keenan masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Lala yang terlelap dikasurnya. Sejenak dia berdiri di depan Lala memperhatikan wajah tenang dengan nafas teratur dihadapannya.
Keenan membayangkan hal yang sama dengan Lala tadi, dia tersenyum sendiri hingga tak terasa, dia sudah duduk dibibir kasur dan tengah mengusap lembut rambut pacar kesayangannya itu.
Lala yang terusik, sedikit-sedikit membuka matanya nampak terlonjak kaget.
"Bee.. Ngapa.. Oh Ya Tuhan, aku ketiduran dikamar kamu" ucap Lala seraya mengusap wajahnya
"Habis makan, tidur. Gendut tahu rasa kamu" ucal Keenan
"Habis lama banget nungguin kamu" ucap Lala
"Sorry Hon. Malah jadi berantakan acara kita" ucapnya
"Gak apa-apa Bee. Sudah beres?"
"Sudah. Dia sudah pulang ke alamnya" ucap Keenan.
"Ih emangnya dia apaan pakai bilang pulang ke alamnya. Dasar" ucap Lala seraya bangun dan merapikan rambutnya.
Keenan menggenggam tangan Lala.
"Kalau aku lebih sibuk ke depannya, gak apa-apa kan?" tanya Keenan
"Gak apa-apa. Baguslah. Daripada kamu nongkrong gak jelas." ucap Lala
"Aku cuci muka dulu ah" Lala turun dari kasur Keenan menuju kamar mandi.
"Pulang sekarang Bee?" tanya Lala
"Jalan dulu aja"
"Yuk, keluar kamar. Aku gak enak sama Mama kamu" ajak Lala.
Dia pindah ke sofa kemudian memoles dirinya agar nampak segar. Sementara Keenan hanya memperhatikan Lala.
"Kita kayak suami istri gini, Hon" ucap Keenan.
"Aku nungguin istri aku dandan" ucapnya kemudian
"Haha.. Mimpi Abangnya"
"Moga jadi nyata"
"Aamiiiiiiiin"
"Aamiin-nya panjang banget dah kayak di imamin" ucap
"Haha. Bisa aja Abangnya" ucap Lala
Mereka keluar dari kamar. Suasana di rumah nampak hening.
"Pada kemana, Bee?" tanya Lala
"Paling di kamar. Kamu tunggu disini ya, aku panggil Mama dulu" ucap Keenan
Tak berapa lama, Keenan datang bersama Mamanya.
"Tante, aku pamit pulang ya" Ucap Lala saat Ibunya mendekat.
"Bisa tinggalkan Mama dan Lala berdua?" Mama Keenan menatap Keenan.
"Mau apa Ma?" Keenan nampak cemas
"Rahasia wanita" ucapnya seraya melirik Lala.
Keenan menatap Lala, Lala mengangguk pelan pada Keenan.
"Ma, jangan macem-macem ya" ucapnya
"Eh? Kamu berani ngancam Mama ya sekarang" ucap Mama Keenan.
"Maaf Tante.."
"Sudah, tak apa La. Ayo" ajaknya.
Mama Keenan mengajak Lala berbicara di samping kolam renang.
"La, maaf ya tante jadi gak enak. kamu melihat drama keluarga kami" ucapnya
"Gak apa-apa Tante. Maaf juga kalau aku lancang disini tante" ucap Lala
"Gak apa- apa. Keenan percaya sepenuhnya sama kamu. Tante bisa lihat itu."
"Apa Tante bisa minta tolong sama kamu La?"
"Tolong apa Tante?"
"Tolong buat Keenan serius menjadi penerus keluarga. Keenan satu-satunya harapan kami karena kamu lihat sendiri kan peringai kakaknya seperti apa."
"Maaf Tante gak bisa cerita banyak hal mengenai keluarga kami. Tante hanya minta tolong itu saja."
"Kalau Keenan main-main, Om tak segan-segan mengirimnya ke luar negeri. Tante gak mau kalau dia harus jauh dari kami. Bukan apa-apa, Om sudah sakit-sakitan, kalau ada apa-apa, tante harus mengandalkan siapa?"
"Iya tante."
"Terima kasih tante telah merestui hubungan kami. Saya akan menjaga amanat tante." ucap Lala lega
"Tante titip Keenan sama kamu ya, dia sepertinya lebih nurut kalau sama kamu daripada sama tante" ucap Mama Keenan
"Hehe.. Enggak tante. Keenan lebih nurut sama tante kok."
"Ya sudah, yuk ke depan. Dia pasti kesal kalau kita terlalu lama" ucap Mama Keenan.
Mereka berjalan menghampiri Keenan yang sedang memainkan ponselnya.
"Lama banget sih, bahas apa Ma?"
"Rahasia. Kalau kamu tahu buat apa Mama sama Lala ngobrol disana."
"Ya sudah, yuk pulang. Nanti Ibu Kader ngomel lagi" ucap Keenan
"Siapa Ibu Kader?" tanya Mama Keenan
"Hehe.. Ibu, Tante."
"oh, hehe.. Keenan dasar. Ya sudah, hati-hati ya"
"Kamu jangan bikin malu dirumah orang Keenan"
"Siap Ma."
"Kami pamit tante. Salam buat Om. Assalamu'alaikum" Lala mengecup punggung tangan Mama Keenan
Keduanya berjalan diparkiran.
"Bee, mobil sebanyak ini gak pernah dipakai?"
"Paling di panaskan saja."
"Kamu gak mau pakai yang lain?"
"Kamu mau pakai yang mana? Bilang saja"
"Enggak. Aku cuma tanya. Heran, mobil cuma buat di pajang doang. Kan sayang Bee" mereka masuk ke dalam mobil Keenan. 5 1
"Haha. Bukan punya aku, Honey. Punya Papa semua."
"Makanya Abang usaha yang bener, biar kayak Papa"
"Akan ku buktikan semua untukmu" Keenan bersenandung
"Janji ya."
"Laksanakan" ucapnya seraya tersenyum.
Keenan mulai melajukan mobilnya.
***
"Kamu bahas apa sama Mama, Hon?"
"Rahasia"
"Jadi gitu sekarang?"
Lala hanya tertawa
"Hon!"
"Apa Bee?"
"Kamu bahas apa sama Mama?"
"Nanti saja, kamu fokus nyetir dulu" ucap Lala.
Keenan yang tak sabar, dia menepikan mobilnya.
"Loh? Kok berhenti disini"
"kamu cerita dulu" pinta Keenan
"Dasar keras kepala!"
"Biarin. Daripada penasaran."
"Mama minta aku, buat kamu serius kerja. Mama juga minta kamu tak main-main lagi. Mama kamu takut kalau kamu ke luar negeri, terus disini ada apa-apa. Kamunitu harapan mereka Bee" ucap Keenan
"Aku serba salah Hon. Karina makin menjadi" ucapnya
"Boleh tahu penyebab dia kayak begitu kenapa?"
"Dulu aku sama dia kayak adik kakak seperti orang lain, kita akur. Sampai suatu hari, dia mendengar semua aset Papa akan dilimpahkan kepadaku karena aku anak laki-laki. Padahal waktu itu, aku masih SMA."
"Dari sana, dia mulai menjauh. Dia mulai membangkang orangtua sampai akhirnya Papa dan dia bertengkar hebat dan dia meninggalkan rumah. Dia milih tinggal di Apartemen sendirian."
"Dia gak sadar juga, yang dia pakai semuanya fasilitas dari Papa."
"Padahal kalau mau minggat, jangan bawa apa-apa atau pakai apapun dari Papa." ucapnya yang membuat Lala tertawa.
"Iya juga ya" ucap Lala.
"Nah, terus Papa mulai sakut tuh dari sana. Mungkin pikiran kerjaan sama mikirin anak gadisnya juga. Sampai waktu itu Papa sempat tak sadarkan diri beberapa hari. Kita bingung tuh siapa gantinya Papa. Dia lah yang megang kendali sekarang."
"Aku dengar, sekarang disana kacau. Tapi aku belum tahu lebih dalam."
"Kamu harus bertindak Bee." pinta Lala
"Aku setengah hati Hon, Karina pasti makin benci sama aku. Padahal gak ada niatan sedikitpun aku nguasai harta orangtua." ucap Keenan
"Daripada makin fatal Bee. Kasihan orangtua kamu sudah kerja keras dari dulu. Kamu harus teruskan tongkat estafet itu. Itu sih yang diinginkan orangtuamu."
"Parahnya lagi, tadi kita bicara sekeluarga. Akhirnya, seluruh swalayan Papa bagi dua penguasaan. Kita disuruh bersaing. Kalau dia yang menang, aset semua dia yang pegang. Begitupun sebaliknya." ucap Keenan
"Swalayan?"
"Iya. Kenapa?"
"Kamu punya swalayan Keen?"
Keenan tersenyum.
"Aku belum cerita ya? Papa pengusaha retail Hon. Ada sih usaha lainnya, tapi fokusnya kesana."
"Astagaaa. Aku gak nyangka Bee. Pacarku anak sultan." Lala nampak kaget
"Aku tuan muda Honey, bukan anak sultan. Aku anak tuan besar dan nyonya besar. Haha"
"Haha.. Iya iya."
Lala memeluk Keenan.
"Keep humble Bee. Tetap seperti ini. Kamu gak boleh sombong ya."
"Apa sih, honey." Lala melepas pelukannya.
"Aku gak nyangka kamu setajir itu Keenan. Sumpah."
"Semua titipan, Lashira. Bukan punya aku" ucapnya.
"Kamu jangan jadi penguasa yang sombong, yang kejam, sok ganteng, sok tajir. Jangan ya Bee" pinta Lala
"Haha.. Kamu ada-ada saja. Enggak lah Honey. Siapa sih Keenan? Ada yang tahu dikampus aku anaknyapak Wijaya? Enggak kan." ucapnya bangga
"Aku bangga sama kamu, Bee" Lala mencakup kedua pipi Keenan.
"Di sun dong" Keenan memonyongkan bibirnya
"Ogah!"
"Haha.. Lucu banget"
"Sekalipun kamu tajir, kamu gak mudah dapatkan ciuman dariku ya Keen!" ketus Lala
"haha.. Apa hubungannya coba? Kamu gak nyambung"
"Maksud aku, aku gak akan silau dengan hartamu. Aku bukan wanita murahan. Ingat itu!"
"Siapa juga yang bilang kamu wanita murahan?" tanya Keenan
"Enggak. Aku cuma takut kamu mengiraku begitu"
"Singkirkan pikiran jahat begitu Hon. Kamu menilaiku salah kalau begitu"
"Kalau aku niat, aku bisa beli wanita paling cantik. Cuma bukan itu yang aku inginkan."
"Aku ingin kamu mendampingiku untuk saat ini dan seterusnya."
"Kamu harus buktikan kerjamu dulu Bee. Kalau kamu gagal, bisa-bisa kita dipisahkan oleh orangtuamu. Aku kan sudah janji sama Mama kamu" ucap Lala
"Oke. Let's fight honey."
Suasana menjadi hening seketika.
"Bee.."
"Aku gak nyangka, aku bisa masuk ke kehidupanmu dengan mudah."
"Kenapa memangnya?"
"Ya, Mama kamu tak menghalangi hubungan kita."
"Aku bilang apa, orangtuaku bukan tipe yang suka menjodoh-jodohkan anaknya."
"Iya percaya"
"Percaya karena kamu sudah dapat restu" ujar Keenan membuat Lala tertawa.
"Tadi pagi-pagi yang nervous siapa? Hahaha.. Sampai nanya aku cantik gak? Aku aneh gak? Haha"
"Bee.. Jangan dibahas" Lala menyubit lengan Keenan
"Ampun Hon. Ih kamu mah kekerasan terus sama aku" keluh Keenan
"Kamu mancing-mancing aku terus. Aku kesel. Belum lagi tadi jailin aku depan Mama kamu. Kalau mau gesrek sama temen-temen kamu." Lala kesal lagi
"Haha.. Aku juga gak ngerti Hon. Kok aku tiba-tiba isengin kamu begitu ya" ucapnya seraya tersenyum
"Loh Bee?" Lala terlonjak kaget
"Apa sih Hon?"
"Baju aku ketinggalan dirumah kamu"
.
.
.
Terima kasih yang sudah setia nunggu HoneyBee. Maaf lelet yaaa. Sedikit keteteran akutu. Tetep absen like dan komentarnya yaaa.. Jangan lupa vote juga. Terima kasih^^