My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Extra Part 3



"Honey, jadi nanti bikin surprise buat Kirei?" tanya Keenan saat dia memakai kemejanya.


"Jadi dong, masa gak jadi. Abang sudah kasih tahu keluarga Mas Pram dan Bang Al?" tanya Lala yang ikut membantu mengancingkan kemeja suaminya.


Keenan mengecup singkat bibir Lala. "Sudah."


"Jadi nanti pulang kantor gak boleh telat ya?" Lala memegang kancing terakhirnya. Sementara Keenan mengecup singkat bibir Lala kembali. "Iya."


Lala memukul pelan bahu suaminya."Yang bener ciumnya" dia terkekeh.


"Gimana sih yang bener memangnya?" goda Keenan


"Gak tahu ah. Pag.. "Keenan memagutnya lembut bibir Lala sambil memeluknya, Lala mengalungkan tangannya dileher Keenan seraya menyunggingkan bibirnya keatas saat berpagutan.


"Sudah tua juga!" gerutu Lala begitu pagutannya terlepas. Dia mengusap bibir suaminya.


"Belum lah. Anak-anak masih kuliah. Abang belum jadi Opa juga. Stamina masih prima, buktinya semal..." Lala membekap mulut suaminya.


"Bawel banget sih suaminya aku." Keenan terkekeh saat Lala melepaskan tangannya.


"Jadi Daddy kasih surprise apa buat dia?" pancing Lala


"Rahasia." Keenan mengedipkan sebelah matanya. "i know you, Hon." Keenan melebarkan senyumnya.


"Apa?" Lala berlagak tak mengerti.


"Kamu tuh selalu bersikap manis kalau lagi mancing aku, sayangnya aku sudah faham banget kamu kayak gimana." Keenan terbahak.


"Sebel deh! Kalau berhubungan dengan surprise, kamu tuh pelit informasi." gerutu Lala seraya mengambil dasi di walk in closet.


"Gak asik dong, kalau Mommy tahu." ujarnya seraya mencondongkan badannya ke arah Lala.


"Tahu ah! Awas aja kalau yang aneh-aneh." Lala menyimpulkan dasi Keenan sedikit kasar.


"Kok gak ikhlas begitu sih, Hon?"


"Habis kamunya gak mau kasih tahu aku."


"Sabar. Nanti juga tahu." Keenan sengaja menggodanya.


"Tahu ah! Musuhan 5 hari 5 malam."


"Ck..astaga.." Keenan tersenyum lebar.


"Awas kalau minta jatah!" gerutu Lala kemudian.


"Untung semalam udah dirapel. Lumayan buat tiga hari mah." goda Keenan.


"Abang ih! Rese!"


"Apa Honey? Gak malu kamu sama anak-anak. Udah tua masih ngerengek."


"Enggak, aku masih sanggup lay.." Keenan membekap mulut Lala


"Bawel banget sih istrinya aku." Keenan membalas ucapan Lala. Keduanya terbahak.


***


"Selamat pagi Daddyku tersayang" Kirei mengecup pipi Keenan saat tiba di meja makan.


Dia beralih mengecup Lala "Selamat pagi Mommy cantikku yang pakai formalin."


Lala menatapnya. "Awet mudanya Mommy-ku. Biasa aja tatapannya. Kayak sama pelakor aja." gerutunya seraya menyeret kursi di meja makan.


"Ehm.. " Ibu berdehem.


" Oh astaga." Kirei berdiri kemudian menghampiri Oma yang berdiri di wastafel. "Oma energikku yang luar biasa, selamat pagi." Kirei mengecupnya cukup lama membuat Oma tersenyum.


"Wa'alaikumsalam." sindir Oma.


"Ada yang ingat hari ini hari apa?" pancing Kirei, dia mendorong bokongnya kembali duduk di kursi makan. Kirei melihat Aksa menuruni anak tangga.


"Aksaa.. Kamu tahu hari ini hari apa?"


"Lihat ponselmu. Jangan bod*oh deh!" ketus Aksa membuat Keenan dan Lala menahan senyumnya.


"Dad?"


"Yup? Hari Jumat, sayang. Kenapa? Mau ngajak Daddy hangout? Besok Daddy libur loh."


"Ck... Malesin." Kirei memutar bola matanya.


"Mom.." Kirei tak putus asa.


"Apa?"


"Hari ap.. "


" Hari jumat dan kamu ulang tahun ke 21 tahun hari ini." jelas Lala.


"Astaga.. Mommy luar biasa. So?" Kirei mengedip-ngedipkan matanya memandang keluarganya.


"Happy birthday Kirei Adelin Wijaya" ucap mereka berbarengan.


"Huaaahhh.. Terima kasih... Mana dong kadonya?" pinta Kirei seraya menengadahkan kedua tangannya.


"Kamu sudah di atas 20 tahun jadi gak ada kado lagi." pungkas Lala.


"Tapi kan Mom.."


"Sadar umur! Kamu tuh menuju tua!" Aksa menimpali


"Enak aja! Kamu yang tua! Kamu juga kan waktu itu dapat kado!"


"Kapan? Aku gak pernah minta. Apalagi sampe ngerengek-ngerengek kayak kamu! Manja!" ketusnya


"Bodo amat! Manja juga sama orangtua sendiri bukan sama Mbak Nani."


"What? Gak sadar dulu kamu nyusahin banget Mbak Nani?"


"Stop it! Ini meja makan. Mulutnya sumpal pakai makanan! Bukan buat adu argumen. Masih pagi!" Lala menatap kedua anaknya.


Mereka terdiam. Kirei langsung memajukan bibirnya, dia kesal pada mereka sementara Keenan dan Lala saling lirik.


Kirei beranjak dari duduknya, dia kembali ke kamarnya.


"Kirei, bareng Aksa saja." titah Lala. Tapi Kirei enggan mendengarnya. Setiap kali dia marah, dia akan diam seolah tak peduli dengan sekitar.


"Astaga! Cuma karena kado, kamu ngambek? Umur 21 tapi kelakuan 15 tahun!" ketus Lala saat melihat Kirei menuju Omanya.


"Oma, aku berangkat." pamitnya seraya mengalungkan tas miliknya.


"Kamu mau kado apa dari Oma?" tanya Ibu mengikutinya.


"Gak usah Oma, kata Mommy, aku bukan anak kecil lagi." Kirei menekan kata Mommy untuk menyindirnya.


"Mau Daddy anter?" tawar Keenan.


"Gak usah. Daddy sekutunya Mommy." ucapnya seraya berjalan keluar rumah.


"Anak kamu! Batu banget." gerutu Lala.


"Jauh sifatnya kayak aku kan?" Aksa menaikan alisnya.


"Gak usah kompor! Habiskan makanmu. Aksa jangan lupa, nanti ajak Kirei biar dia gak ngayap dulu. Pokoknya, jam tujuh ke KP. Mommy gak mau tahu!"


"Siap laksanakan."


***


Sesuai rencananya, kini Lala tengah mempersiapkan cake untuk birthday party anak bungsunya. Tak nampak dekorasi di ruangan tersebut. Hanya saja, Lala mempersiapkan beberapa balon angka dan huruf serta confetti untuk sekedar memeriahkan acara.


Lala nampak lebih sibuk. Dia mengingatkan suaminya agar pulang lebih awal, dan juga berkordinasi dengan Aksa untuk memuluskan acaranya.


"Mom, Kirei gak mau bicara sama aku. Dia masih marah. Gimana dong?" Aksa terdengar sedikit gusar.


"Kamu bujuk dong, Abang.. Masa gak bisa sih?"


"Mommy sendiri yang bilang kalau dia itu batu banget." keluhnya.


"Coba minta tolong Bagas buat bujuk."


"Yah, si Bagas. Paling si Kirei ngegas sama dia. Mana ada nurut-nurutnya dia sama Bagas."


"Oh ya, Daffa, Bang. Minta tolong Daffa siapa tahu, dia bisa bujuk Kirei. Kamu tahu sendiri kalau sama Daffa dia lebih nurut daripada sama kamu."


"Wait. Aku coba hubungi Daffa. Dari tadi aku gak ketemu Daffa."


"Loh? Jangan bilang hari ini kamu batal nge-jam." tuduh Lala.


"Jadi Mom. Cuma aku belum ketemu doi, dia sibuk kali. Aku hubungi dia dulu. Bye."


Lala menghembuskan nafasnya kasar. Dia takut rencanaya gagal. Malu dong dengan rekan suaminya kalau acaranya batal.


Entah apa yang dipikirkan Lala. Bukannya mengundang teman-teman Kirei, tapi dia malah mengundang teman suaminya karena Kirei memang dekat dengan mereka juga.


Tak berapa lama, Keenan tiba di KP. Dia segera menemui Lala diruangannya.


"Hon.." panggil Keenan. Lala yang tak sadar masih memainkan ponselnya.


Keenan mengambil ponsel Lala. "Lihat apa sih! Suami datang sampai dicuekin." dia duduk di sofa.


"Abang.. Maaf, aku gak denger Abang buka pintu." ucap Lala seraya menghampiri Keenan. Dia mengecup Keenan sepintas.


"Gimana yang lain belum datang?" Lala mengambil ponselnya ditangan Keenan. "Tadi anaknya di Kampus gak mau ngomong sama Aksa. Aduh, aku takut rencana kita gagal gara-gara dia gak datang, sayang."


"Terus gimana?" tanya Keenan, bola matanya mengikuti gerakan Lala yang sedang mengambil air minum.


"Aku minta Daffa yang bujuk. Mudah-mudahan mau. Mereka juga kan nge-jam hari ini." Lala memberikan air yang diambilnya.


"Terus gak pake dekor? Tumben."


"Enggak lah, kita sederhana saja. Tiup lilin, kasih kado. Udah."


Keenan hanya mengangguk-ngangguk. "Ya sudah, aku keluar dulu sebentar. Abang istirahat saja." ucap Lala seraya mengecup pipi suaminya.


Tak berapa lama, Mas Pram dan Renata tiba. Disusul dengan kehadiran Bang Al, Tiara dan Safhira, putri semata wayang Bang Al yang masih duduk di bangku SMP. Lala segera memanggil Keenan untuk bergabung dengan mereka.


"Jadi mana nih si gadis? Kok belum datang?" tanya Mas Pram.


"Tadi mode ngambek anaknya karena orang rumah gak ada yang kasih kado. Aku sudah minta Aksa sama temen Bandnya buat bujuk dia."


"Bagas juga dong?" tanya Bang Al sambil menyeruput minuman miliknya.


"Ya iya, Bagas sama Daffa teman kampusnya itu. Neraca Band yang selalu dinanti pengunjung KP." Lala terkekeh.


"Si Bagas ya, bukannya bantu Bapaknya malah nyangkut di KP 4." gerutu Mas Pram.


"Enak saja! Semua KP kita konsepnya sama ya!" protes Mas Pram.


Tak berapa lama, gadis yang dinanti tiba. Dia turun dari motor besar milik Daffa seraya merapikan rambutnya yang acak-acakan diterpa angin selama perjalanan tadi.


"Ayo.. Bersiap semua." ajak Tiara.


Begitu Kirei melangkah masuk ke dalam KP, Terdengar suara nyanyian dari mereka.


"Happy birthday Kirei.. "


"Happy birthday Kirei.."


"Happy birthday anak Keenan.."


"Happy birthday to you.."


"Lah, pake label anak Keenan segala." Keenan tertawa.


"Terus anak siapa? Anak aku?" timpal Bang Al


"Cetakan aku sama Lala lah. Gila kalau anak kamu. Berarti kamu MBA, Bang." Keenan terbahak.


"Haha..si*lan."


"Haaaaa... Om, tante, uncle, onty. Makasiiiihh" teriak Kirei seraya merentangkan tangannya.


"Astagaaaa aku terharu. Mommy, Daddy Love you unlimited. Muah.. Muah.. " dia memberikan kiss bye pada orangtuanya.


"Selamat ya gadis. Bentar lagi nikah ya?" goda Mas Pram seraya bercipika cipiki ria dengan gadis periang itu.


"Haha..masih jauh Om. Jodohnya belum kelihatan."


"Eh, itu calonnya. Ajak kesini dong." Bang Al tak kalah menggodanya. Dia menatap Daffa sepintas yang terlihat salah tingkah.


"Haha.. Bukan Uncle. Itu mah temennya Aksa. Senior aku di kampus." ujarnya seraya berkeliling menyalami mereka.


"Oh senior doang? Yakin?" kini giliran Tiara menggodanya.


"Haha.. Gimana dong, mau lebih juga doi gak nembak-nembak Onty" bisik Kirei yang membuat Tiara dan Renata tertawa.


"Jadi kamu ngarep?" kini Renata ikut bersuara.


"Haha.. Gak juga. Becanda doang ih." Kirei tertawa.


"Selamat Kak Kirei" Safhira memeluknya.


"Iih makin cantik kamu, Dek. Makasih yaa.."


"Mana dong kadonya?" tagih Kirei seraya tertawa setelah menyalami mereka.


"Tuh Sudah numpuk dipojokan. Kamu ini bikin malu." gerutu Lala.


"Dari Daddy spesial, sebentar lagi yaa." ucap Keenan.


"Apa Dad? Wiih..can't wait. Pasti istimewa." Kirei begitu bersemangat.


Lala meminta Kirei untuk meniup lilin kemudian berdoa bersama. Setelah itu, Keenan mengajak sahabatnya untuk menyantap hidangan yang telah dipesan Lala. Seperti biasa, trio gesrek berbincang diiringi gelak tawa mereka.


"Loh, Aksa mana Daf?" tanya Lala saat menghampiri Daffa.


"Tadi katanya ada perlu sebentar Tante."


"Bagas juga?" tanyanya


"Iya Tan."


"Gimana sih Aksa. Adiknya ulang tahun kok dianya gak ada. Bener-bener gak ada akhlak itu anak." gerutu Lala yang membuat Daffa menahan senyumnya.


"Ayo, kamu makan dulu Daf. Tante sengaja pesan makanan. Yuk." ajak Lala.


"Iya nanti Tante. Gampang. Aku nunggu Aksa sama Bagas dulu."


"Ya sudah, tante tinggal ya.." Lala meninggalkan mereka "Kirei, tuh ajak Bang Daffa ngobrol. Kasihan dia bengong sendirian." ujar Lala.


Kirei mendekati Daffa yang masih duduk seorang diri. "Kirei, happy birthday yaa.. Kado dari Abang nyusul." Daffa terkekeh


"Hehe.. Makasih Bang. Gak apa-apa, gak usah kasih kado. Abang mau antar jemput aku aja, aku udah seneng. Eh." Kirei tertawa


"Haha dasar. Emang Abang tukang ojek." Daffa mengacak rambut Kirei gemas.


Dari luar, Aksa dan Bagas bergegas masuk ke dalam KP. "Happy Birthday Kirei Adelin Wijaya. Sini peluk Abang." teriaknya seraya berjalan ke arahnya.


"Ih apaan sih!" gerutu Kirei


"Gak mau peluk? Oke fix surprisenya gak jadi."


Kirei langsung berhambur memeluk Abangnya. "Surprise apaan, Bang?" tanyanya penasaran.


"Dad." Aksa memanggil Keenan yang sedang berbincang. Keenan langsung bangkit menghampiri mereka.


"Oke, Ayo ke depan. Eh tutup mata kamu, Dek." pinta Aksa. Jarang-jarang dia memanggil Dek pada adiknya . Begitupun Kirei, jarang sekali memanggil Abang pada Aksa. Kalau ada perlunya mereka baru bersikap manis.


Aksa menutup mata Kirei dengan slayer milik Daffa. Dia menggiring Kirei menuju parkiran. Semua yang ada disana penasaran dengan surprise yang diberikan Keenan. Mereka mengikuti Aksa.


"Woooaaahhhh..." teriak mereka.


Kirei yang penasaran semakin heboh. "Apa sih kadonya? Apa Bang?" Kirei tak sabar ingin segera membuka matanya.


"Ayo kita hitung sama-sama." teriak Aksa


"3..2..1.." Aksa membuka kain dari mata Kirei seraya menyalakan confetti.


"Haaa...serius buat aku? Daddy? Waaahhh.. Aku punya mobil. Yeessss.." teriaknya berhambur memeluk Keenan. Dia mengecup Keenan tak henti.


"Astaga! Mommy boro-boro di cium."


Mendengar ucapan Mommynya, Kirei berhambur memeluk Lala. "Love you unlimited Mommy. Terima kasih buat kado terindahnya. Aku sukaaa banget."


"Ya iyalah gila, ratusan juta." gerutu Aksa.


"Abangku yang ganteng, sorry nanti aku gak nebeng lagi sama Abang." Kirei mengecup pipi Aksa.


"Ih! Sana jauh-jauh ah!" Aksa pura-pura mendorong tubuh adiknya.


Kirei menyentuh mobil miliknya. Sebuah mobil Hatcback dengan transisi otomatis yang cocok untuk seorang gadis energik seperti dirinya.


"Foto aku dong, Gas." pinta Kirei pada Bagas.


"Pitanya lepas elah, kamu kayak dapat undian mobil dari kantornya uncle Al tahu!"


"Hahaha... Bodo amat. Cepetan ah. Fotoin dulu, aku mau pamer di sosial media." ujarnya.


Selesai berfoto ria, kini Neraca Band menghibur mereka.


Band yang terdiri dari Daffa Narendra Martadinata sebagai vokalis, Kenzie Aksa Wijaya sebagai gitar dan Bagas Pramono sebagai drummer menutup acara ulang tahun Kirei.


"Oke, persembahan dari kami. Sebuah lagu lawas karena disini kebanyakan orang-orang lawas." ucap Daffa yang membuat trio gesrek bersorak tak terima.


"Hehe.. Ampun Om. Becanda..kami persembahkan sebuah lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud spesial untuk Adik kami tercinta, Kirei Adelin Wijaya."


Daffa menatap Kirei yang salah tingkah, "Kirei, this songs for you."


Hari ini, hari yang kau tunggu


Bertambah satu tahun, usiamu,


Bahagialah slalu


Yang kuberi, bukan jam dan cincin


Bukan seikat bunga, atau puisi,


Juga kalung hati


Maaf, bukannya pelit,


Atau nggak mau bermodal dikit


Yang ingin aku, beri padamu


Do'a setulus hati ...


Smoga Tuhan, melindungi kamu


Serta tercapai semua angan dan cita citamu


Mudah mudahan diberi umur panjang


Sehat selama lamanya.


Selamat ulang tahun yaaa...


Semoga panjang umur selalu.


Selamat Ulang tahun ...


Selamat Ulang tahun ...


Tak hanya Daffa yang bernyanyi. Keenan, Mas Pram dan Bang Al saling merangkul sambil bernyanyi di depan panggung kecil itu. Mereka nampak bahagia.


***


Keenan merebahkan tubuhnya disamping Lala.


"Capek tapi Daddy bahagia. Rasanya hari ini bukan acara Kirei, tapi acara kita, Hon." ujarnya seraya berbalik menatap Lala.


"Iya. Aku juga puas banget. Berasa kembali muda apalagi mereka nyanyi lagu-lagu jaman kita, sayang."


"Mom, aku bukan pria romantis untukmu. Tapi aku selalu berusaha memperbaiki diriku agar selalu bersamamu. Terima kasih untuk anak-anak yang kamu besarkan sampai saat ini. Terima kasih karena kamu selalu bertahan dengan cintamu yang tak pernah berkurang untuk. How lucky, am i. I love you unlimited, Mommy Lashira. Aku cinta kamu tak terbatas." Keenan mengecup kening Lala.


"Abang? Kesambet apa bisa berkata romantis kayak gitu?"


.


.


.


Selesai.


Extrapart bereeesss... Kita lanjut bagaimana dua keluarga bertemu. Keluarga siapa? Mau tahu?? Follow igehku yaa : only.ambu. Aku akan bisikin kalian disana.


Bye bye^^