MENANTU

MENANTU
TUJUH PULUH LIMA



Keduanya kini sudah berpagut dengan mesra, bak tersengat aliran listrik, gelanyar di tubuh keduanya terasa sangat nikmat.


Rino mulai membenamkan kepalanya di antara kedua bukit kembar milik Amanda. Menyesap dalam-dalam, hingga Manda melenguh penuh kenikmatan.


Rino pun akhirnya menggendong tubuh Amanda membawanya ke


kamar tidur lalu merebahkannya secara perlahan.


Rino bermain-main diarea atas, meski tangannya mulai menelusuri bagian inti milik Amanda secara perlahan.


" Milik Mu sudah sangat basah sayang, apa Kamu sudah siap untuk melakukannya? "


" Lakukan saja sayang, "


Setelah puas mengexflorasi setiap inci tubuh Amanda, tanda-tanda kepemilikan pun sudah bertebaran. Kini kedua melakukan penyatuan.


Cukup lama hingga akhirnya mereka menuntaskan penyatuan. Keduanya saling berpelukan hingga akhirnya terlelap dalam mimpi yang indah.


*


Keesokan pagi nya Rino yang terbangun lebih dulu mendapati sosok Perempuan di sampingnya, Rino sekidit kaget. Ia tersenyum dan baru sadar kalau Ia sudah menikah.


Memandang tubuh putih mulus milik Istrinya, tangan mulai nakal mulai memilin puncak bukit kembar, tubuh Amanda menggeliat tapi matanya masih mengantuk, Rino yang sudah pada tahap menegang kemudian mulai menyesap kedua bukit kembar secara bergantian.


" Aaaaghh, " satu lenguhan lolos dari bibir Amanda, Ia mulai membuka matanya saat jari tangan Rino mulai bermain diarea intinya.


Saat Amanda mulai terbawa suasana, Rino sengaja mengerjai nya, Ia sengaja pura-pura akan mandi, " sayang terusin, " rengkek Amanda.


Amanda kemudian menarik tangan Rino, Rino pura-pura terkapar tak berdaya, disaat itu Amanda yang sudah terbakar birahi langsung memposisikan tubuhnya atas tubuh Rino.


Mulai melakukan penyatuan, tubuh mungil Amanda meliuk,-liuk di atas tubuh Rino. Sarapan pagi hari ini dengan peluh dan olah raga di atas tempat tidur.


*


Satu tahun pun berlalu kini Sofie yang sudah lancar berbicara dan sudah tak bisa diam membuat Sonya harus ektra dalam menjaga nya.


Tubuhnya yang tadinya lebih berisi kini terlihat lebih kurus, hanya bagian dada dan bokong saja saja yang masih tampak menonjol sempurna.


" Sayang pakai pengasuh aja biar Kamu bisa istirahat? "


" Gak usah Aak sayang, Aku mau sendiri mengasuh Anak Kita, Kamu ingatkan Sofie gak mau di di asuh sama Bude Kartina"


" Tapi entar kalau Dede Sofie lahir pakai pengasuh ya! "


" Astagaah Aak, Sofie baru 2 tahun mau di kasih Adek! "


" Ya gak papah lah, mumpung mesin produksinya masih stroong, " Ferdian sengaja menggoda Sonya.


" Owwh gitu, baiklah mau berapa 3 4 5 atau 6, biar di cetakin sekalian, " kini muka Sonya tampak cemberut.


Ferdian pun segera mendekat ke arah Sonya, sambil membisikkan kata-kata " Ayo on proses nya sekarang, "


" Aaaaaak, " Sonya mencubit lengan Suaminya tiada henti. Mereka pun tertawa bersama. Sofie yang sedang berlarian, terpaku melihat kedua Orang Tua nya tertawa bersama.


Keesokan hari nya pengasuh Anak datang, Namanya Mba Marni, Sonya terpaksa menyetujui karena Ferdian benar, Ia harus segera menambah momongan agar kehamilan selanjutnya aman karena usia Sonya tak lagi muda.


Ia ingin melahirkan secara normal juga. Mendapat lampu hijau dari Istri tercinta, Ferdian sangat bahagia, Ia siap tempur tiap malam demi menghasilkan dede utun tersayang.


" Dasar dokter mesum, maunya begituan mulu, "


" Iya dong sayang, kan milik Aak sorangan, halalan toyiban, " Ferdian mencubit kedua pipi Sonya dengan gemas.