
Sudah beberapa bulan ini Yoan sering pulang larut malam, karena jadwal prakteknya di rumah sakit bertambah sejak dokter Bernando resign karena mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dokter Bernando kehilangan kedua kaki nya karena harus di amputasi.
Kehamilan Sofie yang semakin besar, membuat Sofie sedikit lebih manja dan ingin lebih di perhatikan, sementara Yoan terlalu sibuk dengan jadwal prakteknya di rumah sakit.
Beberapa kali terjadi pertengkaran kecil, karena Sofie merasa di abaikan. Di tambah lagi dengan kehadiran Mami dan Papi Yoan yang kini tinggal bersama Mereka.
Mami dan Papi yang sering mengundang Teman-teman nya ke rumah membuat Sofie merasa mulai tak nyaman berada di rumah. Belum lagi tengah malam Sofie sering di bangunkan karena keinginan phyton yang tak bisa di tunda.
Sofie hanya bisa menangis, sesegukan tiap hari didalam kamar nya. Bu Lastri sebagai asisten rumah tangga selalu membujuk dan menemani Sofie agar mau makan dan tetap semangat karena Sofie sedang hamil.
Pernah satu malam Yoan pulang lebih awal, Ia menemukan Sofie sedang menangis disudut kamar, hati Yoan terenyuh melihat Istrinya, di hampirinya Sofie kemudian Ia peluk, sambil menenangkan Sofie.
Yoan baru mengetahui hal-hal yang membuat Sofie merasa tidak nyaman, setelah Bu Lastri menceritakan semuanya. Kelakuan dan kebiasaan kedua Orang Tua Yoan yang sering berkumpul dan berpesta di rumah, membuat Sofie kehilangan banyak waktu untuk sekedar istirahat karena polusi suara dari tamu-tamu yang datang hampir setiap harinya.
Pantas saja setiap kali Yoan, minta di layani wajah Sofie tampak lelah dan kurang bersemangat, itu karena Sofie tidak bisa beristirahat dengan baik setiap harinya.
Akhirnya Yoan, memutuskan untuk pindah rumah sebelum Sofie melahirkan. Kebetulan rumah yang belum lama Ia beli sudah selesai di renovasi. Tadinya rumah itu akan Ia sewakan, namun karena melihat kondisi yang kurang kondusif, Yoan memutuskan untuk menempatinya sendiri.
Dua Minggu kemudian Yoan memberi kejutan pada Sofie dengan mengajak pindah ke rumah baru Mereka. Sementara kedua Orang Tua Yoan tetap tinggal di rumah lama Mereka.
Sofie merasa sangat bahagia sekali, Sofie sangat menghormati kedua Mertua nya hanya saja Ia tak bisa mengikuti kebiasaan kedua Mertua nya yang senang berkumpul dan berpesta.
Mulai malam ini Sofie dan Yoan sudah menempati rumah baru Mereka, setelah acara pengajian yang di adakan tadi sore selepas waktu Ashar.
Mama Sonya, Ayah Rino, Nayaka, Bima serta Keluarga besar lainnya turut hadir di acara pengajian tersebut.
Kini Sofie bisa menjalani hari-harinya dengan rasa nyaman, Ia kini bisa menanam bunga, sayur dan buah-buahan di kebun kecil di samping rumah.
Hari-hari nya kini sangat ceria, Bu Lastri juga selalu setia mememani nya. Mami dan Papi sesekali mengunjungi Sofie dan Yoan. Hubungan Mereka tetap harmonis meski tak lagi tinggal serumah.
Kini Sofie bisa beristirahat dengan cukup setiap harinya. bobot tubuhnya berangsur naik, pipi nya juga semakin gempil.
Pertengkaran kecil pun tak pernah terjadi lagi, semua berjalan harmonis dan bahagia seperti biasanya. Semua permasalahan tak harus diselesaikan dengan amarah, saling berteriak dan mencaci. Semua permasalahan bisa diselesaikan dengan tenang dan sabar.