
Sonya baru saja tiba di rumah sakit, dengan langkah gemetar Ia memasuki lobby rumah sakit.
Noa bertanya kepada bagian informasi dimana tempat pasien Rino sedang di rawat, ternyata Rino masih dalam ruang ICU.
Langkah Sonya semakin gontai, apalagi melihat Mama Mertuanya bersama Papa Mertuanya dan pihak Keluarga Rino lainnya.
*
Sonya yang berjalan bergandengan dengan Nenek nya Noa mendekati Keluarga Rino yang sedang duduk di dekat ruang ICU.
Sonya segera menghampiri kedua Mertua nya mencium tangan Mertuanya.
Saat Sonya akan mencium tangan Mama Mertuanya tiba-tiba tangan Sonya di tepis oleh Mama Mertuanya.
" Pergi jauh sana Perempuan mandul! jangan dekat-dekat Kamu hanya membawa kesialan di Keluarga Kami, " jari telunjuk Mama Rino menekan kening Sonya.
" Ma... Saya hanya ingin melihat kak Rino! "
" Gak perlu, pergi sana! "
" Cukup Bu, Anda tidak sepatut nya berbicara seperti itu pada Menantu Anda, " ucap Nenek Noa.
" Anda siapa? tidak usah ikut campur dalam masalah ini! "
" Saya memang bukan siapa-siapa, perkenalkan nama Saya Tiara, Saya Bibi dari Papa nya Ranti calon besan Anda, " ucap Nenek Noa. Sambil mengajak Sonya pergi dari ruang ICU tersebut.
**
Sementara Noa di bagian informasi sedang membuat janji dengan dokter Ferdian yang sedang menangani dan merawat Rino.
Ternyata dokter Ferdian, dokter Ferdian adalah Kakak kelas Noa waktu di SMU. Ferdian salah satu siswa cerdas di sekolah, aktif di organisasi palang merah remaja. Di organisasi palang merah Remaja itulah Noa mengenal Ferdian, lalu Mereka dekat dan akrab hingga saat ini.
Ferdian mengatakan bisa bertemu jam 8 malam. Noa pun berbicara pada Sonya, bahwa nanti malam Sonya bisa bertemu dengan dokter Ferdian, Sonya bisa menanyakan semua tentang keadaan Rino saat ini kepada dokter Ferdian.
***
Sonya mengucapkan banyak terima kasih pada Nenek Tiara dan Noa atas bantuannya, kemudian Sonya pamit, ingin kembali ke rumah Mertua mengemasi barang-barangnya kemudian akan mencari tempat kost yang dekat dengan rumah sakit.
Sebenarnya Nenek Tiara dan Noa menawarkan akan mengantar Sonya, namun Sonya tidak mau diantar karena sudah sangat merepotkan.
Setelah meminta alamat dan no ponsel dokter Ferdian, Sonya naik taxi menuju rumah Mertuanya.
Tiba di rumah Mertuanya, Ia lalu mengemasi barang-barangnya, Ia berpamitan dengan pihak Keluarga Rino yang sudah kembali ke rumah Rino.
Naik taxi yang sudah di pesan, Sonya lalu mulai berselancar di sosial media, mencari info tempat kost terdekat dengan rumah sakit.
Setelah menemukan tempat kost, Sonya meminta sopir taxi untuk mengantarkannya kesana.
****
Sonya pun melihat keadaan tempat kost tersebut, bersih dan terawat, tidak sembarangan bisa menerima tamu baik tamu Pria atau pun tamu Wanita.
Setelah membayar sewa untuk beberapa hari, Sonya duduk di teras sambil menunggu ruangan kamarnya di bersihkan.
Pemilik tempat kost ini sangat ramah dan sopan, Sonya di berikan minuman teh hangat, beberapa kue dan camilan.
Setelah 30 menit berlalu Sonya pun bisa menempati ruangan kost tersebut. Di rebahkan tubuhnya, ingin rasanya menangis, menjerit dengan sekuat-kuatnya namun apa daya rasanya tak mungkin. Biarlah kesedihan ini dan kepedihan hati ini ku pendam saja. Untuk apalagi menangisi nya.