
Hujan gerimis membasahi kota kembang, cuaca yang dingin membuat Sonya merasa mengantuk, tapi pesan singkat yang baru saja di kirim oleh Niko membuat Sonya mengurungkan niatnya untuk tidur lebih cepat.
Sementara Mami, Papi dan Raffael sedang pergi ke acara tasyakuran kerabat dekat Papi.
Bik Heni dan asisten baru Mba Juni sedang membuat lontong mie kesukaan Raffael dan lontong isi oncom pedas kesukaan Bik Heni dan mba Juni tentunya.
*
" Ting tong, " suara bel rumah berbunyi. Juni sedikit berlari menuju pintu, membukanya lalu mengucapkan " selamat malam Tuan, mau bertemu dengan siapa? "
" Selamat malam Mba, Sonya ada? "
" Ada, mangga Tuan silahkan masuk, " Juni pun segera menuju kamar Sonya, belum sampai ke kamar Sonya, Juni melihat Sonya sedang berada di ruang keluarga menonton televisi.
" Punten Non, ada tamu di depan, " ucap Juni sambil berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman.
Sonya pun beranjak menuju ruang tamu, " hai Niko, udah lama kah? " sapa Sonya pada Niko
" Sonya, gak kok baru saja tiba, "
" Mau minum apa nih? "
" Udah nyantai aja, gak usah repot-repot, air kolam ikan di depan kan buanyak, heheeheee, "
" Beneran nih! Aku ambilin ya, "
" Heeheeee, boleh deh kalo memang tega, "
" Hahahaahaa, Sonya dan Niko pun tertawa bersama.
**
Tak lama Juni membawa baki yang berisi minuman hangat yaitu teh & kopi.
" Anu maaf anon, Mba bingung mau buatin minuman apa! jadi Mba buatin teh dan kopi, "
" Iya gak papah Mba, makasih ya, "
" Iya Non "
" Silahkan di minum Nik, "
" Oh iya ini, ada cookies buatan Kakak Ipar, semoga Kamu suka! "
" Waah, jadi ngerepotin nih! "
" Gak lah, Kakak Ipar yang buat "
" Sekali lagi makasih ya Nik "
" Sama-sama can..., eeh Sonya "
Hampir aja kelepasan kata " cantik ", wajah Niko memerah karena salah tingkah.
Mereka pun ngobrol dengan santai, sampai pada akhirnya Niko tahu kalau status Sonya adalah Janda tanpa Anak.
Meski status Sonya seorang Janda itu tak membuat Niko mengurungkan niatnya mendekati Sonya.
Karena hari sudah semakin malam Niko pun pamit pulang, setelah Niko pulang Sonya langsung menuju kamarnya dan tak lama Ia sudah tertidur pulas.
Keesokan pagi nya usai melaksanakan shalat subuh, Sonya sudah mandi dan bersiap-siap berkelana melihat-lihat rumah yang akan Ia pilih sebagai tempat tinggalnya.
Setelah sarapan pagi Sonya langsung menuju garasi mobil, tak lama pergi mengendarai mobil, membelah jalanan kota kembang yang masih lumayan lancar.
Sonya sengaja pergi pagi-pagi karena Ia ingin tahu, perumahan mana yang suasananya nyaman, apalagi suasana di pagi hari seperti ini.
Setelah meninjau ketiga lokasi rumah yang sebenarnya jaraknya tidak begitu jauh akhirnya Sonya memilih diamond residance sebagai tempat hunian barunya.
Memilih rumah no. 21 yang diapit Tetangga kanan dan kiri, yang hanya di pisahkan tembok yang tak terlalu tinggi, sehingga antara Tetangga yang satu dengan Tetangga yang lain masih bisa saling menyapa walau hanya dengan senyum dan anggukan.
Sonya segera menyelesaikan proses pembelian. Karena dalam satu bulan kedepan Ia ingin pindah ke rumah tersebut.
Saat Sonya akan masuk kedalam mobil, seseorang memanggil namanya, Ia pun menoleh, " Sonya apakabar sedang apa Kamu disini? "
Sonya sepertinya lupa dengan seseorang yang baru saja menyapa nya karena sosok Pria tampan yang ada dihadapannya memakai kaca mata hitam dan masker.
" Dokter Ferdi? " ucap Sonya ragu-ragu
" Ferdian "
" Oh iya sorry dok, kabarku baik, Aku lagi liat-liat rumah, siapa tau ntar ada rejeki nomplok bisa beli, " Sonya tertawa tipis-tipis.