MENANTU

MENANTU
BIMBANG



BAB.1.BIMBANG


Mungkin banyak yang berfikir menjadi menantu hanya sekedar menjadi istri dari anak orang lain.


Tampa iya sadari banyak tanggung jawab dan kewajiban yang harus dipikul dan dimengerti.


Memang benar,tentang apa yang dikatakan oleh sebuah kalimat yang membuatku tertegun dalam.”hidup itu kehendak Allah,kita yang jalani dan orang lain yang mengomentari”.


Kalimat itu membawaku pada sebuah kesabaran yang sangat terpaksa.semenjak aku menjadi seorang menantu dikeluarga suamiku,aku merasa banyak hal yang harus aku was-waskan.bukan karna ketidak bahagiaan.aku adalah orang paling beruntung memiliki mertua berhati malaikat,seperti mertuaku.


Namun,aku terlalu buruk...!!


Menantu yang hadir dengan memaksa keadaan yang akhirnya menghasilkan penyesalan.


Sebut saja...nama suamiku AZIZ.aku dan mas Aziz sudah saling mengenal dan saling mengasihi dari sejak kami memulai bangku menengah.


Mulai dari cinta mobil-mobilan,cinta monyet,hingga saat ini berubah menjadi cinta suami istri.selama itu...hubungan kami tak pernah disukai oleh ayah tiriku,ayah tiriku adalah tantangan terbesar cinta kami.


Dia sangat menjagaku berharap aku mendapatkan seseorang yang mampu membahagiakanku,dia berfikir orang seperti mas Aziz takkan mampu membahagiakanku.sebab,dia tidak sekolah,seseorang yang tak punya pendidikan takkan punya masa depan yang terang.


Namun,untukku...aku berfikir cinta itu harus apa adanya,dan mas Aziz adalah orang yang tulus.karna dari sejak iya mengenal wanita aku adalah satu-satunya perempuan yang ada dihatinya.


Aku sangat keras kepala menganggap tentangan dari papa adalah kekejaman,padahal..,itu hanyalah hati seorang ayah yang menginginkan putrinya bahagia.aku tak sadari itu dari awal...papa..,adalah orang paling mulia dalam hidupku,telah bersedia menghujani aku dengan kasih seorang ayah yang ayah kandungku gak bisa berikan padaku.


Bodohnya aku.,sebagai anak tak tau terima kasih malah menganggap semua kasih sebagai perilaku negatif.


Papa..,maaf...sudah mengecewakanmu dan tak bisa membalas kemuliaan hatimu.


Rasanya aku ingin melontarkan kata itu.namun,sudah malu untuk saat ini.


Penyesalan sudah melumuri seluruh liku-liku hidupku.


Malam itu..,sebelum kami menikah...setelah bertahun-tahun aku dijauhkan dari mas Aziz,akhirnya iya menghubungiku dengan pesan singkat iya memintaku untuk bertemu.


“Rinaya...rinduku tak bisa terbendung...ingin bertemu denganmu”


Ujarnya dengan belas asih..membuat runtuh semua tembok-tembok hatiku.


Namun,wajah marah papa sudah tergambar dibayanganku membuatku tak berani berbuat apa-apa.


“yaallah...harus kemana aku himbaskan rindu,harus kemana aku lampiaskan cinta,bukankah semua rasa datang dari kuasamu.lantas...,kenapa cintaku ini seakan tak pantas mendapat izinmu.


Yaallah...jika memang dia jodohku tolong tunjuk kuasamu,berilah kami jalan agar bersatu.


Yaallah...jodoh itu adalah takdir darimu.


Jika memang dia jodohku dekatkan aku dengannya,hancurkan semua tembok dan puing-puing penghalang agar kami bisa saling menggenggam tangan.


Namun..,jika tidak..jauhkan kami dan sirnakan segala rasa dihati kami agar kejamnya rindu dihati kami tidak menyiksa lagi.”


Begitulah hati slalu berdoa..


“rinaya....!!”


Satu pesan lagi datang meminta balasan dariku.


“aziz...”


Jawabku,saat itu tutur sapa belum ada diantara kami,hanya sekedar memanggil nama.


“rinaya..tak bisa bertemu denganku..!!??”


“maaf ziz..Naya tak berani..”


“kenapa...???”


Tanyanya,dia sangat polos,tak tau permasalahan,karna tak pernah kubiarkan dia tau soal tentangan dari papa.


Aku gk mau kalau sampai dia tau,takut...kata-kata papa akan menyakitinya.


“ri...aku janji tak akan berani menyentuh,rinaya tak perlu takut”


“bukan takut Aziz...!!,kita tak muhrim,saling bertemu dilarang agama..”


Jawabku,pura-pura baik seakan menjadi topeng rinduku.


“kuajak adikku ri..biar kita tidak berdua,asal aku bisa melihatmu saja,sudah cukup...!!”


“Maaf Aziz...tetap tidak bisa..!!”


Aku kecewakan dia saat itu..aku tau tolakan dariku sangat menyakitinya,tapi asal tau hatiku jauh lebih sakit.sebab,hasrat aku paksa jatuh.


Aziz...bukan apa-apa..hanya saja aku bukan yang terbaik untukmu.kau baik...walau tak punya apa-apa ,ketulusanmu tak ada yang bisa tandingi.


Selama hidup,aku tak pernah mencari apa-apa selain ketulusan,karna itu kau buatku sudah cukup.tapi aku tak berdaya,hidupku dibawah tangan seorang ayah tiri.katanya tiri jauh lebih kejam dari pada apapun.walau aku tau papa sama sekali tidak kejam atau jahat.tapi aku tetap tidak berani menentangnya.


Ajakan Aziz..membuat fikiranku kacau,yang ada hanya bagaimana cara agar aku bisa bertemu dengannya.


Jika aku temui aku yakin akan menjadi masalah yang besar,sebab...menentang sesuatu yang tidak boleh dikeluargaku dianggap sebagai kejahatan yang tak bisa diampuni.


Aku anak tiri,sudah jelas ringan tangan seorang ayah sudah menjadi pangan sehari-hari.


Terlalu sulit dijelaskan tentang apa yang menjadi penghalang perasaanku.


Sampai akhirnya terlintas difikiranku untuk mengambil jalan nekad.seribu kali fikiranku berkelahi dengan hati...tetap saja hatiku menginginkan kebersamaan dengan orang yang dicinta.


Hari itu...kuajak adik Perempuanku untuk menemuinya kerumahnya,


“Li..jangan sampai ibu dan ayah tau ya kakak temui mas Aziz..”


Pintaku padanya untuk berjanji merahasiakan rencana ku


“oke....”


Jawabnya singkat,namun, dihati masih ragu Lia bukan orang yang bisa dipercaya.kebanyakan dari sifatnya yang aku tidak suka termaksud tidak bisa dipercaya.


Sengaja aku bawakan buah,supaya kedatanganku tidak bertangan kosong.


Gugup sepanjang jalan yang aku rasakan seakan membuatku gentar,takut orang tuanya tak suka dengan kedatanganku.atau bisa saja kedatanganku dianggap tidak pantas.


“buruk tidak ya...seorang perempuan mendatangi rumah seorang laki-laki”


Kata hatiku...


Sejenak aku hentikan perjalananku,membuat adikku bingung


“kenapa kak...???”


Jawabku dengan suara yang sangat dingin.


Kemudian aku lanjutkan lagi,dan rasanya rumah itu semakin mendekat saja.


Dari kejauhan aku sudah melihat banyak anak-anak muda duduk nongkrong didepan rumahnya,mungkin saja temannya,teman abangnya,atau sekedar anak muda yang bermain mencari pergaulan.


Keramaian itu malah memicuku untuk berputar balik,aku malu,dan takut orang-orang berfikir buruk.


“Rinaya....kenapa malah pergi...???”


Tanya Aziz melalui pesan singkat diponsel genggamku yang ternyata sudah melihat kedatanganku terlebih dahulu,membuatku malah bertambah malu.


“tak apa Aziz...hanya malu saja dirumahmu ramai sekali..”


Jawabku...


Kemudian aku lihat kebelakang,sudah ada Aziz yang mengejarku,


“Ri...ayok kerumahku..”


Katanya mengajakku


“tak usah ziz.,aku pulang saja..”


“jangan begitu...ibuku sudah menunggu..,adik-adikku juga...,pasti mereka kecewa kalau kau tak jadi datang”


Akhirnya kuberanikan diri untuk ikut dan masuk kerumahnya.


Kulihat selembar tikar sudah terbentang dan Aziz menyuruhku duduk disana,lalu ibunya datang membawakan minuman hangat untukku.


“minumlah ri...beginilah rumah ibu..”


Ujarnya ramah sekali membuatku,tersipu malu.


“Rinaya...kenapa diam saja..minumlah..”


Sahut Aziz pula


Kupandangi saja seluruh rumahnya,mungkinkah rumah itu suatu saat mampu menerimaku,atau rumah itu akan sempit jika didatangi oleh wanita yang tak elok sepertiku.


Kupandangi pula wajah orangtuanya...bisakah mereka suatu hari menjadi orang tuaku,memaklumi semua sikap dan sifat burukku,atau aku akan menjadi yang paling terburuk dan yang paling dibenci.


Kulihat pula keceriaan adik-adiknya,mereka pasti akan susah menyesuaikan diri denganku.


Semua fikiran kalutku membuatku minder dan berfikir untuk menjauh saja dan tak berharap lebih.


“Ri...”


Panggil aziz mengejutkan lamunanku..


“kenapa diam saja...”


Tanyanya,aku hanya menggeleng saja.


“aziz ini buah aku belikan untukmu,semoga kau cepat sembuh”


Ujarku ramah sambil mengulurkan buah pada aziZ,yang sebenarnya saat itu iya sedang sakit.


“rinaya..sudah kelas berapa..?”


Tanya ibunya..


“Sudah kelas 7 pesantren buk,baru saja tammat SMA”


“owh...aziz sering cerita tentangmu,dan akhir-akhir ini dia banyak memikirkanmu..,ibu fikir kenapa,rupanya kau sudah mau tammat”


Ujarnya,dan Aziz hanya tunduk saja dengan pembicaraan ibunya itu.


“Bang Aziz ingin meminang kakak sebelum memutuskan kekuliahan”


Ujar adiknya membuatku terkejut dan merasa sangat gugup.


Wajahku langsung memucat saat itu juga,ntah apa yang harus aku jawab dan sikap apa yang harus aku tunjukkan,walau sebenarnya hatiku sangat berbunga.


“Ya...kalau kalian sudah sama-sama siap ibu saranina aja kalian untuk menikah”


Ujar ibunya pula membuatku bingung harus jawab apa..


“Rinaya kuliah gak...???”


Tanya ibunya menatapku


“inshaallah Bu...”


Jawabku.


Aku lihat expresi wajah ibunya dan wajah Aziz Tampa tegang dan dingin.


“kuliah dimana ri....???”


Lanjut tanya ibunya,kembali menatapku


“gak jauh-jauh buk,maunya dekat-dekat sini saja”


Pertemuan itu membuat aku merasa sekidit tidak enak,rasanya sebagai perempuan aku terlalu nekat untuk menemui pria kerumahnya.


Namun,bukan begitu maksudku,aku hanya ingin melihat bagaimana respon keluarga Aziz kepadaku,ternyata sangat bertimbal balik dengan keluargaku,mereka sangat ingin aku segera menikah dengan aziz sementara keluargaku sama sekali tidak mendukung jika aku bersama dengan Aziz.


Aku teringat dengan ucapan papa Minggu lalu ketika tau aku dan Aziz mulai dekat kembali setelah sekian lama.


“Ingat RI...mencari calon suami yang mampu membahagiakanmu yang bisa membimbingmu kejalan yang benar,kalau laki-laki yang tidak berpendidikan...bagaimana dia bisa menjamin kehidupanmu.”


Aku muak papa slalu saja bicara seperti itu,dia slalu merendahkan Aziz,padahal dia tidak kenal aziZ.


“ Apa salahnya sih papa tidak mencampuri urusanku”


Ujarku kesal dalam hati


“Diakan cuman ayah tiri..”


Sambung hatiku,menunjukkan keras kepalanya aku


Kadang aku benci,dengan sikap papa yang slalu mengekang ku,aku gak nyaman,karna menurutku dia hanya ayah tiri tapi slalu mengatur aku.