MENANTU

MENANTU
ENAM PULUH DELAPAN



Setelah memeriksakan kehamilannya Sonya dan Ferdian mampir di salah satu cafe langganannya, Sonya sudah tidak sabar ingin menyatap mie goreng kepiting kesukaannya.


Ia menahan air liurnya saat mencium aroma mie goreng kepiting yang di bawa oleh seorang Pelayan.


" Silahkan Kak, " ucap Pelayan tersebut dengan ramah dan sopan.


" Terima kasih, " ucap Sonya dan Ferdian hampir bersamaan.


" Istriku, hati-hati masih panas! " ucap Ferdian.


" Hmmmm...., "


Sonya dan Ferdian pun menikmati makanan yang sudah Mereka pesan. Tanpa Mereka sadari sepasang mata menatap keduanya dengan tatapan pilu, tatapan penuh kesedihan dan kehilangan.


* Sonya, Kau tampak bahagia, bahkan kini Kau sedang hamil.


Mungkin benar kalau Aku yang mandul selama ini*! Rino terus menatap Sonya dan Ferdian.


Tidak ada tatapan kebencian, tidak ada sorot amarah yang ada tatapan kesedihan dan penyesalan karena telah membuat Sonya menderita selama menikah.


Rino segera meninggalkan cafe, Ia memberikan beberapa lembar uang kepada Pelayan, saat Pelayan memanggilnya Rino tak menghiraukannya.


Air matanya kini menetes ada banyak penyesalan dan rasa sakit yang tersisa disana.


*Mama telah salah, beliau bahkan memberi gelar Sonya Perempuan mandul, tapi semua nya kini terbukti, Sonya kini sedang hamil, bahkan terlihat sebentar lagi akan melahirkan.


Arrrrggghhh.... mengapa bukan dengan Ku, kenapa harus dengan Orang lain, dan bukankah itu dokter Ferdian?


Mengapa harus dokter itu yang menjadi Suami Sonya! bukan kah Dia yang telah menyembuhkan Ku*!


" Praaangg, " Rino melempar cermin dengan ponsel nya, serpihan kaca bertebaran dimana-dimana, ponselnya pun sudah pecah ikut berhamburan di lantai.


Ia segera membersihkan serpihan kaca yang berserakan. Rino pun pergi meninggalkan sekolah Seninya, Ia berniat untuk pulang ke rumahnya.


Hari sudah larut malam, Mang Juki segera membukakan pagar, Rino memarkirkan mobilnya menuju ruang kamarnya, yang sengaja di buat terpisah dengan ruangan rumah utama.


Rino sengaja memisahkan ruangan tidurnya, agar saat Ia pulang dan pergi tidak menganggu kedua Orang Tuanya.


Di ruangan tidurnya juga terdapat, pantry, ruang tv dan ruang kerja. Rino lebih banyak menghabiskan waktu di ruangannya sendiri.


Apalagi Rafka Adik Bungsu nya berserta Anak dan Istri sedang datang dan menginap di rumah, Rino tak mau menganggu ketika Rino pulang tengah malam.


Rino duduk sambil menyesap dalam-dalam kini hanya secangkir kopi dan rokok yang menemani rasa sakit yang tak berujung.


Tanpa sadar hingga pagi menjelang Rino masih tertidur di kursi tepatnya di balkon ruang kamarnya.


Rino terbangun karena jam bekernya berbunyi. Hari ini Ia ada janji bertemu dengan salah satu investor yang akan ikut bergabung di sekolah seni nya.


Merentangkan kedua tangannya, mata nya terhenti ketika melihat seorang Wanita yang hingga sampai detik ini masih di cintai nya.


Sonya, ternyata Kita bertetangga, tampak dari kejauhan Sonya sedang berolah raga. Perutnya yang buncit tak membuat tampilannya jelek. Justru Sonya makin cantik dengan tubuh yang berisi seperti itu.


Rino terbuai dalam kenangan masa lalu yang indah bersama Sonya. Ia bahkan lupa kalau hari ini ada janji.


Aiman yang sedari tadi menghubungi ponsel Rino tapi tak terhubung, segera mengambil alih pertemuan tersebut. Aiman adalah orang kepercayaan Rino, Ia yang selama ini mendampingi Rino.


Tiga puluh menit berlalu Rino baru sadar kalau Ia ada janji, tapi Ia kembali menatap ke arah rumah Sonya, tapi Sonya sudah masuk ke dalam rumahnya.


Kenapa Aku baru tahu kalau Aku dan Sonya bertetangga, Rino banyak bertanya pada Mang Juki karena dulunya Mang Juki sebagai anggota keamanan perumahan, sebelum Ia bekerja di rumah Rino.