
POV Bima
Aku melihat perubahan besar pada Istri malam ini, meski tampak malu-malu sekarang Nay sudah berani seliweran dengan menggunakan handuk mini nya, yang hanya bisa menutupi setengah bagian aset nya yang menyembul sempurna.
Sudah berminggu-minggu Aku menahan desakan dari bawah sana. Seperti nya Aku tidak dapat lagi menahan nya. Meski Aku berusaha menunggu sampai Istri siap melakukannya.
Benar-benar sudah di ubun-ubun rasanya.
" Nay, Kamu sengaja mengoda Ku ya?" ucap Bima sambil berjalan mendekati Istrinya.
" Eng.... gak Mas! Nay lagi sesuatu" wajah Nay terlihat merah merona bak buah Cerry di atas cake ultah.
Nay segera masuk ke ruang ganti pakaian memilih dress selutut dengan potongan bahu yang lebar.
Sementara Bima saat ini sedang berbaring, menahan sejuta gejolak yang semakin membumbung tinggi.
" Mas, Kita makan dulu yuk!"
" Iya, sebentar lagi ya Nay, kepala Mas pusing nih!"
Nay mendekat pada Bima, " Apa Mas sakit?" Nay menyentuh kening Bima tapi tidak merasakan panas.
" Mas tidak sakit hanya sedikit pusing!"
" Apa Nay ambilkan saja makanannya?"
" Gak usah Sayang," tangan Bima menarik lengan Nayaka, hingga Nay jatuh tepat di depan dada Bima.
Bima mencium puncak kepala Nay, aroma yang sangat menenangkan, Bima kemudian merubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang.
" Nay, Mas mau makan sekarang?"
" Bukan makan nasi, tapi makan kamu, boleh ya? Mas udah gak kuat lagi"
Jantung Nayaka berdegub kencang, berloncatan kesana kemari, Ia hanya bisa mengangguk pasrah. Bima dengat lembut mencium bibir Nay, memperdalam sesapan nya hingga Nay merasa sekujur tubuh nya bagai tersengat aliran listrik.
Tangan Bima mulai gesit melepas pakaian yang di kenakan oleh Nay, mata Bima menantap takjub saat lingerie berwarna merah maroon kini melekat di tubuh istrinya.
Susah payah Bima menelan saliva nya. Pemandangan di depan mata nya sungguh indah. gejolak nya semakin membumbung tinggi, menuntun Bima untuk segera memasuki sarang yang selama ini Ia inginkan, bergerak perlahan karena tak ingin menyakiti sang pemilik sarang. Memperdalam ciumannya untuk mengalihkan rasa sakit saat Ia masuk menembus sarang yang masih rapat terkunci.
Dua aset indah jadi jadi sasaran empuk, silih berganti Ia sesap bagai seorang Bayi yang kehausan. Nay melenguh tanda menikmati penyatuan ini.
Air mata yang menetes kini berganti suara-suara lenguhan yang menggema di ruangan kamar ini. Menjadi saksi bahwa keduanya telah menyatu dengan rasa cinta dan kasih.
Keduanya saling berpelukkan saat melepas penyatuan pertama kali.
Tak cukup sekali bagi Bima yang saat ini masih kelaparan, Ia menyusuri tiap jengkal tubuh indah yang telah halal Ia sentuh. Menghujamkan kembali sesuatu yang mengeras, rasanya terjepit dalam sarang yang hangat dan sempit.
Pusaka nya menggeliat kesana kemari, merasakan sensasi nikmat yang akan menjadi candu mulai malam ini.
Sementara Nay masih merasakan nikmat bercampur nyeri.
Satu jam berlalu setelah menyatu, keduanya menikmati makan malam, susah payah Nay berjalan menahan perih, Bima tak tega lalu mengendong Nay untuk sampai ke meja makan.
Bima makan sangat lahap, Ia butuh stamina lebih untuk melanjutkan genjatan senjata malam ini.
" Pelan-pelan makannya Mas! "
" Iya sayang, Mas butuh asupan gizi yang banyak untuk melanjutkan pertempuran"
Nay hanya bisa meringis, membayangkan tubuhnya akan kembali di jelajahi tiap inci.