MENANTU

MENANTU
KESERIUSAN



BAB.2.KESERIUSAN.


Aku sudah yakin dari awal kalau Lia benar-benar tidak bisa dipercaya.diam-diam dia ngadu sama papa soal kedatanganku kerumah Aziz.


“Rinaya...!!”


Panggil papa dengan sangat marah mendengar pengaduan Lia.


“Apa pa...???”


Tanyaku dengan nada santai seakan aku sudah sangat siap dengan amarah papa.


“Dari mana kau kemaren..??”


Tanya papa lantang.


Aku hanya diam saja tak berani menjawab.dihatiku hanya ada rasa marah yang sangat besar terhadap lia.rasanya aku ingin sekali menghabisinya saat itu juga.


“Rinaya..kau tau papa tidak suka kan dengan dia...??”


Katanya lantang sambil Membentak-bentak.


“pokoknya papa gak izinkan kamu lagi temuin dia ya ri..”


Ujaarnya..


“memang kenapa pa...??!”


Tanyaku tegas memberanikan diri.


“dia gak jahat kok pa...gak pernah macam-macam juga sama aku,dimana kesalahannya kalau aku sama dia pa.”


Mendengar lantang perkataan ku,membuat papa sangat marah,lalu menamparku dengan keras.hatiku jadi sangat bergejolak,hancur dipenuhi dengan dendam.


“ini semua karna Lia!!!”


Kata hatiku kesal menatap Lia disisi rumah yang lain,aku lihat wajahnya seakan sangat menikmati pemandangan saat itu.


“Kau masih sekolah rinaya papa mau kau fokus sama sekolahmu.lagian laki-laki yang kau suka itu bukan orang yang sekolah dia hanya akan membuat sekolahmu rusak saja.


Kalau tidak mending kau tak usah sekolah biar papa tak akan pernah larang kau sama dia...


Kau mau rinaya..??berhenti saja kau sekolah...!!!”


Ujarnya yang terus saja menceramahi aku.


Tak lama setelah itu ceramah pun berhenti setelah berjam-jam kemudian.papa menyuruhku untuk istirahat kekamar.


Kadang aku tau papa begitu hanya bentuk kepedulian dan perhatiannya saja.tapi tetap saja aku merasa papa berlebihan.aku senang papa peduli tapi aku gak suka papa main tangan disetiap kesalahanku.


Aku memang anak tiri tapi bukan berarti harus ditangani terus-terusan,itu yang membuat aku merasa gak nyaman ada dirumah.


“aku janji jika nanti aku punya anak apalagi itu anak perempuan aku gak akan pernah nanganin dia”


Itulah kata batinku...


Semoga saja Allah slalu melindungi aku dari kekejaman tangan yang panas.


Tak lama kemudian datang sebuah pesan singkat diponsel genggamku,pesan itu jelas dari Aziz


“ri...berapa mahar yang kau inginkan...??”


Katanya membuatku yang galau menjadi terhibur..


“maksudnya apa...??”


Tanyaku dengan kesan cuek agar Aziz tak berfikir kalau aku terlalu berharap padanya.


“aku mau melamarmu pesek...!!!”


Katanya langsung memberiku panggilan kesayangan.membuatku tersipu malu.dan kejadian yang baru saja terjadi itu seakan tak terjadi sama sekali.


Sengaja pesannya tak aku balas apa-apa.agar dia penasaran dan terus-terusan mengirimi aku pesan.


“rinaya..”


“Pesek”


“Rinaya..kau maukan nikah sama aku...??”


Tanyanya mendesakku.


“ri...15juta sudah cukup untuk memaharinmu..??”


Tanyanya lagi.untuk orang kampung sepertiku itu sudah sangat normal dan pantas.aku senang aziz kelihatan sangat serius denganku.


Akupun ceritakan semuanya kepada ibuku.


“Bu...Aziz itu serius denganku dia bahkan sudah menanyai aku siap nikah dengannya atau tidak..


By...kenapa Aziz tak boleh bersamaku,aku bisa terima dia apa adanya,walaupun dia tidak berpendidikan aku gak masalah Bu.”


Ujarku pada ibu


“Semua itu terserah padamu,ibu tak pernah larang,kalau kau merasa dia orang yang baik,silahkan saja.”


Jawab ibu membuatku lega,ternyata hanya papa saja yang menentang keras.


“lalu kenapa buk papa sangat marah kalau aku dekat dengan Aziz...?”


Tanyaku


“itu hanya karna kau masih sekolah,papamu takut jika sampai sekolahmu gagal”


Jawab ibu menatapku,


“dia sudah bertanya apa aku mau menikah dengannya tapi aku masih sangat ragu karna papa gak suka kalau aku sama dia .”


Jawabku ibupun tertunduk


“kalau kau memang suka sama dia tak perlu kau dengarkan papamu,yang penting kau fokuskan dulu sekolahmu,ibu gak berharap banyak yang terpenting sekolahmu tammat dan papamu juga gak akan bisa larang kalau memang dia yang kau mau...”


Mendengar jawaban ibuk aku sangat senang sekali.dan langsung mengirim pesan pada aziZ untuk membalas pesannya tadi yang sampai saat ini pesannya tak kunjung kubalas.


“Aziz...jangan main-main...aku gak suka..”


Jawabku lantang agar dia serius.


“Aku serius ri...aku gak pernah main-main ri...apa rinaya belum percaya juga kalau aku itu cuman mencintai rinaya


Rinaya satu-satunya perempuan yang aku kenal


Kalau rinaya gak percaya juga,rinaya tanya aja sama mamakku...”


Jawabnya dengan meyakinkanku.


“aku masih sekolah ziz,belum mau diganggu”


Jawabku,masih dengan nada cuek.


“Aku tunggu ri...aku cuman nanyak supaya aku bisa nabung,itu saja..”


“Yaudah...,”


“Jadi berapa maumu”


“Terserah...!!!”


“rinaya..tolonglah aku serius”


“Yaudah aku gak mau kurang dari 15 JT”


Jawabku sempele,aku yakin Aziz juga gak akan seserius itu.mungkin dia juga hanya membuatku terlalu berharap padanya.


Aku tau memang dia hanya mencintai aku dan aku juga tapi kalau dia bukan jodohku gimana,aku takut berharap dengan sesuatu yang belum pasti,apalagi dengan posisi papa belum suka dengan kedekatanku dengannya.


Terkadangkan semua yang kita inginkan itu belum tentu jadi milik kita.kalau kita terlalu berharap tiba-tiba dia pergi dengan orang lain apa itu tidak akan menyakiti.


Apalagi itu hanya sekedar janji,janji adalah sesuatu yang memastikan Tampa bukti,jadi jangan pernah berpegang pada sebuah janji,banyak orang yang jatuh pada kekecewaan sebab iya percaya dengan janji.


Memang benar,aku ingin sekali tidak percaya dengan apa yang dijanjikan Aziz padaku,namun..,harapanku terhadapnya membuatku sebenarnya percaya didalam hati..


“Apa mungkin aku wanita yang mudah digampangkan.”


Begitulah takutku...bagaimana kalau dia hanya menggampangkan ku saja,apalagi kalau aziz itu adalah laki-laki yang tidak disukai oleh orang tuaku.


Apa mungkin kami bisa bersatu...


Aku berharap sekali Aziz dan aku bisa bersatu,aku slalu merasa kalau sosok aziZ seperti rumah untukku kata orang suami adalah tempat pulang dari lamanya perjalanan,sebab...dialah yang akan menjadi pendamping selamanya bahkan sampai kesyurga.


Nyaman,tenang,dan merasa dunia luas selalu aku rasakan jika aku berada disamping aziZ.ketulusannya slalu saja membuat aku bahagia.rasanya aku tak butuh apa-apa jika bersamanya.