MENANTU

MENANTU
COBAAN2



COBAAN 2.


Dua bulan aku tinggal diasrama.gak nyangka hatiku damai sekali,rasanya hidup muram dirumah lenyab.


Dan besok adalah waktu libur kami,aku diizinkan pulang dan diingatanku kembali teringat wajah Aziz.


Sudah ku rencanakan apa saja yang akan aku sampaikan pada aziZ.


Dengan semangat aku siapkan semua barangku dan siap pulang.


“Cie...senangnya yang akan pulang...!!”


Ejekan Sanah yang melihat semangatku menyiapkan barang.


Aku hanya tersenyum malu saja.


“Pasti dia sudah rencanakan mau bicara apa sama pujaan hatinya


Kang azizz...nay rindu sekali....


Hahaha...”


Ejekannya sangat membuatku malu dan langsung membalas ejekannya dengan mengkritikinya dan tak ampuni dia dengan mudah.


“ampuunn nay...”


Jeritnya tak tahan dengan keritikanku


“Masih mau ejekin aku...!!??


Hah..!!!”


Tanyaku lantang


“Nggak nay...ampun...oke..aku gak ngejek lagi.”


Keesokan harinya aku kembali kerumah dan untuk pertama kali aku senang datang kerumah itu semua hanya karna aku sangat merindukan Aziz.


“Assalamualaikum..”


“Waalaikum salam”


Ibu menyambutku dengan wajah yang dingin membuatku bingung


“mungkin lagi berantam dengan papa..!!”


Sangkalku dalam hati,dan untuk tidak memperpanjang masalah aku langsung kekamar dan meninggalkan ibu dengan wajahnya yang musam.


Langsung aku lemparkan tasku dan segera aku buka lemari tempat aku menyimpan ponsel genggamku.


Dan alangkah kagetnya aku ponselku tak ada disana


“Pasti papa...papa pasti mengambil ponselku..!!!”


Ujarku dalam hati sangat kesal.


“Apa nay...kau sedang mencari hp...!!??”


Suara kesal tiba-tiba saja terdengar mendekati pintu kamarku dan itu tak lain adalah papa,papa melemparkan hpku padaku dengan kasar.


Aku hanya bisa terdiam..


“Cari masalah apalagi dia..!!”


Hantamku dalam hati yang menahan kesal tak bisa berbuat apa -apa.


“kau lihat kan Mak...bagaimana kelakuan anakmu itu..?”


Sambungnya mencoba mengajak ibu menjelekkan aku..


Akupun hanya menggeleng saja dengan sandiwara drama yang menyebalkan menyambut kepulangan ku setelah dua bulan diasrama.ternyata aku tak boleh berharap sedikitpun untuk mereka bersikap baik dan adil terhadapku.


Bukannya merindukanku malah menungguku pulang agar bisa dimarahi kembali.


“yaallah...apa sebenarnya rahasia semua takdir dari mu ini...?”


Tanyaku menyalahkan Tuhan tentang semuanya.


“dengar kau nay...kalau kau terus membantah begini mulai dari besok kau tak usah lagi sekolah”


Sambungnya yang masih saja membentak-bentak seakan dia juga tak bisa puas hanya dengan membentak.ntah mungkin sebentar lagi dia akan menamparku,menunjang ku,atau mungkin sampai aku mati baru dia puas.


“membantah apa sih pa...aku slalu berusaha buat Jauhin dia cuman buat patuh,kalau aku gak nurut sama papa mungkin dari dulu aku tidak disini sama papa aku sudah hidup dengannya...!!”


Jawabku lantang,lantar sudah lelah dengan semuanya..dan seperti biasa karna kesal dan tak bisa menerima jawabanku secepat kilat nya dia masuk ke kamarku dan menamparku membuat aku yang sedang berdiri terpelanting ketempat tidur.


Lagi-lagi begini...kenapa dia tak pernah bisa nasehati aku dengan dingin dan tangan yang tak menampar aku.


Apa semua orang tua seperti ini,hanya bisa menampar dan membentak-bentak saja.atau hanya aku saja kenapa Allah itu tak adil.


“pergi keasrama saja kau harus pamitan sama laki-laki yang tak pantas untukmu itu...


Punya apa dia nay yang ingin hidup denganmu...dia tak punya apa-apa nay...!!


Kau tak hidup dengan ayah kandung nay...kau mau nyusahin siapa nantinya,ayahmu takkan peduli.


Papa itu sudah percaya padamu..kenapa tetap saja kau tak mendengarkan papa..


Apa kau tak kasian sama mamakmu jika sampai sekolahmu rusak..?”


Ujarnya seperti biasa menceramahi aku berjam-jam.


Aku capek kalau terus begini.semuanya menekan hati dan batinku.


Aku slalu saja dapat masalah,saat itu aku bahkan tak berani membuka hpku,aku terbaring menangis masih terasa panas tamparan kasar papa dan diluar masih diributkan dengan ceramah papa.akhirnya aku tertidur dengan lelahnya tangisanku yang membasahi bantal.


Ntah bagaimana dengan ceramah dan keributan diluar aku sudah tak peduli lagi.


“apa masalahnya sih pak kalau rinaya bersama Aziz kalau mereka saling suka biarkan saja..?”


Ujar ibu membantah..


“Bukan tak boleh Mak...boleh saja...tapi jangan sekarang..nanti...!!!kalau dia sudah lulus sekolahnya tinggal sedikit lagi.


Aziz itu bukan orang yang sekolah takutnya karna rinaya bergaul dengan orang yang tak sekolah dia jadi ikut-ikutan tak peduli dengan sekolahnya.”


Jawab papa


“Iya tapi jangan berlebihan begitu takut rinaya nanti menjadi nekad.”


Jawab mamak lagi...


“Terserah Mak yang penting aku sudah usahakan mendidik dia,dia dengar atau tidak itu urusan dia...”


Setelah berjam-jam aku ketiduran,dan keadaan diam dengan iringan waktu.ibu membangunkan ku setelah azan magrib berkumandang.


“Ri...rinaya...bangun ri...azan magrib sudah berkumandang sholatlah kau sudah meninggalkan sholat asarmu,khodolah...”


Ujar ibu membangunkan ku,kulihat wajah ibu yang dingin mungkin masalah ini membuat ibu jadi banyak giliran.


“Buk..maaf ya rinaya pulang malah menjadi masalah besar..”


Kataku dengan rasa bersalah pada ibu


“Tak apa ri...papamu memang berlebihan,tapi kau harus mendengarkan nasehatnya itu,sebab..nasehat itu tak salah ri...”


“Aku tau buk...cuman aku gak suka disetiap marah papa tak pernah lupa untuk menangani ku”


Jawabku mengutarakan kesal menatap ibu..


“ Itu sebabnya kau tak perlu menjawab cukup diamkan saja papamu.”


“Alah buk...jawab atau tidak papa tetap saja menangani ku,mungkin itu sudah kebiasaan yang tidak bisa dirubah..


Aku benci dengan suami ibu itu.. !!!”


Ujar tentanganku yang tegas membuat ibu terluka.


“Itulah sebabnya papamu harus menanganimu...kau keras kepala tak bisa diomongin ri...”


Jawab ibu kesal dengan suara yang keras padaku


Aku hanya diam kata-kata ibu sontak langsung menusuk hatiku.


Mungkin saja ibu benar aku memang salah slalu berusaha membela diri.ternyata begitulah berayah tiri tak diizinkan untuk membela diri dan menyampaikan keinginan sendiri.disetiap posisi hanya bisa diam dan tak berbuat apa-apa.


Malamnya aku datangi sahabat sekaligus saudari terdekatku Ika..


“Kara...karaaa..”


Panggilku dengan panggilan kesayanganku,sebab..,bagiku dia sangat istimewa.aku tak bertutur bukan berarti tak sopan tapi itu hanya menunjukkan bertapa istimewanya dia dalam hidup dan hatiku.aku yang langsung masuk kerumah nya begitu saja.rumah itu slalu kujadikan rumah sendiri.lantaran aku besar bersama Ika dirumah itu.


Aku tinggal bersama ibu dan papa itu masih baru-baru.hanya setelah papa menikah dengan ibu.usai ayah kandungku bercerai dengan ibu, aku dan adik kecilku ditinggal begitu saja bersama nenek.itulah sebabnya aku besar bersama nenek dan Ika adalah orang yang aku jadikan sahabat dan yang aku percayai.


Semua keluh kesahku hanya dia yang tau dan hanya dia yang mengerti.


“rinaya...”


Jawabnya berlari mengejarku dan langsung memeluk.mungkin karna sudah tak lama bertemu dia akhirnya merindukanku.


“Kenapa malam-malam kesini rinaya nanti papamu marah...!!”


Ujar nenek dengan nada menyinggung.memang nenek dan papa dari dulu saling tak suka.sering bertentangan.


“kenapa rupanya nek...??”


Jawabku lantang


“nanti kau dimarahi lagi dan ditampar”


Jawabnya


“alah itu bukan urusan dia nek...rumah nenek ini tak bisa dia sentuh”


Jawabku menunjukkan kebencian ku pada ayah tiriku itu.


“Ri...kami dengar sini kau dimarahi papamu lagi..kami kasian samamu ri...”


Ujar kara membuatku kesal mengingatkan pada hal itu.


“Sudahlah Ra...memang dia begitu kok...sudah gila..!!!”


Jawabku


“Memang ada masalah apa ri...???kok sampai seheboh gitu..”


“ Biasalah aku ketauan masih ada hubungan dengan aziz.


Sebelum keasrama dulu aku kirim pesan untuk pamitan sama aziz.cuman gak dibalas pesannya aku hapus dari hp tapi jawaban Aziz malah dibaca papa.


Aku gak nyangka saja papa bisa nemuin hpku padahal sudah kusimpan ketempat yang tersembunyi.”


“gilak kali ya hanya masalah begitu menjadi besar..memangnya kenapa kalau kau dekat dengan Aziz...??”


Jawab kara.


“alah kau menikah saja...!!,itu hanya karna papamu itu ayah tiri ada incarannya”


Ujar nenek yakin sekali dengan kecurigaannya.


Membuat kara ketawa dan langsung bicara dengan nenek


“mak jangan gitu nanti ntah tidak..!!”


Ujarnya membantah nenek


“Memang iya kok...kalau tidak apa urusannya dia kalau rinaya pacaran.rinayakan sudah besar...”


Jawab nenek pula masih kokoh dengan kata-katanya.


“nenek jujur saja nay..nenek akan tenang hidupnya kalau kau mau segera menikah...sebab,umur kebaikan ayah tiri ini gak jelas sampai dimana,dan belum tentu itu tulus.


Kalau kau menikah papamu kan gak bisa berbuat apa-apa lagi ,gak bisa ngatur kau lagi


Hidup tenang dan tinggal bersama suamimu.”


“iya nek..tapikan RI masih sekolah”


Jawabku menatap nenek yang sedang menceramahi aku itu


“Sekolah...tak perlu tinggi-tinggi nay,kau perempuan cukup sekedar bekal untuk mendidik anakmu saja nantinya.


Nenek tidak suka dengan sikap orangtuamu itu yang slalu menekanmu sesuka hati mereka


Kau ingat nay nenek yang membesarkanmu tak pernah berani menanganimu.dia siapa hanya ayah tiri yang baru datang setelah kau besar dan dulu...dulu ibumu adalah ibu yang meninggalkanmu.


Pokoknya nenek ingin kau akhiri semua kemarahan nenek ini.buat nenek tenang.setiap hari nenek khawatirkan rinaya sebab tinggal bersama ayah tiri,orang Jawa pula..!!


Kalau tidak minta ibumu untuk kembali tinggal bersama nenek saja...”


Ceramah panjang lagi yang menghantam ku.


Nenek memang orang yang paling peduli padaku lebih dari orang tuaku.