MENANTU

MENANTU
COBAAN



COBAAN.


Terlalu banyak cobaan untuk aku menjadikan Aziz sebagai pelabuhan terakhir.


Banyak yang tidak menyukai jika aku bersama dengan Aziz,termaksud teman-temanku.mereka slalu saja menganggap Aziz buruk dan gak pantas untukku.


Ntah apa salah Aziz sama mereka tapi banyak yang menjelek-jelekkan Aziz didepanku,ntah karna aku yang menyukainya.


“Rinaya...rinaya...cantik kok bodoh sih...apalah bagusnya aziz dia cuman anak tukang jahit sepatu..!!”


Ujar mereka mengejekku...aku hanya diam tak ambil hati pembicaraan mereka.


“Rinaya...Aziz itu tak punya masa depan...mau hidup pake apa kamu sama dia...???”


Kata mereka lagi,dan lagi-lagi aku hanya diam


“Nay...segitu banyak laki-laki...apa tak ada yang lain,Aziz itu bukan orang yang baik,teman-temannya aja gak ada yang baik.


Aku yakin dia itu pasti sabu-sabu,lihat aja badannya...teman-temannya,”


Mereka menuduh Tampa bukti dan alasan yan kuat,seakan mereka lebih baik dari pada aziZ.padahal itu belum tentu bisa sajakan itu hanya penglihatan mereka,sebenarnya Aziz baik.


Hati dan fikiranku seakan terkunci rapat,tidak peduli seburuk apapun mereka menilai Aziz dimataku tetap saja dia orang yang aku cintai.


Apa mungkin itu yang dinamakan cinta buta...??


Siapa saja....aku tak peduli,aku sangat percaya dengan Aziz bahkan jika dia memang bukan milikku.


Dia cinta pertamaku...


Wajah polos,senyuman manis,dan keceriaan yang dia miliki ingin sekali aku miliki.


Aziz...tempat pulang dan khayalan terindah.


Dan akhirnya aku mutusin buat masuk asrama saja,agar bisa menghindar dari aziZ.mungkin dengan begitu aku bisa lupa dengannya.


Hari pertama masuk asrama aku sangat gugup,berat meninggalkan rumah,aku sebenarnya kasian jika Aziz mencari ku.tapi apa boleh buat tak ada yang mendukung perasaanku malah semua orang seakan meruntuhkan semangatku.


“maaf aziz aku harus menyakitimu seperti ini...aku gak punya jalan lain”


Hari pertama aku habiskan waktu dengan melamun memikirkan Aziz saja.


“Rinaya...kenapa ngelamun..???”


Tanya Sanah padaku..


Dia dan Hira adalah temanku yang baik yang tak pernah memandang Aziz buruk.mereka slalu mengerti dengan isi hatiku.


“Mikirin aziZ...???”


Tanyanya lagi yang melihatku diam saja..


“Nah...salah gak aku menghilang gitu saja dari dia...??”


“kenapa gak bilang nay...”


“Aku mau jauhin dia nah..”


“lhoh kenapa...!!??karna omongan Vivi dan anis..??”


Ujarnya tegas menatapku


“nah..aku gak suka lihat orang-orang yang rendahin dia,dia itu baik lho nah gak seperti yang mereka bilang”


Jawabku...sambil meneteskan air mata,aku sedih sekali mengingat omongan orang yang menjelekkan Aziz.


Karna tak tega melihatku menangis sanahpun langsung memelukku.


“ kenapa kau harus peduli dengan omongan orang lain sih nay...kalau kau memang sayang sama dia.biarkan saja orang ngomong apa....toh jika kau bersama dia..mereka tetap gak ngaruh apa-apa kan.kau juga yang jalani.”


Ujarnya membuatku t


“ harus gimana nah....papa aku gak suka kalau aku dekat sama dia,dia dan keluarganya sudah serius denganku,mereka bahkan sudah menanyai aku,apa aku siap nikah apa belum...


Aku bingung nah....aku sebenarnya sudah tidak dihati untuk ngelanjutin sekolah kekelas tujuh.


Aku ingin menghentikan nasibku berayah tiri,aku ingin menikah supaya aku tidak lagi tinggal dirumah tiriku.


Bukan karna buru-buru nah...tapi memang dari dulu aku ingin menikah muda,karna cuman itu jalan keluar supaya aku tak lagi berada dibawah tangan ayah tiriku.


Ayahku memang tak jahat,dia tak pernah ganggu aku tapi sampai kapan nah...??aku semakin gadis..omongan orang kampung semakin menyinggung.”


Kataku mencurahkan semua isi hatiku


“Kalau begitu kenapa kau harus ragu ikuti saja isi hatimu.”


“Gak bisa nah...aku tetap menginginkan orang yang baik...supaya aku tidak seperti ibuku memiliki dua suami


Aku gak mau kalau sampai anak-anakku nanti bernasib sama denganku.


Nah...aku ingin memiliki suami satu sampai seumur hidup,takkan ada yang lain .


Aku tidak inginkan impian yang lain yang penting yang satu itu bisa ku dapatkan.”


“aku ngerti nay..kenakalan atau apapun kan bisa dirubah,aku yakin kok kau pasti bisa ngerubah Aziz kejalan yang baik”


Dari banyaknya orang Sanah malah meyakinkanku dan membuat semua keraguanku runtuh.


Setelah itu aku punya usahakan menemui buk sari..


“Assalamualaikum buk..”


“Waalaikum salam..rinaya...”


“Iya buk..”


“Masuk...!!ada apa ri...?”


“buk rinaya mau pamit pulang sebentar soalnya ada barang rinaya yang ketinggalan dirumah”


“apa tidak ada yang bisa mengantar ri..?kalau bisa diantar,antar saja inikan sudah sore.takut rinaya nanti datangnya kemalaman”


“maaf buk...tidak ada yang bisa antar.tapi rinaya janji gak akan lama gak akan sampai malam,cuman sebentar..hanya jemput barang itu saja...”


Dan akhirnya buk saripun mengizinkanku untuk pulang sebentar,walaupun hari itu aku gak jujur.sebenarnya gak ada barang yang akan aku jemput,sama sekali tak ada yang ketinggalan.


Aku hanya ingin menemui hatiku yang tinggal dirumah.


Sampai dirumah aku langsung buka ponselku dan segera aku hubungi Aziz..


Aku telvon iya dua kali tapi gak diangkat..sedikit raut wajah berubah kecewa.


Lalu kukirim pesan..


“Aziz...aku asrama”


Kataku dalam pesan itu.


Tapi pesan itu juga tak dibalas,akhirnya aku hanya bisa tunduk saja dengan menahan rasa kecewa yang besar,padahal sudah bersusah payah aku pulang agar aku bisa bicara dengannya


Tadinya aku ingin mengeluarkan semua isi hatiku kalau aku mencintainya dan siap menikah dengannya.


Sayang sekali Aziz tak ada dan akhirnya dengan berat hati aku kembali keasrama hanya meninggalkan satu pesan lagi ke Aziz


“aziz...aku asrama. Maaf ya..kalau kau hubungi aku tak bisa jawab”


Harapanku dan khayalku jatuh berlebur saat itu.aku kembali keasrama dengan wajah yang muram.


“Rinaya...barang yang ketinggalan sudah jumpa..??”


Tanya buk sari yang tiba-tiba saja muncul didepanku,dan sangat membuatku kaget


“buk sari...”


“Kok bengong sih ri..?”


Tanya buk sari heran melihat sikapku yang tak karuan


“Udah kok buk...”


Jawabku pelan dan langsung menyalam tangan lembut guruku itu.


Dan tak banyak bicara aku tinggalkan saja buk sari,dan didepanku terpandang asrama yang luas dan ramai Tampa aku sadari air mata mengalir begitu saja dipipiku.


Mulai dari sekarang tak akan ada lagi pesan Aziz yang akan aku cuekin.aku akan fokus pada asrama dan pelajaranku yang akan usai beberapa bulan kedepan.


Katanya satu hari diasrama akan terasa sebulan.bagaimana kalau beberapa bulan.


“ri...kenapa nangis lagi..”


Tanya Sanah yang melihat aku datang menangis


“Apa dia tidak ada..??”


Tanyanya lagi


“Iya nah dia tak ada,aku telvon gak diangkat dan aku pesan tak dibalas”


Jawabku..


“Sudah... mungkin dia sibuk,gak papa gak usah dipikirin Naya..”


“Iya nah..cuman aku kecewa..sia-sia aku pulang.


Tadinya aku fikir dia akan senang dengan jawabanku tapi malah dia tak ada.”


“sudahlah...mending kita kesungai yok uduk,bentar lagi kan azan magrib”


Akupun ikuti ajakan Sanah,dan mencoba meringankan hatiku yang sakit dengan berkumpul dengan teman-temanku.