MENANTU

MENANTU
BERTEMU AZIZ



BAB.5.BERTEMU AZIZ.


Setelah aku lega bertemu dengan kara dan mendapat dukungan dari nenek.hatiku ringan dari semua masalah tak ada masalah lagi dalam hatiku.


Tempat itu memang slalu menjadi tempatku untuk menenangkan diri.


Karna mereka slalu mengerti dengan perasaanku dan slalu saja menghiburku.


Setelah dirumah kara pula barulah aku berani mencoba untuk melihat pesan dari Aziz.ntah apa isi pesannya sehingga mampu menimbulkan masalah besar untukku.


“Ri...mau asrama dimana...??maaf aku tadi bantu orang tuaku jadi tak sempat melihat hp”


“Ri...”


“Rinaya....”


“ri..pesek..”


“pesekku...”


Seperti biasa dia slalu saja memanggilku berkali-kali dengan pesannya yang menyebut namaku.


“Ri...kau udah pigi ya...


Gak papa jaga diri baik-baik ya pesekku,aku sayang bangat sama rinaya.aziz akan tunggu sampai ri pulang”


Itulah isi pesan terakhirnya.dan hanya itu saja pesannya yang membuat masalah sehingga besar.


“ lihat Ra baca...hanya ini saja pesannya sampai papa begitu begitu marah tak peduli kalau aku baru saja pulang”


Ujarku pada kara sambil mengulurkan hpku padanya


“iss...sudah gila...!!


Memang benar kali ri papamu itu suka samamu jadi dia gak suka kau dekat sama orang lain..”


Ujar kara membuatku merinding


“Apaan sih Ra jangan membuatku geli dan ketakutan...”


Jawabku menentangnya


“Bisa aja kan RI diakan ayah tiri...banyak lho kejadian-kejadian buruk orang yang berayah tiri itu...jangan sampai deh terjadi juga padamu”


Ucapan kara membuatku semakin takut dan gelisah.hatiku yang tak nyaman semakin was-was saja.


Niat menikah semakin menonjol saja dari hatiku.aku memang harus menikah.takut nasibku semakin buruk saja.


Bukan hanya akan dicemoohkan oleh teman-temanku karna tak berayah tapi juga akan dicemoohkan karna ayah tiri yang memberi aib besar nantinya.dan yang akan aku tanggung bukan hanya teman tapi juga seluruh manusia yang mengenalku.


Nenek dan kara memang benar hanya jalan keluar itu yang bisa aku pilih untuk menghasilkan ketenangan.


Tapi teringat kembali pada pembicaraan teman-temanku yang sebenarnya mereka kenal dengan Aziz,karna sekampung.walaupun penilaian mereka buruk tapi tetap saja tidak bisa diabaikan begitu saja.


Aku memang ingin menikah tapi tak inginkan sembarangan orang karna derita hidup aku punya banyak persyaratan. baik juga jujur,menjalani hidup bersih itu adalah persyaratan utama.


Apa gunanya aku menikah jika nanti aku harus mendapatkan nasib yang sama dengan ibu dan anak-anakku juga akan bernasib sama denganku.


Aku itu...hanya punya impian agar hidupku lebih indah,dan slalu menjalani kebahagiaan dimasa dewasa dan tua.jangan sampai seperti masa kecilku juga yang slalu dibanjiri derita.


Aku slalu saja berkata batin sebab kerasnya hidup.ntah itu mampu mengajari aku untuk hidup kejalan yang baik atau tidak.tapi harapanku sangat besar


“Ntahlah...rumit sekali hidup ini...bikin pusing..!!!yaallah...jika memang kau kuasa berikanlah aku dunia yang lain yang didunia itu hanya ada aku agar tak ada yang membuatku pusing..”


Hujar hatiku kembali ngebatin.


Keesokan harinya...aku kembali dapat pesan dari Aziz yang tetap saja mencari ku


“Rinaya...”


“Pesek...kau sudah pulang..??”


Aku terheran saja melihat pesannya seakan dia tau aku sedang pulang.ntah siapa yang memberi taunya.


“Tau dari mana ziz..?”


“Aku dengar dari temanmu..”


“Teman..?siapa..?”


“Anis...ibunya cerita sama ibuku..


Ibunya bilang kau orangnya baik menantu idaman katanya.


Aku senang lho pesek dengar ibuku tadi cerita,dia bilang sudah tak sabar untuk jadikan kau menantunya.


Selain baik kau juga gadis yang sopan..”


Membaca pesan itu aku merasa sedikit tidak enak.Karna ada prinsip dalam hidupku pantang menilai seseorang hanya dengan mendengarkan penilaian orang lain bukan hasil menilai sendiri.


Penilaian orang itu belum tentu benar,sebab...sikap orang slalu berbeda-beda kepada orang lain,walaupun orang itu baik pada orang lain belum tentu pada kita.karna yang akan kita rasakan adalah sikapnya terhadap kita bukan sikapnya terhadap orang itu.


“Kenapa ri..gak dibalas..??”


Tanyanya heran saja.


“Kenapa kau percaya dengan cerita begituan..!!?”


“memang kenapa..?”


“Itukan hanya topeng..kau percaya sama topeng..!!?”


“Aku percaya kok..kalau wanita yang aku cintai satu-satunya begitu bahkan lebih dari itu.”


Jawabnya membuatku terbisu.


Betapa besarnya cinta Aziz terhadapku seakan rasa cintanya itu takkan bisa aku balas.


Diluar dari hasutan orang-orang yang tak menyukainya sebenarnya hatiku sangat sempurna hanya untuknya.tak ada sisi keraguan.


Namun...,tetap saja aku usahakan menyadarkan diriku agar aku tak gegabah dalam memilih jalan hidupku selanjutnya.


Cinta itukan hanya nafsu setelah nafsu nanti takutnya aku malah dihadirkan penyesalan.


Hari terakhir aku dirumah,akhirnya rumah kelam itu akan segera aku tinggalkan.senang bercampur kecewa yang aku rasakan.senangnya aku akan menemui teman-temanku kembali yang slalu menghiburku jika aku sedang sedih.dan sedihkan aziz harus aku lupakan lagi,dan jelas aku kecewa dengan keluargaku yang membuat aku tak nyaman dan tak bahagia untuk pulang.


“Aziz...ini hari terakhir aku dirumah..”


Kutulis satu pesan untuknya


“Kenapa cepat ri...aku rindu....”


Jawabnya membuat jantungku berbunga ntah sekembang apa.


“maaf ziz..memang harus cepat”


“Andai aku bisa bertemu denganmu,aku ingin memberikan kenangan untukmu ri..agar kau takkan melupakan aku”


“Aziz...aku bisa kok bertemu denganmu..”


“oea...gimana orang tuamu rinaya...?nanti mereka marah..!!”


“Diam-diam saja...cari alasan yang lain untuk keluar..”


“Kau yakin...jangan pesek...aku gak mau kau nanti dimarah..”


“ Tak apa ziz...aku juga rindu...”


Jawabku terbawa suasana...


Aziz jelas sangat bahagia dengan hal itu.


Malamnya aku pamitan pada ibuku untuk keluar sama kara mencari peralatan sekolah.ibu jelas mengizinkanku dan papa tak jawab apa-apa.


Rasanya aku sudah tak sabar untuk bertemu aziz.aku sudah khayalkan saja bagaimana raut wajahnya yang memandangku nanti.


“jangan senyum-senyum sendiri rinaya..”


Tanya kara yang menggodaku


“Bahagia sekali yang akan bertemu dengan pujaan hati”


Sambungnya terus-terusan menggodaku


Aku hanya bisa membalas semua itu dengan senyuman malu.


“Ri..kita bertemu dimana..??”


Tanya kara,dan aku baru sadar kalau aku dan aziz belum ada perjanjian untuk bertemu dimana.


“Maaf Ra..aku gak tau..”


“Gimana sih ri...kok malah gak tau..jadi gimana..tanya donk ri..”


“Oke..”


“Ziz..”


Tapi pesan ku tak dijawab,aziz hanya menghilang begitu saja


“Ziz jadi bertemu tidak..?terus bertemu dimana..?”


Kukirim pesan lagi..tapi tetap tidak dibalas.raut wajahku yang bahagia langsung kusimpan dan muncul raut wajah kecewa dan marah.


Aku coba telvon dia berkali-kali tapi juga tak diangkat.


Aku kesal begitu kara..


“Gimana donk ri..kita jadi keluar atau tidak sekarang..??”


Tanya kara bingung.


“Jadilah...tak bertemu dia juga tak apa Ra..yang penting kita jalan-jalan cari hiburan..”


Jawbku kesal langsung ambil setir honda untuk segera jalan.


“Gak jelas kalian..gimananya kalian ini..??”


Ujar kara yang bingung.


Malam yang kusangka bahagia itu malah jatuh tersakiti.malam itu aku sangat benci sama yang namanya aziZ.


Akhirnya aku dan kara memilih untuk makan jajanan ditempat biasa yang menjadi pilihan kami yaitu burger.


Disana aku hanya diam saja..


“Jangan diamlah ri...gak enak kalau kekgini gak usah fikirkan Aziz..”


Ujar kara yang kesal melihat wajahku yang menahan kecewa berat.


“Kenapa sih Ra..aku harus slalu kecewa disetiap aku bahagia dan telah menaruh harapan yang besar”


Jawabku...


“Sudahlah ri..mungkin dia sibuk dan banyak urusan.


“Urusan apa..Ra...bilang aja aku gak penting dan dia hanya memberi aku harapan palsu selama ini”


Jawabku menyangkal sembarangan


“Gak boleh gitu ri...sabar...jangan marah -marah.”


Jawab kara lagi.


Setelah dua jam kami berbincang-bincang dan sesekali kara mengeluarkan candaan agar aku terhibur dan tak larut dalam kesedihan.


Akhirnya tepat jam 21-30 mendarat ribuan pesan dihpku


“Pesek..”


“rinaya..”


“ Ri maaf tadi aku bantu bapak nyari sapiku hilang..ini baru pulang...kau jangan marah ri..tolong maafkan aku “


“rinaya..”


“Pesee3ewkkk”


Pesan yang sama yang memanggil namaku berkali-kali dikiriminya.


“Kara...gimana ini..”


Tanyaku meminta saran pada sahabatku itu.


Kemudian tak lama Aziz juga terus menelvonku tak ada hentinya.setelah telvon yang kesekian kalinya aku baru bisa angkat


“Apa...”


Jawabku jutek saja


“Pesek kau dimana sekarang..?”


“gak perlu tau..”


Jawabku yang sudah terlanjur kecewa


“ jangan begitu ri...aku kangen samamu...tadi itu aku hanya ada halangan..maafkan aku ri..tolong bertemulah denganku sebentar saja..”


“aku diburger ziz...”


“ok tunggu disana jangan pulang dulu..”


Azizpun segera menemuiku dan hapir setengah jam aku tunggu...dia lama datang.


“Ri dimana..aku kurang tempat itu..”


Katanya


“udah kita ketemu didepan madrasah aja”


Lalu Aziz segera mendatangi madrasah,aku dan kara sudah menunggu saja disana.dari jauh jantungku berdebar melihat Aziz yang akan segera sampai kehadapan ku.


“Ri maaf ya...aku buat kau kecewa..”


Ujarnya yang bergegas turun dari Honda dan langsung menggenggam kedua tanganku.aku yang tak terbiasa disentuh oleh lawan jenismu jelas sontak kaget langsung menarik tanganku kembali.


“ri..kau marah ya..?”


Aziz masih bingung saja dengan sikap dinginku padanya


“Gak kok ziz...”


Jawabku..


“Memangnya kau mau ngasih apa sama aku..?”


Tanyaku langsung pada poinnya. Kemudian aziz langsung memberikanku sebuah bingkisan yang isinya ada sebuah boneka besar.yang enak sekali untuk dipeluk.


“Ini temanmu disana sebagai ganti aku..kau peluk terus ya ri...”


Katanya sambil tersenyum-senyum malu menatapku.


“Terima kasih ziz..”


Jawabku biasa saja berusaha tak kutunjukkan rasa bahagiaku agar Aziz tak menyangka aku mudah dibuat baper.


“Maaf ziz..aku gak bisa lama sudah terlalu larut malam kami harus pergi sekarang..”


Kataku padanya sudah langsung pergi dan ku lihat aziz mengeluarkan raut wajah yang sedih membuatku tak tega.


“Tak apa ri...”


Jawabnya pelan,kemudian aku hampiri kara yang sudah menungguku dan segera berangkat,dan kembali Aziz mencegatku lagi


“Rinaya...sebentar..”


Katanya membuat kami terpaksa berhenti kembali.


“Apa..?”


Tanyaku bingung


“Ada yang ingin aku bisikkan padamu boleh..?”


Katanya,aku hanya mengangguk dan mendekatkan telingaku padanya.


Pelan-pelan Aziz mendekatiku dan langsung mencium pipiku dengan lembut.jantungku seakan akan berhenti berfungsi saat itu.rasanya sangat hangat.


Aku terkejut dan langsung menatap aziz yang menunduk saja tak berani lagi menatapku.


Kara yang tak menyadari itu.bingung melihat sikap ku


“kenapa ri..?”


Tanyanya..


“tak ada apa-apa Ra...ayo pulang.”


Ajakanku mengalihkan suasana.


Honda kamipun perlahan mulai maju dan aku hanya menatap Aziz saja yang tampak mulai menjauh dia juga terus memandangku dengan wajah yang sedih.


Ciuman hangat itu sampai sekarang masih terasa mendarat dipipiku.itu adalah pertama kalinya aku dicium orang yang aku cintai.sangat sulit melupakan rasanya.boneka lembut darinya juga tak lepas dari pelukanku.


Malam itu...yang diawali rasa sakit,berkat ciuman seakan tak pernah disakiti.itu sudah menjadi obat yang sangat mujarab.


Aziz benar...kenangan ini takkan pernah membuatku lupa padanya,bukan hanya dari boneka pemberiannya yang menjadi kenangan tapi yang menjadi utama adalah hangatnya ciuman itu.