MENANTU

MENANTU
102



Baru beberapa bulan hanya fokus mengelola mini resto membuat Nayaka merindukan profesi nya yaitu menjadi Guru, beberapa lamaran yang Ia kirim sampai saat ini belum ada respon sama sekali, maklum saja Nayaka hanya mengirim surat lamaran ke beberapa sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah.


Belum lagi Ia harus bertemu dengan Pak Bima hampir setiap hari di jam makan siang, karena Pak Bima selalu makan siang di mini resto. Sebenarnya usia Pak Bima baru 24 tahun masih muda, namun karena jabatannya sebagai direktur utama maka Ia di panggil Bapak atau Pak. Belum lagi sikap dan karakter nya yang dingin, tegas dan gaya bahasa nya yang tajam dan pedas, bahkan bisa mengalahkan pedasnya abon cabe level 50 😁.


Nayaka yang sudah terbiasa bertemu dengan Pak Bima setiap jam makan siang sudah terbiasa dengan kata-katanya yang pedas. Bahkan sejak kemarin Nayaka berpura-pura tak mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Pak Bima. Hal Itu membuat Bima semakin menjadi-jadi ingin menjahilinya. Dengan gaya sopan dan polos Nayaka sama sekali tak menghiraukan nya.


Sampai akhirnya Bima tak pernah datang lagi untuk makan siang di mini resto, awalnya Nayaka merasa biasa-biasa saja namun setelah hampir 1 bulan lebih Bima tak pernah menampakan batang hidungnya Nayaka merasa ada sesuatu yang hilang. Ia mulai merindukan kata-kata pedas yang sering di ucapkan oleh Bima.


Sementara di ruang kerjanya Bima sedang menikmati makan siangnya seperti biasa, Ia menyuruh Pak Maman OB sekolah untuk membeli makanan dan minuman di mini resto resah Ku hilang. Sejak Nayaka bersikap cuek tak lagi meladeni kata-kata nya Bima jadi enggan makan siang di mini resto.


Waah... kayak nya ada sesuatu nih, diantara hati Mereka berdua, akibat sering berantem jadi tumbuh benih-benih cinta nih kayaknya 😍.


Mesca yang saat ini membantu Nayaka mengelola mini resto sudah bisa di andalkan. Gadis cantik pemalu dan pendiam itu sangat cekatan dan cerdas. Semua yang Nayaka ajarkan sangat mudah diserap olehnya. Mesca yang pemalu dan pendiam belum ada perubahan, Ia tetap sebagai pendengar yang baik, hanya sesekali tersenyum, tidak pernah sama sekali berbicara jika tidak di tanya.


Mama Fenita sering kali mengajaknya bicara, namun Mesca tetap menjadi pendengar saja, meski pendiam dan pemalu hubungan nya baik dengan kedua Kakak kembar nya dan kedua Adik kembarnya.


Sampai saat ini Mama Fenita bertanya-tanya apa yang membuat Mesca memiliki sikap dan sifat seperti itu. Mama Fenita pernah membawa Mesca untuk berkonsultasi pada seorang psikolog Anak mengenai kondisi mental dan kejiwaan Mesca. Dokter tersebut menyatakan Mesca sehat, tidak ada gangguan mental dan kejiwaan.


Tapi ada yang tak Mama Fenita ketahui, selama ini Mesca sedang mencari siapa Ayah Kandung nya? karena sejak terlahir kedunia Ia belum pernah sama sekali bertemu dan melihat sosok Ayah Kandungnya.


Mesca tak mempunyai keberanian untuk bertanya pada Mama Fenita, yang Mesca tahu Mama Fenita sangat membenci Ayah nya. Tak ada satu pun foto Ayah nya yang tertinggal di rumah. Bahkan namanya pun Mesca tak pernah tahu. Mama Fenita selalu menyebut Ayah dengan kata Orang itu. Mama Fenita membesarkan Anak-anak, Menyekolahkan Anak-anak tanpa bantuan sedikit pun dari mantan Suaminya. Hal itu yang membuat Mesca ingin sekali bertemu dengan Ayah Kandung nya, Ia hanya ingin mengatakan " Ayah kenapa Kau sangat tega dan tak berperasaan ".


Mesca juga tak ingin menjalin hubungan dengan Pria manapun karena baginya Ia bisa hidup tanpa Pria, tanpa pasangan hidup.