
Setelah tiba di rumah Rino, Rino yang tak bisa bicara hanya bisa menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia tak bisa berbuat banyak, dengan kondisi seperti sekarang ini Ia tidak bisa lagi bekerja, Ia pun memilih resign dari tempat kerjanya.
Rino memang sudah dinyatakan sehat, akan tetapi dokter Ferdian mengatakan jangan memberi tekanan atau beban pikiran yang dapat membuat nya stress.
*
Mama Rino dalam hal ini sudah mengabaikan pesan dari dokter Ferdian.
" Tok tok tok, " Mama mengetuk pintu kamar Rino.
" Rino, Mama mau bicara, Mama harap Kamu dapat memahami kondisi Kamu yang seperti sekarang ini!, Kamu tidak mungkin meneruskan rumah tangga Mu dengan Sonya, apalagi sekarang Kamu butuh banyak waktu untuk terapi "
Rino hanya mengangguk, menanggapi kata-kata yang di ucapkan oleh Mamanya, kemudian Rino merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya.
Mama Rino, akhirnya keluar dari kamar. Ada perasaan sedih dan tak tega melihat kondisi Rino saat ini.
Namun bagaimana lagi, Ia tak mau nantinya, Sonya bersikap keras kepala seperti Aryatun Istri nya Rafka.
Baru menjadi Menantu beberapa bulan saja sudah berani melawan Mertua.
**
Mama Rino tak mau memiliki Menantu yang tidak patuh pada kata-katanya.
Jika Aryatun masih terus melawan, terserah apa maunya, selama menikah dengan Rafka, Aryatun lebih banyak tinggal di rumah Orang Tuanya di Pekalongan.
Rafka satu bulan sekali pulang-pergi Solo-Pekalongan untuk menemui Anak dan Istrinya.
***
Siang ini Sonya akan kembali ke Bandung, pagi ini Sonya dan Mami berjunjung ke rumah Rino sekaligus berpamitan.
Rino tak mau melepas pelukan, Ia berkali-kali mencium puncak kepala Sonya, ciuman lembut mendarat di bibir Sonya, Sonya pun membalas sebagai tanda perpisahan, apalagi saat ini Sonya masih berstatus Istri Rino.
Rino memberikan sebuah paper bag kecil, namun melarang Sonya untuk membukanya. Entah apa isinya Sonya pun tidak tahu.
****
Setelah berpamitan, Mami dan Sonya langsung menuju bandara, Mereka akan terbang ke Bandung jam 13:25 WIB, pesawat sebentar lagi take off, namun delay di karenakan menunggu dua Orang penumpang yang mengalami insiden kecelakaan saat akan memasuki bandara.
Akhirnya kedua penumpang tersebut sudah masuk kedalam pesawat.
Sonya yang duduknya bersebelahan dengan penumpang tersebut merasa empati karena yang terluka seorang Gadis Kecil dan seorang Pria Dewasa, entah itu Papa dan Anak. Sonya tak tahu juga.
" Uncle, Kimi haus bisakah Uncle bukakan botol ini? " ucap Gadis Kecil itu.
Sang Pria celingak-celinguk mungkin mencari bantuan untuk membukakan botol air mineral tersebut.
" Permisi, bisa Saya bantu Gadis Kecil?, " ucap Sonya.
" Oh tentu boleh Aunty!, " Gadis Kecil itu mata berbinar dan tersenyum manis karena Sonya sudah membantunya membukakan tutup botol air mineralnya.
Uncle nya tidak bisa membukakan tutup botolnya karena satu tangannya terluka dan di perban.
" Terima kasih Nona, " ucap Pria itu.
" Sama-sama, " Sonya tersenyum lalu kembali ke tempat duduk nya.
Pesawat sebentar lagi tiba di Bandung, mendarat dengan sempurna, para penumpang turun, Gadis Kecil dan Paman nya pun turun, sambil menganggukkan kepalanya kepada Sonya. Gadis Kecil itu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Sonya.