
Setelah berdebat kusir soal panggilan, bik Heni menghampiri Sonya dan Ferdian.
" Non dan Aden diminta mami dan papi makan malam, " ucap bik Heni.
" Iya bik, " ucap Sonya.
" Gimana dok, mau makan malam free ga ? " ucap Sonya sambil bercanda.
" Aduh maaf jadi ngerepotin! "
" Kalau takut ngerepotin, habis makan cuci piring, " jawab Sonya sambil tertawa kecil.
" Oke, ayooook dengan senang hati! " ucap Ferdian sambil memberikan handbag yang dibawanya.
" Apaan nih? jangan bilang ngasih ini bebas dari cuci piring ya! "
" Siaap akan saya laksanakan tuan putri, " ucap Ferdian sambil membungkukkan badan nya.
*
Sonya dan Ferdian pun menuju ruang makan.
" Oalaa dokter Ferdian rupanya, " ucap mami.
" Silahkan dok, " ucap Sonya.
Ferdian mencium punggung tangan mami dan papi, kemudian duduk kembali di samping Sonya, makan malam terasa hangat, diselingi obrolan santai.
Setelah makan malam papi, Ferdian dan Raffael pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat isya berjamaah.
*
" Kak seperti nya dokter Ferdian naksir deh sama kamu, " ucap mami
" Aiiih mami sotoy buanget! dokter Ferdian itu ganteng, soleh, humble, cerdas dan mapan, mana mungkin mau sama Sonya! " bibir Sonya mencebik.
" Tuhkan kakak aja memuji pasti ga nolak deh kalau di tembak sama dokter Ferdian! " mulai menggoda Sonya.
" Udah aah mi bahas yang lain aja! " ucap Sonya dengan wajah memerah.
" Iya-iya, semoga kakak segera bertemu jodoh, " doa mami untuk Sonya.
" Aamiin ya Allah, " ucap papi yang baru pulang dari masjid.
*
" Kita keruang tamu aja dok! " ajak Sonya.
" Disini aja kali kak! Fael mau ajak Bang Ferdi main catur, mau kan Bang? "
" Boleh, " ucap Ferdian.
" Btw, Fael kok panggilnya bang Ferdi? " tanya Sonya.
" Oowh karena Fael udah ada kakak Sonya jadi Fael mau nya panggil abang aja, boleh kan bang Ferdi, " tanya Raffael pada Ferdian.
" Tentu saja boleh, ayoo kita mulai main catur nya, " kini Raffael dan Ferdian sedang asik main catur sementara mami, papi dan Sonya menjadi penonton setia.
**
Karena besok Raffael harus sekolah pertandingan catur cukup satu sesi saja, kini Ferdian dan Sonya sedang duduk di teras samping rumah sambil berbincang-bincang.
Sonya sempat menanyakan keadaan Rino, Ferdian pun menjelaskan saat terakhir kali Rino datang berkonsultasi kerumah sakit.
Ada yang aneh dengan sikap Rino, menurut Ferdian seharus nya Rino sudah bisa berbicara namun aneh nya Rino tidak bisa berbicara, Entahlah apakah Ferdian yang salah dalam hal ini atau Rino sengaja tak mau berbicara, berpura-pura bisu.
Ferdian juga tak mau memaksa Rino untuk mengakuinya tapi yang pasti Rino sesungguhnya sudah dapat bicara.
Ferdian bertanya pada Sonya kenapa tak menetap di Solo? Sonya akhirnya menceritakan semuanya.
Rasa bahagia bercampur iba, karena begitu dramastis nya kisah rumah tangga Sonya dan Rino.
Ternyata di zaman yang sudah sangat canggih ini masih ada intimidasi dan sikap keras, otoriter dari mertua. Namun di sisi lain Sonya tak mau menyalahkan mama mertuanya, ini sebuah takdir kehidupan untuk Sonya.
Ketika kita menjalani kehidupan dan kehidupan kita begitu banyak masalah dan cobaan, jangan pernah menyalahkan orang lain meski orang tersebut sebagai penyebabnya.
Jalani saja dengan rasa syukur meski hati terasa hancur. Cie... cie.. author lagi puitis nih.
Mari saling mendukung sesama author, untuk para readers tercinta, mohon dukungannya melalui vote, like dan koment. Agar author lebih semangat untuk melanjutkan cerita.
Sonya hanya bisa diam, mendengar semua yang dikatakan Ferdian. Sonya juga tak mau bertanya pada Rino karena khawatir akan melukai hati Rino.
Biarlah waktu yang akan menjawabnya.