
Seminggu sudah berlalu, Sonya menemani dan menjaga Rino di rumah sakit. Dari pagi hingga menjelang magrib, Ia pulang untuk beristirahat.
Terkadang Papa Mertuanya, Mas Rifat dan Rafka yang menjaga Rino di malam hari.
Tidak ada komunikasi apapun di antara Sonya dan Mama Mertua nya, meski Sonya menyapa dan mengajak bicara selalu di abaikan oleh Mama Mertuanya.
*
Kabar Rino koma akhirnya di ketahui oleh kedua Orang Tua Sonya, kebetulan Teman Papi Sonya salah satu dokter di rumah sakit tersebut. Beliau bertemu Sonya saat sedang visit ke ruang ICU, dokter Ramlan masih mengenali Sonya meski terakhir kali bertemu saat resepsi pernikahan Sonya.
Dokter Ramlan pun akhirnya menghubungi Papi Sonya, menanyakan kapan akan ke Solo menjenguk Menantunya yang sedang koma, betapa terkejut nya Papi Sonya saat itu, dengan gerak cepat Papi langsung menelpon Mami Sonya menyampaikan berita dari dokter Ramlan.
Papi berpesan sama Mami agar jangan dulu menghubungi Sonya, mungkin Sonya punya alasan sendiri kenapa Ia tidak memberi kabar tentang Rino yang di rawat karena koma.
Mami pun menelpon Delima dan Frans menanyakan apakah Mereka sudah tahu kalau Rino sedang di rawat karena koma, lagi-lagi Delima dan Frans di buat terkejut dengan kabar tersebut.
Setelah berbicara lewat sambungan telpon, Delima langsung memesan tiket penerbangan ke Solo. Kebetulan besok hari Sabtu jadi Mereka bisa berangkat pagi ke Solo.
Kedua Orang Tua Sonya pun segera datang menjenguk Menantunya itu.
Bersama Delima, Frans, kedua Orang Tua Sonya tanpa memberi kabar langsung menuju rumah sakit tempat Rino di rawat.
**
Jam 7 pagi Sonya sudah tiba di rumah sakit, Rino masih bertahan dengan matanya yg terpenjam, namun kondisi Rino sudah stabil.
Pesawat yang di tumpangi Papi, Mami, Delima dan Frans baru saja mendarat di Solo.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, Mereka tiba di rumah sakit.
Setelah makan siang dan shalat dzuhur Mereka langsung menuju ke ruangan ICU tempat Rino di rawat. Dokter Ramlan sudah menunggu kedatangan Papi dan Mami.
Dokter Ramlan adalah dokter senior di rumah sakit ini, beliau selalu mengecek dan mengontrol pasien yang ada di ruang ICU meskipun sudah ada dokter spesialis yang telah menangani dan merawat pasien tersebut.
Saat mendekati ruangan ICU terdengar suara makian Mama Rino kepada Sonya, Mami Sonya yang melihat kejadian itu seketika mendadak emosi, namun segera di redakan oleh Papi Sonya. Mami berlari kecil mengahampiri memeluk erat Sonya.
Betapa terkejutnya Mama Rino saat mengetahui kedatangan Besannya yang tidak di sangka-sangka, Wajahnya seketika pucat pasi, menunduk dan perlahan menghindar.
" Sayang kenapa Kamu gak bilang kalau Rino koma? " ucap Mami.
Sonya hanya diam. " Kalau dokter Ramlan tidak menelpon Papi, Kita semua gak ada yang tahu kalau Rino sedang koma! " ucap Papi
" Sebaiknya Kita masuk dulu untuk melihat keadaan Rino, " ucap dokter Ramlan.
Mami dan Papi pun masuk ke ruangan ICU untuk melihat Rino, sementara Delima dan Frans duduk menunggu di luar.
Delima memeluk erat Sonya, Delima dan Frans tidak bertanya apa-apa Ia tahu kondisi Sahabatnya saat ini sedang terguncang.
Sonya menangis di pelukan Delima, sementara tatapan sinis dan tajam mengarah ke Sonya. Ya tatapan dari mata Mama Rino yang mengisyaratkan kebencian.