
POV Nayaka
Tubuhku bagai melayang di udara, terlontar kesana kemari bagai bola, rasa sakit, perih dan pedih Aku rasakan.
Namun akhirnya ada rasa yang sangat sulit Aku jabarkan, tubuh kokoh itu menghujaniku dengan segala sentuhan dan rasa asing bagiku.
Aku memasrahkan Diriku padanya, hanya air mata yang mewakili rasa kesakitanku. Aku menatapnya, peluh memenuhi sekujur tubuhnya meski ruangan ini menggunakan pendingin.
Bentuk dadanya yang bidang, perutnya bagai roti sobek, Aku hanya bisa mengagumi nya tanpa berani menyentuhnya.
Mataku ternoda saat melihat sesuatu yang sangat tabu untuk Aku lihat, inilah pertama kalinya Aku melihat benda itu, berdiri kokoh, mengacung seolah tak takut dengan lawannya.
Tubuhku gemetar saat melihat nya, apakah sebesar dan sepanjang itu! dan Aku baru merasakan ternyata Dia begitu padat dan keras, hingga mampu menembus pintu masuk sebuah sarang.
Rasanya masih sangat ngilu. tubuh kecilku terasa tak berdaya dan hanya bisa diam dalam pasrah.
*
Pagi hari nya saat Nayaka ingin keluar dari kamar, Bima melarangnya untuk keluar, terlebih cara jalan Nay yang sangat ketara.
Hari ini Bima ijin tidak datang ke sekolah, Ia akan menemani Nayaka dirumah. Nayaka mulai berjalan perlahan Ia menahan rasa ngilu dan perih. Rasanya tidak mungkin jika Nayaka tidak keluar dari kamar, karena Mama Sonya pasti akan datang kerumah untuk mengecek para Karyawannya.
Memang tempat para Karyawan tidak berada di rumah utama tapi berada di samping rumah. Akses masuk ke rumah utama melalui taman belakang dan itupun tak sembarang Karyawan bisa masuk ke rumah utama.
Keberuntungan sedang berpihak pada Nayaka dan Bima, Mama Sonya menelpon bahwa selama Satu Minggu ini akan pergi menemani Ayah Rino ke Jogyakarta dan selama Satu Minggu yang mengawasi Karyawan adalah Mas Arka. Mas Arka adalah Suami Mba Tuti Orang kepercayaan Mama Sonya.
Nayaka bisa bernapas lega karena Ia bebas dari bahan candaan dan godaan dari Mama Sonya dan Kak Sofie.
" Kita harus sering-sering latihan sayang agar Kamu terbiasa," segala bujuk rayu Bima memperdayai Istri polosnya.
" Iya Mas," lagi-lagi Nayaka hanya memasrahkan Dirinya.
Mendaki bukit, menuruni lembah, sungai mengalir deras ke samudera, sebuah penggalan lirik lagu dari Ninja hatori.
Mencapai titik kepuasan bersama. Seolah tubuh yang lelah tak menjadi penghalang bagi keduanya.
*
Seminggu pun berlalu, saat acara ijab kabul dan resepsi pernikahan Moula dan Mouli yang sempat di tunda karena Ibu Mertua dari Mouli telah berpulang ke Rahmatullah.
*
Saat ini semua keluarga dan kerabat berkumpul penuh suka cita, menyaksikan acara ijab kabul dengan penuh khi'mad dan syahdu.
Pesta pernikahan yang sangat meriah, rona-rona bahagia terpancar di wajah kedua pasangan mempelai. Ada seseorang yang matanya tampak berkaca-kaca, Dia adalah dokter Garda sosok Ayah yang telah melepas tanggung jawabnya sejak lama.
Ayah Rino dan Mama Sonya tampak sedang menemani dokter Garda, Mereka berusaha menjadi figur yang baik bagi Anak-anak dan keponakan Mereka.
Amarah dan dendam berlarut-larut tak akan bisa menyelesaikan masalah yang terpenting adalah belajar memaafkan walau rasanya sangat sulit.
Bima dan Nayaka yang tampil sangat serasi membuat para saudara dan kerabat mulai menggodanya. Wajah merah merona dan sikap malu-malu Nayaka membuat Keluarga Besar semakin gemas untuk menggodanya.