
" Rino, kamu jadi buka sekolah melukis di Bandung? " tanya Mama pada Rino
Rino hanya mengangguk, Rino menuliskan kata-kata * lusa Rino berangkat, * Rino juga menuliskan alamat tempat Ia akan membuka sekolah melukis.
Rino bekerja sama dengan dengan dua Dahabat karibnya duo jomblo sejati.
" Kamu hati-hati jangan sampai kamu tergoda lagi sama Perempuan mandul itu! " ucap Mama dengan seringai diwajah nya.
lagi-lagi Rino hanya mengangguk, dalam hati Rino berkata " mungkin Akulah yang mandul Ma, bukan Sonya. "
* Mama dan Papa nanti bisa menyusul ke Bandung, Rino sudah siapkan rumah untuk Kita tempati, * tulis Rino lagi.
" Iya sayang, rumah ini kan akan segera di jual untuk melunasi hutang Papa Mu karena sudah menyekolahkan Adik Bungsu Mu, udah habis uang banyak malah gak kerja, eeh punya Istri judes nya minta ampun, pemalas lagi, kalo belum punya Anak sudah Mama pisahkan Mereka, " suara Mama Rino terdengar kesal.
Rino hanya bisa mengelus dada mendengar ocehan Mamanya, Rino pun masuk ke dalam kamar, memeriksa kembali barang-barang yang akan Ia bawa ke Bandung.
*
Sementara di tempat lain Sonya sedang menyelesaikan berkas-berkas pembelian rumah baru nya.
Besok Ia sudah bisa mengisi rumahnya dengan barang-barangnya, tentunya dengan barang baru yang telah di pesan Sonya.
Sonya mendapat ijin dari Mami dan Papi untuk menempati rumah barunya, tapi harus di temani Bik Heni asisten rumah tangga terpercaya.
Dan dengan senang hati Sonya menerima persyaratannya. Dokter Ferdian yang mendapat kabar bahwa Sonya akan segera menempati rumah barunya, merasa sangat bersemangat dan bahagia tentunya, karena akan banyak waktu dan kesempatan untuk mendekati Sonya.
Kebetulan sekali kedua Orang Tua Ferdian sedang berada di Indonesia. Mama dan Papa nya yang tinggal menetap di Singapore, sedang ada kunjungan bisnis di Indonesia.
Papa Wisnu dan Mama Lena, akan cukup lama berada di Indonesia. Ferdian pun sudah bercerita tentang niatnya akan mendekati Sonya.
Sebagai Orang Tua yang berpandangan modern kedua nya pun setujuh saja, dengan keinginan Putranya. Siapapun pilihannya yang penting Ferdian cocok dan nyaman dengan pilihannya.
" Secepatnya Ma, " jawab Ferdian.
" Emangnya Kak Sonya mau sama Kak Ferdian? " tanya Fiona dengan nada suara yang mengintimidasi.
" Emmmm..., harus maulah! "
" Iiih maksa, " ucap Fiona dengan bibirnya yg mengerucut.
" Biariiin, " ucap Ferdian setelah itu tertawa karena melihat wajah Fiona dengan ekspresi aneh.
Mama, Papa dan Garda pun sontak ikut tertawa mendengar celotehan Ferdian dan Fiona yang tak pernah akur kalau sedang berkumpul.
" Sudah buktikan saja nanti, Papa kasih reward buat Fiona dan Ferdian? ucap Papa sambil tertawa.
" Aseeek-aseeek, " ucap Fiona sambil jingkrak-jingkrak.
" Ma, Pa, Ferdian ke klinik dulu, " Ferdian mencium tangan kedua Orang Tuanya.
" Semangat kerjanya Pakde, biar cepet ngelamar Bukde, hahahaaa, " Fiona tertawa terbahak-bahak, sengaja menggoda Kakaknya.
" Siaaaap, jangan lupa cepetan buatin Ponakan, Pakde udah gak nahan pengen gendong Ponakan, " Ferdian segera berlari menuju mobilnya, karena Fiona sudah berancang-ancang akan mencubitnya.
" Fii, kelakuan Mu belum berubah, masih seperti Anak Remaja, " ucap Mama tersenyum tipis.
" Maama, Fi udah menikah Ma, " kali ini wajah Fiona memerah , bibirnya mengerucut tanda ngambek melanda.
Fiona memang masih manja dan kolokan, Garda bahkan kewalahan saat Fiona sedang ngambek.