LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
NGEBUT KEJAR WAKTU



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Lho kok dipercepat?"



"Ya nggak dipercepat memang jadwalnya mereka menikah kan harusnya bulan lalu. Ini malah diundur karena Dava jadi ketua panitia kejurnas karate dan Amora juga sibuk melatih di Jogja buat event nasional itu," Hermien super sibuk. dia menghubungi beberapa kerabatnya yang bisa datang untuk hadir di pernikahannya putra tunggalnya.



"Iya aku nonton saat Dava dengan pak Menpora."



"Itulah alasan pernikahan mereka diundur. Dan Amora itu pelatih terbaik lho."



"Iya, aku tahu dari ada tv juga."



"Aku menunggu kabarnya besok yang mau berangkat siapa aja? Tolong di koordinasi ya. Nanti aku tanggung biaya tiket kereta pulang pergi aja. Tapi penginapan nggak."



"Penginapannya kalian koordinir lah. Rumahnya Dini itu dekat penginapan. Search aja penginapan dekat daerah Bumijo." Hermien berbaik hati menanggung siapa pun yang mau hadir dengan memberi tiket kereta pulang pergi.


\*\*\*



"Bisa?" tanya Dava minta kepastian. Dia minta semua pakaian yang dia pesan selesai dalam waktu lima hari.



"Bisa Pak," jawab pemilik butik dengan yakin.



"Ukurannya yang kemarin, warna aja yang berubah sedikit. Bikin sesuai dengan konsep saya sekarang."



"Baik Pak," jawab orang tersebut.



Dava melihat Amora sedang menghubungi Dini dan Hermien agak jauh dari tempat dia duduk.


\*\*\*



"Kenapa?" tanya Hermien dan Dini hampir bersamaan. mereka rupanya video call.



"Mommy, daddy, ayah bunda dan ayah Harry  juga ibu negara nggak usah ribut baju ya. baju udah aku bikinkan di butik. Jadi kalian nggak usah ribet pesan atau cari lagi," kata Amora.



"Oke jadi buat akad itu udah ada ya," Hermien memastikan.



"Udah, siapin yang lainnya aja Bun. Pokoknya pakaian semuanya udah kita bikinkan."



"Oke aku cuma ngabarin itu ya. Aku masih banyak keperluan lain." kata Amora.



"Tolong kasih tahu ibu negara yang lain, bajunya papa sama Om Leo udah juga."



"Nanti aku kasih tahu di grup chat ibu negara aja," kata Hermien.



"Bunda udah kasih tau para sepupunya Dava suruh datang. Bunda tanggung tiket kereta pulang pergi. Tapi nggak tanggung penginapan."



"Iya aku juga tanggung tiket keluargaku kok," kata Dini.



"Tapi penginapan kan mayoritas di rumahku cukup tapi yang lainnya aku titip di rumah mbak Rina dan rumah Sari juga." Jelas Dini.



"Maaf ya, aku mau pesan dan cari barang lain jadi aku pamit," ucap Moya pada bunda dan mommynya.



"Oke," kata Hermien.



"Assalamu'alaykum."



"Wa'alaykumsalam."


\*\*\*



"Sudah Yank?"



"Sudah, aku udah kasih tahu bunda dan mommy mereka enggak perlu nyiapin baju." rupanya Amora dan Dava masih berada di butik.



Dava minta satu minggu dari sekarang semua pesanan mereka bisa diantar termasuk baju Abi Arya dan Aqiel.



"Dari sini ke mana lagi Yank?" tanya Dava.



"Beli cincin lah.  Kan tadi katanya ke butik dulu karena butik kan waktunya mepet.  Sekarang tinggal cincin aja, emang mau apa lagi?"



"Kita kan udah sepakat nggak ada souvenir, karena kita mau pakai door prize aja."



Mereka pun pergi membeli cincin tentu saja terjadi perdebatan kecil di sana.



Kemauan Dava dengan maunya Amora banyak pertentangan.  Tapi akhirnya mereka bisa menyatukan pendapat.


\*\*\*



"Abang undang beberapa teman dekat di kampus ya Bang," Amora minta pada Dava untuk mengundang beberapa teman dosen di kampusnya.



"Kenapa?"




"Aku juga akan undang PA  ( penasihat akademis ) ku,  ketua jurusanku dan dekanku sehingga jelas aku nikah resmi. Aku juga undang beberapa teman dekat termasuk Bayu dan Simon." Jelas Amora.



"Ngomong-ngomong soal Simon, katanya dia pedekate padamu?"



"Itu jauh sebelum aku dibohongin Abang." Amora mengingatkan Dava pada peristiwa bohong yang dia lakukan.



"Kenapa kamu nggak cerita tentang Simon ke Abang?"



"Buat apa wong aku nggak merasa itu hal penting."



"Tapi kan harusnya cerita Yank, biar aku bisa antisipasi," protes Dava.



"Apa yang perlu diantisipasi? Pakai cara apa antisipasi orang naksir kita?  Buktinya nggak ada apa-apa kan?"



"Satu-satunya cara antisipasi ya menikah dan beritahu semua orang kalau kita saling memiliki secara legal!"



"Ya nggak gitu juga sih, untung aja Arya cepat bertindak."



"Ada apa dengan Arya?"



"Sepertinya dia enggak suka sama Simon. Dia bilang kamu tunangan aku." Rupanya Dava masih mendengar ucapan Arya yang diucap dengan keras dan ketus.



"Arya bilang gitu?"



"Iyalah. Kayaknya Arya tak suka Simon mendekatimu."



"Iya mungkin juga, Arya nggak suka pada Simon secara personal. Tapi secara profesional aku lihat dia menghormati Simon sebagai pelatihnya."



"Aku lihat Arya nggak pernah ngebantah koq," ucap Moya.



"Hebat Arya. Masih kecil gitu bisa membedakan antara personal dengan profesional."



"Iya, adiknya siapa dulu," Moya tentu bangga pada Arya.



"Adiknya Abang kan?"



"Ih jadi kamu ke ge er an." Moya tentu tak mau kalau Dava mengakui kehebatan Arya karena merupakan adiknya.



"Emang mau undang siapa aja?" Dava penasaran.



"Simon, Bayu, teman-teman perempuan teman dekat aku dikelas. Itu aja. Itu pun ngundangnya dua atau tiga hari sebelum kita akad."



"Kalau para dosen dan ketua jurusan minggu besok lah. Aku bilang nanti perayaan nunggu enam bulan lagi. Jadi daripada jadi rumors mereka udah tahu. Aku mau bilang gitu."



"Kamu minta teman-teman diundang saat akad emangnya ruang dan makanan cukup?"



"Mommy sudah pesan tenda pernikahan dan catering bisa minta tambah bila kita bilang tambah jumlah undangan."



"Undangannya mommy dan daddy banyak tahu.  Walau pun hanya akad dan undangan lisan, tapi mereka ngundang banyak orang."



"Yang bener?"



"Bener! Kenapa? Abang takut kalau ketemu sama teman-teman dosennya mommy yang ngejar kamu?"



"Siapa yang ngejar? Abang mana tahu."



"Aku malah mau kasih tahu kalau bapak Dava udah nikah dan istrinya itu aku!" Moya ingat beberapa teman mommynya memuja Dava saat berita Dava di televisi saat penculikannya dulu. Mereka bilang mengidolakan Dava dan mau jadi istri ketiga sekali pun.



"Biarin aja mereka naksir Abang,  mereka bilang apa pun  Abang mah nggak tahu. Yang penting cinta Abang cuma buat kamu."



"Biarin aja aku suruh mommy undang mereka. Biar mereka tahu siapa suami aku."



"Abang nggak undang mantan kamu?"



"Kamu kan tahu, Abang enggak punya mantan dalam arti real. Abang punya satu orang yang pernah dekat karena pertunangan dijodohkan, tapi enggak mungkin diundang. Orangnya udah dalam penjara," balas Dava santai.



"Ya undang orang tuanya aja."



"Enggak tahu kalau orang tuanya. Mungkin nanti sama ayah atau bunda."



"Suruh undang lah. Biar mereka jelas siapa calon Dava yang dipilih dari hati yang sebenarnya bukan dari perjanjian perjodohan."


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY