LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
NUNGGU UNDANGAN TAHLILAN



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Abang nggak datang setelah itu bukan Abang nggak mau datang!"



"Abang cuma tak mau kamu ngamuk dan terluka kalau kamu belum cooling down. Abang tahu kamu nginap dimana, tapi Abang menahan diri tak menghampirimu."



"Kamu nggak tahu betapa kesiksanya Abang tiap hari cuma lihat kamu dari jauh."



"Tiap hari?"



"Ya tiap hari sebelum ke kantor Abang akan lihat kamu datang ke kampus dengan wajah kuyu tanpa senyum tulus dari hati walau di wajahmu tetap ada senyum dan sedikit tawa."



"Abang nggak berani samperin kamu selama kamu masih emosi lalu membuat kita akhirnya break.  Itu yang Abang nggak mau. Abang menunggu kamu siap seperti sekarang ini."



"Aku udah siap lama lho Bang, jauh sebelum Abang kabur ke Swiss."



"Aku bahkan lihat Abang di cafe lagi kencan." Moya membeberkan fakta kalau dia tahu kejadian di cafe.



"Enggak ada kencan,  itu bukan kencan!" Dava sangat takut bila Moya juga salah paham dengan kasus cafe.



"Iya aku lihat semuanya dari awal kok tenang aja. Aku lihat semuanya sampai Abang ngamuk dan bilang : *Lebih baik aku kamu bunuh Lebih baik aku kamu kubur aja*!"



"Kenapa kamu nggak nyamperin aku?" Tanya Dava penasaran.



"Aku nggak sanggup aja tapi aku tahu semuanya. Aku tunggu mommy cerita sama aku. Mommy juga nggak pernah cerita karena belum tahu kebenarannya."



"Hebatnya orang tuamu, bahkan kalau belum tahu kebenarannya dia nggak kasih tau kamu. Orang tua lain pasti akan langsung nyuruh anaknya putus kalau lihat apa yang terjadi di cafe saat itu." Ujar Dava. Dava sangat salut sama orang tuanya Moya.



"Terus kenapa kamu nggak pernah bales pesannya Abang?" Taya Dava. 



"Ngapain bales pesan orang putus asa? Biarin aja. Tunggu aja kali-kali ada kabar tahlilan."



"Kamu kok jahat gitu sih doanya?" Keluh Dava.



"Lagian sih ngapain juga jauh-jauh di sana?"



"Kalau nggak harus persiapan buat kejurnas ini Abang juga masih di sana." Jelas Dava. Dia kembali ke Indonesia karena tanggung jawab penuh pada tugas yang diembannya. 



"Iya ya, di sana emang adem ya terus banyak cewek jadi kan anget ya Bang." Sindir Moya.



"Bukan gitu Yank, jangan mulai lagi deh. Kamu enggak tahu gimana hopelessnya Abang. Darah Abang mulai menghangat kala lihat peserta dari DIY. Ada namamu disana."



"Lagian Abang juga aneh. Abang punya kerjaan di sini, Ada tanggung jawab di sini Ngapain juga disana?"




"Buktinya kemarin sanggup tu dua bulan enggak liat aku," ujar Moya.



"Dua bulan bukan enggak liat Yank, hanya enggak liat secara langsung aja. Kita nggak ketemu, tapi Abang lihat kamu dari jauh itu cukup terus . Selama dua bulan Abang di Swiss, Abang lihat kamu dari jauh koq. Tiap hari  ada yang lapor tentang kegiatan kamu koq," Dava memberitahu rahasianya.



"Siapa?"



"Ada aja. Abang tahu kamu di kampus ngapain aja," cerita Dava. 



"Enggak malu minta orang ngikutin aku?"



"Ngapain malu? Daripada mati karena kangen, mending gitu demi memandang calon istri.  Biarin orang berpendapat apa, yang penting aku bisa mengurangi kangen kamu."



"Ya udah yuk bobo. Capek nih," Amora mengajak Dava kembali ke kamar.



"Abang besok pergi?"



"Enggak. Kami briefing jam 06.00 sekalian sarapan. Besok jam 09.00-an lah baru bisa ikut gabung ya."



"Emang sarapan di mana?" Tanya Moya.



"Sarapannya di sini, di ruang makan hotel ini," jawab Dava.



"Ya udah paling bareng. Kami kan makan disini juga." Moya memberitahu kalau mommy dan daddynya berencana makan di hotel.



"Tapi kan Abang meeting," Dava tak enak kalau tak bisa meladeni calon istrinya.



"Ya nggak apa-apa paling nggak satu ruang," jawab Moya.



Akhirnya Dava pun mengantar Amora sampai depan kamarnya. Dava mengecup kening Amora sebelum gadis itu masuk kamar.



Simon melihat itu dari jauh karena saat itu dia sedang mengantar atlet putra yang kebetulan dijemput juga.



"Met bobok ya Yank."



"Abang juga, jangan keluar dan cari perempuan," ancam Amora.



"Ya ampun Yank, enggak bakalan lah Abang seperti itu." Dava mengacak rambut Moya gemas.



Sehabis Moya masuk kamar,  Dava langsung masuk lift dan naik ke lantainya karena mereka rupanya beda lantai.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING