
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Dava jadi tak konsentrasi kerja mengingat bagaimana tadi Amora mengancam dirinya. Tak boleh kirim pesan atau telepon dan juga tak boleh mendatangi rumah gadis kecil itu bila dia datang sendiri menemui papa Steve yaitu suami dari adik kandung Anto daddy nya Amora.
Hubungan Amora dengan Steve memang sangat dekat. Lebih dekat dari hubungan Amora dengan om dari pihak ayah.
Leo adik kandung Harry juga tinggal di Jogja. Kalau dari pihak ayahnya Amora malah dekat dengan tantenya. Adik ipar ayahnya.
Dengan Vionne -adik kandung ayahnya- hubungan Amora juga tidak terlalu dekat.
Mungkin karena tante Risye adalah teman SMA mommynya dan punya bisnis dengan mama Yai sehingga mereka jadi tiga serangkai.
Padahal om Leo, papa Steve dan daddynya juga tiga serangkai. Sejak belum menikah malah mereka sudah lebih dulu dekat dari pada para istri. Yang mau tahu cerita para sesepuh baca di novel berjudul CINTA KECILNYA MAZ dan KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.
Dava jadi ingat saat kunjungan pertama ke rumah Amora. Tanpa ragu Dava langsung mengatakan dia ingin mendekati Amora secara legal dimata kedua orang tuanya.
**FLASH BACK ON**
Sehabis makan malam Dava yang diajak duduk di ruang tengah langsung bicara jujur.
"Om, maaf kalau ini mengagetkan dan tidak berkenan di hati Om dan Tante."
"Saya kesini tadi karena habis mengantarkan buku dari Aldo."
"Tapi selain itu saya punya niat khusus yaitu saya ingin mendekati Amor untuk saya jadikan pendamping saya. Saya tak ingin pacaran karena bukan itu tujuan saya."
"Saya pernah dijodohkan oleh ibu saya, dan ibu saya juga yang membatalkan perjodohan karena tahu calon darinya sangat buruk."
"Sekarang orang tua saya membebaskan saya memilih jodoh sendiri."
"Kalau Om dan Tante tidak berkenan katakan saja. Karena saya tak ingin melangkah untuk coba-coba."
Anto dan Dini tentu tak siap. Bagaimana mungkin lelaki muda di depannya langsung minta izin mendekati putri mereka secara legal? Maksudnya bukan ngumpet-ngumpet seperti anak muda pada umumnya. Nembak anaknya duluan baru mendekati orang tuanya meminta restu.
Anto jadi ingat Steve yang langsung bicara pada mamanya dan dia sebagai kakak Sari saat sahabatnya mendekati adik kecilnya.
Dini tentu lebih senang pada sosok yang berani berterus terang seperti ini. Dua suaminya, baik mantan suami atau suaminya sekarang, awalnya tak berani mengungkap rasa cinta mereka secara langsung.
Harry sampai hamil Amora tak mengucapkan cinta. Dia menyatakan cinta sesudah menikah.
Dan Anto menyatakan cinta setelah tahu dia "berpacaran" dengan Harry.
Karena itu Dini sangat suka akan sikap yang Dava ambil.
"Tante tak akan melarang atau menyuruh Moya menerima cintamu. Silakan saja kamu berjuang sesuai kemampuanmu. Tapi satu kali aja Moya terluka dengan sikap burukmu, kamu bukan hanya akan menghadapi Tante dan Om. Kamu akan menghadapi papa Steve dan juga para daddy, pakde dan semua abangnya."
"Jangan pernah kamu sepelekan gigitan semut kecil. Pasukan Moya pasti akan langsung bergerak bila princessnya terluka."
Anto hanya diam saat istrinya telah memberi izin pada Dava. Anto percaya insting seorang ibu tak akan salah.
'*Mereka bahkan tak mempermasalahkan usiaku. Padahal tadi saat awal aku sudah bilang aku lebih tua dua tahun dari Aldo*!'
**FLASH BACK OFF**
\*\*\*
"Iya Bund, Assalamu'alaykum," sapa Dava pada sang ibunda tercinta.
"Wa'alaykum salam," jawab Hermiena sang Bunda. Perempuan cantik asli Palembang. Darinya Dava mendapat warna kulit agak putih karena ayahnya Rustamadji Prabandaru yang asli Sleman Yogyakarta berkulit gelap.
"Kamu nggak pernah ada kabar," tegur sang bunda dengan lembutnya.
"Bukan enggak ada kabar Bun. Abang lagi nabung khabar dulu. Jadi Bunda sabar." Bujuk Dava pada sang ibunda.
"Apa maksudmu?" tanya sang bunda pada anak tunggalnya.
Dava sebenarnya bukan anak tunggal Hermiena dan Ndaru.
Dava punya kakak kembar umur empat tahun saat meninggal bersamaan. Si kembar meninggal karena keduanya tertabrak mobil jeep wisata pantai yang kebetulan remnya blong.
Kedua kakak kembar yang sedang duduk di tikar bersama sang bunda tertabrak dan ayahnya Dava sedang memesan kelapa untuk istri dan anak-anaknya.
Sang Abang meninggal sepuluh jam setelah ditabrak dan kakak perempuan Dava meninggal tiga hari kemudian.
Hermiena juga sedikit terluka, tapi yang pasti dia streas berat. Sehingga sejak kehamilan enam bulan sampai Dava lahir ibunya terbaring rumah sakit tidak pernah keluar.
Sesudah melahirkan ada gangguan rahimnya. Dava lahir usia delapan bulan di kandungan.
Setelah Dava lahir, Hermiena tak bisa hamil lagi. Tapi karena Hermina adalah anak paling tua dan dari kakeknya juga anak paling tua, maka di keluarga Dava dipanggil Abang. Termasuk oleh para tetangganya yang sejak kecil mendengar Dava dipanggil Abang oleh adik-adik sepupunya.
"Abang itu lagi naksir gadis kecil. Dia bikin Abang jungkir balik sejak lihat dia di pesawat. Tiga minggu lalu kan aku di pesawat menuju Jakarta. Dia duduk sebelah Abang sendirian."
"Ternyata dia adiknya Aldo!"
"Abang ngaco, adiknya Aldo kan lelaki semua," protes sang Bunda.
"Adik sepupunya Bund. Baru 17 tahun," jawab Dava.
"Ya Allah masih kecil Bang!" Protes sang bunda.
"Emang cinta bisa lihat umur Bun? Aku jatuh cinta sama dia. Titik," kata Daffa.
"Aku baru satu kali ini jatuh cinta. Bunda tahu kan Abang enggak pernah jatuh cinta sama Olivia."
"Aku mau tunangan sama dia karena menuruti perintah Bunda. Waktu itu Abang mau tunangan sebagai tanda bakti ada Bunda."
"Sekarang waktunya aku menentukan pilihanku sendiri." Walau lembut tapi Dava mengancam untuk menentukan pilihan sendiri.
"Ya Bunda sadar kok itu. Tapi anak itu masih terlalu kecil," Hermiena tahu selisih usia Dava dan gadis 17 tahun itu sebelas tahun. Bagaimana mungkin dia tak protes?
"Abang juga nggak akan nikahin dia sekarang kok kalau dia belum siap. Abang akan tunggu dia. Yang penting jangan halangi aku. Aku selama ini nggak pernah bantah Bunda."
"Tapi kalau sekarang dihalangi, aku akan ngebantah. Jadi jangan pernah halangin aku," kata Dava. Sebenarnya itu kalimatnya mengancam tapi lembut.
"Sekarang Bunda coba cari info tentang anak kecil itu. Namanya Amora Bun, dia keponakan kandungnya tante Kiran depan rumah kita."
"Apa? Bunda sudah sering lihat dia. Dia memang cantik dan sangat lembut juga sopan. Bunda udah tahu dia yang mana."
"Bunda sok tahu, kali aja bukan yang Abang maksud," Dava tak ingin ibunya salah menebak orang.
"Eh tante Kiran itu cuma satu keponakan perempuannya. Enggak ada lagi selain Dia. Bunda tahu waktu itu pernah ke sini sama eyangnya," rupanya Hermiena sudah melihat Amora.
"Kok pernah ke rumah?"
"Iya ke rumah sama eyangnya, dia baik Bunda enggak perlu cari datanya lagi. Enggak perlu cari info lagi." Sahut Hermiena.
"Jadi Bunda setuju?" Cecar Dava.
"Kalau sama dia Bunda setuju," sahut Hermiena tanpa ragu. Dia dulu juga nikah sangat muda.
"Bunda enggak perlu mencari datanya lagi. Bunda udah tahu, udah kenal sama eyangnya sama mommy Kiran juga." Lanjut bundanya Dava.
"Abang sudah minta dia ke Daddy dan mommynya, dan mereka sih setuju aja. Mereka terserah kalau Amora nya mau silakan, gitu kata mommynya."
"Daddy nya itu kan bukannya ayah kandungnya kan? Bunda sudah dengar lama itu.
"Bener Bun. Yang di Jogja itu itu papa sambungnya. Ayah aslinya di Jakarta."
"Bunda tahu soalnya waktu itu tante Kiran bilang gitu," Hermiena sudah tahu latar belakang keluarga Amora.
"Iya kemarin dia ke Jakarta itu karena opanya yaitu papa dari Ayahnya sakit lalu meninggal."
"Hubungan mereka sangat baik lo antara mantan suami dengan keluarga tante Kiran."
"Iya Abang juga tahu, Abang kan lihat sendiri opanya meninggal. Daddynya Amora datang ke keluarga ayahnya Amora. Semua keluarga mommynya Amora juga datang," Dava menerangkan bagaimana keluarga bu Rahdini menyikapi kegagalan rumah tangga Dini dan Harry.
"Hebat ya," ucap Hermiena.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.