LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
BERPROSES



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Tibalah waktu HOROR bagi pengantin baru itu. Dava  berdebar-debar ketika harus masuk ke kamar Amora kembali. Biar bagaimana pun dia masih belum berpengalaman apa pun soal perempuan.



Sedang buat Amora pemilik kamar juga tak bisa menolak stranger masuk kamarnya kan?



"Abang ini baju tidurnya," Amora menyiapkan baju tidur untuk suaminya.



"Kayaknya Abang belum pernah beli ini Yank?"  Dava memperhatikan piyama yang disodorkan istrinya.



"Iya aku beli banyak kok piyama kembaran buat kita," jawab Amora.



"Oh gitu. Sejak kapan?" tanya Dava penasaran. 



"Minggu lalu itulah, waktu aku beli baju yang kita pakai sekarang, aku beli setengah lusin baju tidur kembaran."



"Wah udah siap dong ya jadi seorang istri sampai nyiapin baju tidur suaminya?" goda Dava.



Mukanya Amora langsung seperti kepiting direbus.



"Enggak usah ketakutan gitu juga kaleeee," kata Dava menenangkan istrinya. Wajah ketakutan Amora sangat terlihat, sedang Dava bisa menyembunyikan semuanya dibalik wajah percaya dirinya.



"Duduk sini, Abang mau cerita,"  Dava minta Moya duduk di sebelahnya.  



"Enggak usah takut, Abang bukan pemangsa. Kamu jangan pernah berpikir Abang itu sudah pengalaman. Abang tahu sejak tadi kamu berpikir seperti itu. Wallahi Abang itu pertama menyentuh bibir perempuan adalah bibirmu." Ucap Dava dengan kata sakral yang tak bisa sembarangan diucapkan karena berat sanksinya.



Tentu saja Moya tak percaya bila tak mendengar kata itu dari mulut suaminya.



"Enggak mungkin," balas Moya dengan kata tak percaya walau dia mendengar Dava bersumpah dengan kata Wallahi yang sangat berat sanksinya.



"Enggak mungkin bagaimana?" tanya Dava.



"Abang udah mahir gitu."



"Emang kamu tahu yang mahir dengan yang belum mahir?" Tanya Dava, tentu pertanyaan itu membuat Moya jadi serba salah karena. Moya juga tak tahu mana yang mahir dan mana yang belum karena dia juga baru disentuh satu orang yaitu Dava seorang.



"Abang cuma kebenaran kok. Semua hanya insting aja,"  kata Dava lagi.



"Tapi kok bisa?" 




"Dulu dengan Olivia nggak pernah cium bibir Yank. Hanya cium pipi dan kening aja. Cium kening saat pertunangan, dan  cium pipi setiap ada acara saat diliput infotainment biar terlihat bagus dan baik."



"Hanya itu aja sih nggak pernah lebih. Kami bisa dihitung jari kapan gandengannya yaitu pada saat terlihat dengan media. Kalau di tempat lain nggak pernah. Paling dia berjalan dengan menggelayut lengan Abang."



"Kalau dari diri Abang sendiri, Abang enggak pernah punya rasa apa pun dengan dia. Kamu nggak perlu cemburu dengan siapa pun karena tak pernah ada siapa pun di hati dan tak pernah ada siapa pun yang tubuhnya pernah Abang sentuh dengan tubuhku ini."



"Semua hal itu ada pertamanya Yank.  Pertama kamu menulis huruf A hingga bisa menulis Amora itu kan ada prosesnya."



"Pertama kali kamu menghisap areola mommy-mu sampai kamu mahir menyedot ASI itu kan ada prosesnya." 



"Sama juga yang tadi aku alami, aku hanya bergerak secara insting tapi belum pernah melakukan, apalagi berpengalaman dengan siapa pun."



"Semua itu berproses jadi nggak perlu kamu takut." Dava pun memeluk dan kembali mencium istrinya. 



Mereka lupa kalau mereka akan berganti pakaian tidur.



Hingga pagi menjelang pakaian tidur itu nggak jadi digunakan sama sekali.



"Abang kalau aku nggak bisa ikut jalan jauh gimana?" kata Moya dalam dekapan suaminya saat mereka bangun pagi hari.



"Emang sakit banget ya Yank?"



"Lumayanlah, tapi kalau buat jalan jauh mungkin terasa Bang."



"Sebagai karateka aku yakin kamu bisa mengatasi kesulitan itu." Bisik Dava.



"Aku nggak yakin Bang. Kalau jalan jauh pasti sakit," rengek Moya.



"Ya wajarlah," jawab Dava.



Semalam prosesnya juga nggak mudah, baik buat Dava mau pun buat Moya karena mereka sama-sama pemula tapi berdasarkan insting mereka akhirnya berhasil langsung nggak pakai pengaman.



Koq berani mereka menyatu tanpa pengaman? Enggak lah kemarin Moya sudah melakukan ikut program kontrasepsi mandiri dengan suntik.



Tiga hari lalu mereka sudah ke dokter kandungan dan langsung mengatakan bahwa mereka akan menikah tiga hari lagi. Jadi minta suntik sehingga tidak akan kebobolan. 



Dava memutuskan kontrasepsi suntik yang masa tenggang tiga bulan bagi calon istrinya ketika itu.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul