
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Memangnya nggak apa apa tiap hari jemput aku?" tanya Amora saat mereka sudah berada di mobil Dava.
"Kalau apa apa gimana?" Goda Dava.
"Kenapa sih nggak pernah jawab langsung? Senengannya begitu!" Sungut Amora kesal. Bibirnya manyun mendengar jawaban Dava.
"Kenapa sih kamu sukanya ngomel mulu?" Dava terus saja menggoda Amora.
"Kalau tukang ngambeg begitu, nanti umurmu ngejar umur Abang lho. Kamu jadi lebih tua dari Abang," terus saja Dava menggoda Amora.
"Jawab aja udah. Enggak usah muter-muter begitu," protes Amora.
"Ya nggak apa apa lah. Kalau apa apa kan nggak bakalan jemput kamu," balas Dava santai.
"Nah jawab gitu aja dari tadi kan beres. Enggak usah pakai muter-muter," Amora tetap saja masih kesal mendengar jawaban yang belum memuaskannya.
"Iya Nyonya," kata Dava.
"Ingat ya Abang jemput jam 01.20 nggak usah muter-muter. Atau kita enggak jadi ketemuan seperti permintaanmu."
'Iyaa," jawab Amora, gadis itu langsung turun dari mobil Dava.
"Eh salamnya mana?" Dava protes saat Amora rurun tanpa memberi salam.
"Assalamu'alaykum," Amora pun memberi salam sambil berlalu dari mobil Dava.
Bayu melihat bahwa Amora turun dari sebuah mobil bukan mobil keluarganya. Karena Bayu hafal mobil yang biasa mengantar Amora.
Amora biasanya naik mobil yang mengantar adik-adiknya atau mobil mommynya. Bayu belum tahu mobil daddynya Amora atau bahkan mobil pribadinya Amora.
Bayu melihat melihat di dalam mobil yang sekarang mengantar Amora ada Pak Dava. Sosok dosen muda yang jadi idola di fakultas ekonomi.
Bayu memang sudah menyelidiki siapa Dava sebenarnya.
Sejak kejadian dua hari lalu Bayu belum berani mendekati Amora lagi.
\*\*\*
'*Ini orang kerjanya apa sih? Dari pagi udah muter nganter aku kuliah, sekarang belum jamnya dia udah stand by di kampusku lagi*,' Amora kaget karena jam 01.15 Dava sudah mengirim pesan bahwa dia sudah menunggu Amora di parkiran.
Saat itu Amora baru menutup bukunya karena dosen baru menutup kuliah siang itu.
'*Masa sih dia nggak punya kerjaan*?' Amora pun menuju parkiran mobil karena dia tidak mau ada orang ngomel-ngomel nungguin dia lama.
'*Ini anak polos atau memang enggak ngerti atau naif atau apa ya? Aku harus bilang dia gimana*?' Dava benar-benar tak habis pikir.
'*Amora itu bukan tidak tahu siapa sosok aku. Aldo sudah ngasih tahu bahwa aku adalah pemilik perusahaan atau CEO dan Amora juga tahu aku dosen bukan penganvguran yang tak ada income atau teman sebaya gadis itu yang masih nadah uang dari orang tua. Tapi kenapa itu anak nggak morotin aku ya*?'
'*Gadis lain tahu teman jalannya tajir pasti akan ngerengek minta jajan, minta makan gratis dan minta belanja barang-barang branded. Ini boro-boro! Dibayarin juga nggak mau*.'
'*Dulu buku-buku dia nggak mau dibayarin sekarang makan siang pun nggak mau dibayarin. Benar-benar gadis langka*,' batin Dava.
"Baik Nyonya," kata Dava. Lelaki itu tak mau berdebat.
Amora plong begitu mendengar Dava tidak protes kalau dia yang akan bayar makan siang mereka kali ini.
"Ada apa?" Tanya Dava lembut dan manis serta pelan. Saat makanan sudah datang baru Dava bertanya.
"Om ngomong apa sama mommy dan daddy?" Selidik Amora.
"Enggak ngomong apa-apa," tepis Dava. Dia tak ingin memberitahu Amora saat ini.
"Jangan bohong," desak Amora mulai menekan walau volumenya masih bisa dia kontrol.
"Serius nggak ngomong apa-apa," jawab Dava lagi.
"Jawab dong. Aku paling enggak suka pembohong!" Amora menegaskan bahwa dia serius.
"Oke Abang akan cerita dengan satu syarat kamu ubah panggilanmu. Boleh dengan MAS atau ABANG."
"Tidak boleh yang lainnya kecuali kamu panggil HONEY, BABE atau YANK atau panggilan sejenis."
"Kalau nggak mau ya udah, aku pulang nggak mau cerita," jawab Dava sekarang gantian dia yang nekan Amora.
"Kenapa sih ngeselin banget jadi orang!" Keluh Amora dengan kesal.
"Kalau kesal makanan jangan diacak-ajak seperti itu. Tetap makan, habiskan!" Tegur Dava, sambil menyuap makanan miliknya. Dia berkata seperti menegur anak kecil yang sedang ngambeg.
"Kenapa sih ngeselin terus?" Protes Amora.
"Abang sekarang tanya kenapa sih kamu ngeyel terus?" Balas Dava.
"Tuh kan malah tambah ngeselin."
"Kamu juga kan, tambah ngeyel terus," Dava tak kehabisan kata membalikkan perkataan Amora.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.