
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Bun Dava langsung berdiri ketika melihat bundanya berdiri menjulang tinggi dihadapannya.
"Kenapa sayang?" Tanya teman kencan Dava sambil memegang jemari Dava.
"Bunda nggak nyangka, Bunda sangat menyesal mulai hari ini tidak usah panggil saya Bunda," desis Hermien. Tentu dia tak mau memuat dirinya jadi tontonan orang apalagi dibuat video karena ribut dimuka umum.
"Engga Bun, jangan bicara gitu, Bunda salah paham, tolak Dava akan amarah Hermien kalau Dava tak usah menganggapnya ibu lagi."
"Sayang, ada apa?" Perempuan itu mengguncang jemari Dava.
"Jelas 'kan dia panggil kamu sayang? Masih mau nyangkal apa lagi? Saya tak menyangka membesarkan anak yang bisa menyakiti perempuan. Seakan bukan terlahir dari perempuan."
"Bukan gitu Bun, dengar dulu penjelasanku." Rengek Dava.
"Tak ada yang perlu dijelaskan lagi," Hermien segera berlalu dari situ.
"Bunda Dengerin dulu, Aku …."
"Sayang kenapa?" Perempuan itu memotong kalimat Dava, dia memegang tangan Dava sehingga Dava tertahan tak bisa mengejar Hermien.
'Hancur sudah nasibku! Belum selesai kasus mahar kemarin sekarang ditambah lagi kasus ini. Rasanya aku sudah tak ingin hidup lagi,' kata Dava.
\*\*\*
Dava keluar mencari ibunya tapi karena sudah lama nggak bakal ada lah Hermien di depan cafe itu.
Hermin tambah marah melihat kejadian tadi di depannya. Masih bingung kedang aksi marahnya Amora karena Dava berbohong, sekarang ditambah lagi dia dan Dini melihat dengan mata kepala sendiri perselingkuhan Dava.
Hermien langsung kembali kembali ke hotel sambil memesan tiket pesawat tercepat. Hermien tak ingin menunggu lebih lama di Jogja.
\*\*\*
"Bunda nginep dimana ya? Koq Bunda ada di Jogja enggak bilang aku?' pikiran Dava makin kalut menghadapi hal ini. Dia sungguh tak tahu bahwa Hermien malah sudah ada di Jogja dan sedang bersama Dini pula. Kalau barusan yang melihat adalah Amora, bagaimana nasibnya?
"Kenapa Dav?" Tanya Rustam santai. Hermien sudah melaporkan apa yang terjadi di cafe. Di depan istrinya dan Dini Dava memiliki perempuan lain.
"Ayah tahu nggak bunda nginep di mana?"
"Loh kenapa tanya ke Ayah? Memang kenapa?" Tanya Rustam santai.
"Bunda ada di Jogja, barusan aku ketemu Bunda. Kenapa bunda nggak nginep rumah aku?"
"Ayah nggak tahu dia nginep di mana," balas Rustam.
"Yah serius, tolongin aku. Ini terjadi hal gawat dan bisa tak termaafkan bila terus bergulir dalam ketidak benaran," rengek Dava.
"Ya sudah kamu Nikmati aja hidupmu yang amburadul itu karena kamu yang berbohong dan sekarang apalagi kejadiannya? Ayah enggak bisa bantu karena kami nggak pernah mendidikmu untuk berbuat bohong!" Dava sadar ayahnya masih marah atas kasus mahar itu.
"Aku harus cerita ke siapa ya?" akhirnya Dava langsung lari ke rumahnya Steve.
"Kenapa Dav? Malam-malam koq datang tiba-tiba?" Steve bingung akan kedatangan Dava. Sejak Amora memutuskan tidak mau menikah dengan Dava, Steve dan semua panitia diam tak mau bertanya karena takut salah.
"Barusan ada kesalah pahaman Pa," Dava langsung menceritakan semua yang terjadi di cafe tanpa mengurangi sedikit pun.
"Wah sorry Dav, Papa nggak bisa bantu kesalahan mu sangat fatal."
"Kamu pakai otakmu sedikit yang sudah S2 itu. Seharusnya kamu ngejar ibumu bukan mempertahankan perempuan dengan alasan apa pun. Kamu kasihan pada perempuan itu tidak mikirkan nasibmu sendiri!"
"Kamu tidak pikirkan bagaimana marahnya ibumu karena merasa kamu lebih mementingkan perempuan itu? Papa angkat tangan. Tak akan ada yang bisa bela kamu karena kondisinya kamu yang salah."
"Kamu menomor duakan ibumu bahkan bukan untuk orang yang kamu cintai lebih dari pada ibumu."
"Kamu lebih perjuangkan perempuan lain daripada ibumu."
"Wajar kalau Moya bilang dimana otakmu sehingga tak bisa berpikir panjang? Kamu memang bukan apa apa dibanding Moya yang anak kecil."
"Bukan Papa apriori tapi memang kamu yang sangat tidak logic." desah Steve menyesalkan kejadian yang baru saja terjadi.
\*\*\*
Dava sudah tidak punya harapan lagi Steve yang dia pikir bisa membantunya ternyata angkat tangan.
'*Apa aku minta Nanto aja buat terangin ke mommy dan bunda*?'
'*Tapi nggak guna juga kan?' Ah tapi lebih baik Nanto suruh nerangin ke Bunda aja nanti di Jakarta. Sehingga bisa clear*,' Dava berpikir dalam hatinya.
Dava sungguh tak menyangka dia akan menghadapi persoalan separah ini.
\*\*\*
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang baru aja terbit dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
Atau juga judul lain yang baru terbit dengan judul BETWEEN terminal BUBULAK ~ GIWANGAN