
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
'*Boleh ketemu malam ini*?' Amora menerima pesan itu sehabis dia selesai membereskan barang-barangnya di camp Putri.
'*Aku sepuluh menit lagi on the way ke hotel kalau sudah dijemput Daddy. Mungkin malam ini bisa bertemu di lobby hotel saja*.'
'*Oke satu jam lagi Abang tunggu di lobi hotel*.'
\*\*\*
"Loh barangmu cuma segini?" tanya Anto.
"Iyalah Dadd. Memangnya aku bawa koper segede apa?"
"Daddy udah mikir kamu bawa barang banyak." Jelas Anto.
"Enggak lah, malah aku nggak bawa baju jalan-jalan besok. Karena kan aku nggak pikir bahwa akan jalan-jalan."
"Gampang, kita bisa beli," jawab Anto.
"Iya sih. Tapi masih ada satu buat besok." Balas Amora.
Anto membawa koper milik putrinya.
"Mbak enggak pulang bareng kita ya?" tanya beberapa adik asuhnya.
"Iya sayang Mbak udah dijemput Papanya Mbak. Kalian hati-hati jalan pulang ya," nasihat Amora pada adik-adiknya di camp.
"Iya Mbak Terima kasih."
"Sampai ketemu di Jogja ya."
"Iya Mbak," Jawab beberapa anak asuhnya. Besok pagi mereka akan pulang ke Jogja dengan penerbangan pertama.
"Daddy udah izin sama ketua kontingen belum bahwa akan ambil Arya?" Moya lupa waktu izin, di tidak minta izin untuk Arya sekalian.
"Sudah tadi. Sebentar lagi Arya ke sini langsung kok."
"Tadi aku lupa ngebilangin kakak ketua Kontingen."
"Enggak apa-apa Arya udah izin langsung sama ketua pelatih dan ketua kontingennya bahwa dia dijemput Mommy dan Daddy."
Pada saat mereka turun di lobi sudah ada Arya dan Simon.
"Loh kok pakai diantar Dek?" Tanya Moya.
"Enggak diantar, aku datang sendiri Bang Simon udah di sini duluan nggak nganter aku," kata Arya.
"Kirain kamu dianterin."
"Aku bukan anak kecil kali. Aku udah izin kok ke ketua pelatih. Aku juga udah izin ke ketua kontingen. Ngapain juga aku diantar-anter," kata Arya.
"Dadd, ini pelatih aku," kata Arya.
Anto pun salaman dengan Simon.
"Udah siap? Abang Dava katanya nginepnya memang di situ loh Dek."
"Loh tadi nggak bilang sama Daddy."
"Tapi abang ikut kok besok. Masa dia nggak ikut tunangannya pergi kok," kata Amora sengaja biar didengar oleh Simon.
"Saya dan anak-anak duluan. Saya memang memindahkan mereka langsung ke hotel karena kami mau liburan dulu sebelum kembali ke Jogja," pamit Anto pada Simon.
Rupanya Anto sudah menyewa dua kamar untuk dia dan anak-anak lelakinya. Tiga anak lelaki akan bisa sendiri karena sejak kemarin juga dua anak lelakinya itu tidak satu kamar dengan Anto dan Dini. Sekarang mereka tambah satu kamar lagi untuk Amora. Jadi Anto menyewa tiga kamar.
"Dadd, malam ini nggak ada acara toh?"
"Nggak, kenapa?"
"Aku habis taruh barang mau ngobrol sama abang di lobby hotel."
"Oh ya silahkan," Anto mengerti pasangan itu harus menyelesaikan masalah mereka.
"Takutnya kita ada acara keluar."
"Enggak malam ini kalian istirahat. Lebih-lebih Arya kan capek. Arya sama Aqiel dan Abbie satu kamar jadi mereka nggak sama Daddy dan mommy."
\*\*\*
Amora menaruh koper di kamar dia pun lalu berganti baju dengan kaos santai dan celana bawah lutut. Dia menghampiri kamar Mommy dan Daddynya dulu di seberang kamarnya.
"Aku mau bicara dengan Abang ya Mom," pamit Amora.
"Kalian janjian?"
"Ya Mom, kami janjian"
"Selesaikan dengan baik dengan kepala dingin," nasihat Dini.
"Enggak ada yang perlu diselesaikan Mom. Enggak ada yang salah. Semua hanya salah paham. Aku sudah ngerti kok. Aku akan bicara dari hati ke hati aja sama Abang," jawab Amora. Dia lebih dewasa dari usianya.
"Ya selesaikanlah semuanya dengan baik itu pesan Mommy apa pun yang kalian putuskan Mommy akan dukung."
Saat keluar dari kamar kedua orang tuanya Amora bertemu dengan Abbie dan Arya.
"Kalian mau ke mana? Kenapa Aqiel kalian tinggal sendiri?"
"Mau ke kamar Mommy, snack kita ketinggalan di tas dikamar Mommy."
"Wah kalian bawa snack banyak?"
"Bawalah," jawab Abbie sang pemamah biak.
"Nanti Mbak minta ya," pinta Amora.
"Iya."
\*\*\*
"Kalian mau apa?" tanya Dini.
"Tas snack kami di sini kan Mom?"
"Kamu belum bawa? Coba cari di lemari mungkin daddy taruh di sana."
Memang tasnya mereka masih di ruangannya Dini.
"Ya udah kalian kembali ke kamar sana, hati-hati ya jangan salah kamar." Nasihat Dini ketika kedua putranya sudah menemukan apa yang mereka cari.
"Yang nggak lah kami juga nggak buta huruf, bisa lihat kok nomor kamar kami."
Anto dan Dini sengaja membuat mereka bisa terbiasa dengan kondisi di lapangan, mereka harus mandiri.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY