
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Keluar dari lift Amora melihat Dava sudah duduk di lobby.
"Sudah lama Bang?"
"Belum. Abang kan cuma turun dari kamar aja. Abang dari hari pertama memang menginap di sini."
"Loh nggak di camp juri dan wasit?"
"Enggak lah panitia enggak dicampur juri dan wasit."
"Kirain kumpul di camp Juri."
"Juri dan wasit kan dari seluruh Indonesia. Mereka dipisah dari rombongan lain. Sedang panitia hanya dari pusat dan panitia lokal beberapa orang. Nah semua panitia dapat jatahnya disini." Dava menjelaskan mengapa dia menginap disini.
"Oh begitu. Terus panitia pulangnya kapan?"
"Panitia besok pagi akan evaluasi dulu di lapangan lalu jam 10.00 selesai sih. Daddy udah tawarin Abang buat ikut kalian. Kalau kamu keberatan, Abang akan cari alasan biar enggak ikut."
"Enggak, aku nggak keberatan kok." Jawab Amora.
"Abang mau minta maaf terjadi kesalah pahaman. Abang mengaku salah kalau berbohong padamu."
"Abang mau sembunyiin sesuatu buat kejutan sama Aldo, tapi ternyata langkah yang Abang ambil itu salah dengan membohongiin kamu."
"Abang ngaku Abang salah."
"Aku ngerti kok Bang alasan Abang ingin bikin surprise, cuma yang aku sesalkan kebohongan yang Abang lakukan," kata Amora dengan bijaknya.
"Kamu maafin aku kan? Abang enggak niat dan enggak sadar telah fatal membohongi kamu. Tapi enggak punya niat mau anggap kamu anak kecil yang gampang dibohongin atau apa pun itu. Jujur Abang nyeseeeel banget tahu kamu terluka karena kelakuan Abang." Dava bicara dari hati. Amora bisa melihat sorot penyesalan dan kejujuran di mata tunangannya itu.
"Aku terima aja dibohongin, merasa Abang anggap aku anak kecil. Asal Abang tahu satu sisi aku ngertiin alasan Abang berbohong. Tapi sisi lain aku takut bila kebohongan itu akan berlanjut terus. Aku enggak sanggup kalau harus selalu dibohongin."
"Jadi sekarang aku bisa terima permohonan maaf Abang. Tapi kalau sekali lagi Abang ketahuan bohong, itu artinya Abang mutusin hubungan kita secara langsung! Walau kita sudah nikah sekali pun, sekali Abang ketahuan berbohong, kita langsung resmi berpisah."
Dava tahu semua yang diucapkan Amora sangat berat. Karena manusiawi kita berbohong, kadang hanya menunda bicara menunggu waktu yang tepat. Tapi itu sudah masuk kategori berbohong. Maka kedepannya dia harus bisa memilah kata agar tak salah paham.
"Iya Yank, Abang janji. Kemarin kebohongan yang pertama dan terakhir," jawab Dava.
"Abang sadar? Enggak dibawah tekanan?"
"Sadar Yank. Abang janji dan ini semua Abang lakukan secara sadar dan tidak dibawah tekanan siapa pun." Ujar Dava.
"Eh dibawah tekanan deng Yank," ralat Dava. Belum satu menit sudah dia ralat.
"Dibawah tekanan? Tekanan siapa?"
"Tekanan takut kehilangan my Amor," bisik Dava.
"Abang nyebelin!" Amora kesal. Dia kira tekanan apa.
"Bagaimana dengan pernikahan kita?" Tanya Dava.
"Sebentar, Abang terima ini tugas jadi ketua panitia ini sejak kapan?"
"Kok Abang bisa atur waktu misal pernikahan kita jalan terus, kan tinggal minggu depan, lima nama hari dari sekarang kita bakal nikah."
"Bisa lah, dari sini tinggal langsung terbang ke Jogja kan?"
"Ih enggak ngebayang, kita sibuk siapain pernikahan Abang malah sibuk kejurnas. Untung dibatalin, jadi aku enggak keqi!"
\*\*\*
"Maaf sensei mengganggu," sapa seorang lelaki yang menghampiri mereka.
"Iya ada apa?" Tanya Dava.
"Maaf ganggu."
"Enggak apa apa."
"Banyak panitia tanya, boleh nggak kalau pertemuan kita besok pagi dimajukan jadi jam 06.00 sekalian sarapan, jadi jam 08.00 kita bisa pulang atau pergi sesuai dengan keinginan." Tanya wakil panitia itu.
"Kami tadi coba hubungi ponsel.Sensei tidak aktif jadi saya mewakili teman-teman memberanikan diri kesini."
"Bisa aja, mau maju jam 06.00 sekalian sarapan biar cepat selesai. Maaf saya sedang bersama calon istri saya sehingga saya nggak mau diganggu." Jawab Dava.
"Mbak Moya kan? Pelatih terbaik tahun ini yang dari DIY?"
"Benar, tapi kemenangan Jogja di Kontingen tidak ada keterkaitan dengan Abang sebagai ketua panitia," jawab Moya. Dia tak ingin nama DIY dan nama dirinya dikaitkan dengan nama ketua panitia nasional.
"Iya kami tahu nggak ada intervensi dari Pak Dava untuk semua Kontingen. Karena selama pertandingan pak Dava tidak berhubungan dengan orang kontingen dan selama pertandingan juga pak Dava lebih memilih melihat melalui layar monitor."
"Takutnya ada yang menghubungi karena kebetulan saya banyak bawa medali pulang ke Jogja," ungkap Amora.
"Enggak lah semua juri nggak bisa disuap oleh Pak Dava."
"Oke Pak Dava kalau gitu saya permisi, fix kita briefing jam 06.00 ya Pak."
"Iya jam 06.00 boleh jadi jam 08.00 kita sudah selesai. Saya kebetulan juga akan pergi bersama keluarga calon istri saya."
"Loh mereka ada disini?"
"Ya, karateka ju-nior DIY yang rebut dua medali emas adalah calon adik ipar saya," jawab Dava bangga.
"Waaaah hebaaat."
"Iya itu adik saya," kata Amora.
"Wow bener-bener satu keluarga semuanya orang hebat."
"Dua adik kecil saya juga sudah mulai merintis dan sudah beberapa kali juara di Jogja."
"Hebat Pak Dava hebat."
"Loh mereka dari kecil sudah dilatih oleh calon mertua saya sebelum kenal dengan saya. Bukan saya yang hebat mertua saya yang hebat," kata Dava.
"Baik Pak. Saya malah jadi lama disini. Selamat malam."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING