LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
GUDEG KENDIL UNTUK CALON MERTUA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Besok adalah jadwal Dava pulang ke Jakarta. Tak ada kata perpisahan manis.



"Pesawat jam berapa?" Tanya Amora malam ini, sesekali Dava menyebut Amora dengan kata BABE, tapi lebih sering menyebutnya YANK. Dari Amora tak ada panggilan apa pun.



Sesekali menyebut Abang. Tapi ya jarang juga sih maka bisa disebut hanya sesekali.



"Ambil penerbangan jam enam pagi. Rencananya sarapan di bandara SOETTA, lalu pulang dulu karena janjian ama bunda. Jam sebelas harus sudah di kantor karena jam satu akan ada rekanan dari Belgia," Dava mulai membiasakan diri menjabarkan semua kegiatannya. Dia ingin Amora melihat contoh yang dia berikan dan mengikutinya. 



Dava sangat sadar, tak mungkin dia meminta Amora berbuat sesuatu yang dia tak kerjakan. Anak kecil jangan disuruh dengan kalimat verbal saja tapi beri contoh konkrit. Begitu yang Dava terapkan pada Amora.



"Oke, sukses buat pertemuannya besok siang. Salam hormat buat ayah dan bunda dan safe flight ya," itu pesan sebelum keberangkatan Dava besok.



Hari pertama tanpa Dava menjemput dan ikut sarapan. Ada yang kosong di dada Amora. Dia sudah terbiasa membuatkan kopi untuk calon imam masa depannya itu. Dini telah mengajarkan takaran yang pas sesuai selera Dava.



Pagi ini Amora kembali bawa motor yang sudah satu bulan tak pernah dia gunakan bila ke kampus. Kalau kegiatan latihan karate atau ngumpul bersama teman atau sekedar jalan dengan salah seorang adiknya dia tetap menggunakan motor.



"Pak Dava kemana?" Tanya Bayu saat melihat Amora baru keluar dari area parkir motor. Bayu sendiri ke kampus dengan menggunakan mobil. Walau anak seberang pulau, tak ada kesulitan untuk orang tua Bayu menyediakan mobil bagi pangeran mereka itu.



"Pak Dava urus pekerjaannya di Jakarta, akan ada tamu dari Belgia siang ini," jawab Amora.



"Wah lama dong di Jakarta?" Selidik Bayu.



"Mungkin satu minggu. Kan dia punya jam ngajar disini. Tapi kalau pun tak bisa  karena proyek belum selesai, ya tak mungkin dua minggu dia tak memberi kuliah." Amora berjalan menuju ruang kuliahnya pagi ini.



\*\*\*



"Bagaimana tadi?" Tanya Amora ketika Dava menghubunginya malam ini. Amora sangat merindukan lelaki menyebalkan itu. Tentu setelah mereka bertukar salam.



Dava senang Amora antusias menanyakan kegiatannya. Sekarang tidak melulu dia yang bertanya lebih dulu apa kegiatan AMOR. 



Dava menyebut Moya atau Amora dengan AMOR  yang dia bilang lebih dia sukai karena artinya *cinta*.  Tapi untuk panggilan sayang memang Dava memilih kata BABE dan YANK.



"Alhamdulillah berhasil baik. Lusa kami akan tanda tangan MOU jadi di hari kelima Abang bisa balik ke Jogja," balas Dava.



"Senangnya. Semangat ya Bang. Semoga lusa MOU juga lancar," dengan tulus Amora mendoakan keberhasilan Dava itu.



"Bunda bilang terima kasih gudegnya," Dava ingat tadi pagi  dapat kejutan dari Amora. Seorang kurir memberikan kotak gudeg kendil untuk Dava bawa. Titipan Amora untuk Hermiena.



"Sama-sama," Amora tahu harga gudeg tak seberapa. Dan di Jakarta juga banyak cabang asli gudeg Jogja. Tapi kan attensi tak bisa ditukar dengan uang.



"Tadi bawa motor atau mobil?" Tanya Dava.



"Motor," jawab Amora. Memang Dava telah meminta Anto dan Dini melepas Amora menggunakan mobil. Toh dia punya SIM. 



Bujukan Dava berhasil, tapi Amora yang belum ingin. Dia lebih suka dengan dengan motor saja


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.