
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Olivia sedang mencari penyebab mengapa Dava menjauh. Dia tidak sadar Dava memutuskan hubungan karena melihat banyak foto-foto kelakuan buruknya.
Sampai saat ini Olivia belum berani pulang ke rumah orang tuanya dia tinggal di rumah kosnya.
"Ada mamimu datang," Olivia sedang di ruang rias saat asistennya memberitahu kalau maminya mendatangi ke tempat pemotretan kali ini.
"Serius Mami datang? Bagaimana dia bisa tahu lokasi kita? Apa kamu memberitahu?" Olivia marah pada Yuni asitennya.
Olivia memang sangat arogan pada siapa pun. Banyak asisten pribadi yang tidak kuat bekerja dengannya. Yuni bertahan karena dia sangat butuh uang untuk biaya makan dan sekolah adiknya. Yuni yatim piatu sejak dua tahun lalu. Dia harus mengurus adiknya yang masih kelas satu SMP.
"Serius mami datang. Saya tidak tahu dia dapat info dari mana. Saya tidak punya nomor telepon mami," sahut Yuni jujur.
"Mami datang sepertinya dengan papimu juga. Mereka sedang di ruang ganti pakaian."
Olivia langsung keluar ruang rias. Dia harus segera mendatangi maminya. Jangan sampai sang mami bikin ribut di kantor ini.
"Hallo Mi apa kabar?" Olivia langsung menghampiri maminya dan ingin menyalami perempuan bule yang sedang duduk manis disana.
Diane, maminya Olivia memang bule Australia, sedang Davis sang papi asli Cirebon.
Diane tak menyambut tangan Olivia juga tak membalas pelukan putrinya.
"Pulang sekarang atau kamu akan saya bikin malu disini!" hanya itu kata-kata dari maminya Olivia.
"Habis pemotretan ini aku langsung pulang Mam," jawab Olivia.
"Aku sudah dandan sebentar lagi aku pemotretan," Olivia nggak mungkin membayar pinalti kalau dia tidak melakukan pekerjaannya.
Maminya langsung pergi keluar diikuti oleh Papinya.
"Matilah aku malam ini," pikir Olivia dia tak mungkin tidak pulang kalau tidak ingin papinya bertindak melewati batas. Dan rupanya mami serta papinya juga tidak mau by phone.
Sekarang tak ada alasan lagi buat dia menghindar. Yang Olivia bingung bagaimana keduanya tahu keberadaannya dia saat itu.
\*\*\*
"Kamu ada apa sih?" tanya fotografer yang mengambil foto Olivia hari itu.
"Sejak tadi kamu nggak konsentrasi kerja kayak gini." Omelnya lagi.
"Saya nggak ngerti orang ngerekomendasiin kamu atas dasar apa. Kerja enggak profesional. Ngetop enggak. Punya daya jual enggak. Tapi selalu dapat rekomendasi!"
"Buat saya kamu tuh nggak ada apa-apanya," fotografer lalu minta break hari ini. Dia dia tak mau bekerja lagi dengan Olivia.
"Dia kan direkomendasikan karena sukanya ngangkang," Ada yang nyeletuk seperti itu. Dan banyak yang setuju.
"Enak aja lo ngomong!" Olivia langsung berang.
"Kenyataan kayak gitu kan. Dan bukan cuma gue yang tau, banyak kok yang bisa buktiin lu tuh enggak ada apa-apanya. Cuma karena lu suka ngangkang jadi lu sering dipakai di mana pun atas rekomendasi itu."
"Pecat aja gua. Gua nggak peduli kok. Dan gua nggak butuh kerja sama ama lu." asisten rias itu menjawab dengan berani.
Banyak yang tertawa mendengar celoteh itu karena rumors tentang kelakuan Olivia yang sering tidur dengan siapa pun yang bisa kasih order sudah bukan rahasia lagi.
\*\*\*
Karena hari itu pemotretan sudah selesai sebelum waktunya maka Olivia pun bersiap untuk pulang dia membersihkan riasan wajahnya dan berganti baju miliknya lagi.
Olivia bersiap untuk pulang rumah ke orang tuanya tentu saja kalau ke rumah orang tuanya Yuni sang asisten pribadinya nggak ikut karena asisten tinggal di rumah kostnya bersama.
Olivia sampai di rumahnya dia lihat mobil mami dan papinya ada. Berarti keduanya ada. Olivia tidak tahu tadi mereka berdua pakai mobil yang mana. Yang pasti saat ini di rumahnya mobil mereka masing-masing ada di rumah.
Dengan langkah ragu Olivia masuk ke rumahnya.
"Duduk!" Papinya memerintah Olivia untuk langsung duduk di ruang tengah. Padahal dia belum masuk kamarnya. Tanpa banyak membantah Olivia pun duduk.
"Kenapa kemarin dari luar negeri kamu tidak langsung pulang?" tanya sang papi. Biasanya kalau seperti ini papinya jarang bicara. Tapi kali ini malah papinya yang bicara.
"Aku langsung pemotretan Pi jadi aku nggak pulang." Olivia memberikan alibinya.
"Oh gitu yang Papi tahu sehabis dari luar negeri kamu break tiga hari. Pemotretan sesudah pulang hanya empat hari."
"Dan baru kemarin kamu ada pemotretan lagi. Sekarang sudah dua minggu sejak kamu pulang dari luar negeri."
"Apa karena kamu takut kami menanyakan tentang pertunangan kamu yang sudah dibatalkan oleh Dava?" Davis merinci jadwal kerja Olivia. Dia tahu kemarin Olivia banyak libur.
"Tidak perlu pura-pura nggak tau karena Dava langsung datang ke sini bersama kedua orang tuanya."
"Saat dia kirim pesan ke kamu dia melakukannya disini. Di depan kami! Dan dia memperlihatkannya pada kami!" Cetus Davis dengan tegas.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kami sudah tidak punya muka pada Hermiena Prabandaru." Diane menekan Olivia.
"Kau mau ngomong apa?" tanya Diane lagi.
"Kamu mau ngomong apa?" teriak si mami yang sekarang sedang dibujuk oleh Davis agar tenang.
"Jangan percaya Mi, Pi, itu hanya editan," Olivia masih berupaya membela diri.
"Foto-foto itu tidak dikirim ke kamu kok bisa kamu tahu itu editan?" kata si papi mencecar Olivia.
Olivia langsung mati kutu.
"Kamu kira Papi orang bodoh? Begitu dapat foto itu dari bundanya Dava kami langsung cek ke ahli telematika. Semua foto itu adalah asli. Bukan editan!"
"Walau di amplop itu juga ada surat keterangan dari ahli telematika yang didatangi oleh Hermiena. Yang merinci setiap foto dibuat kapan dan menggunakan alat apa!"
"Kami memang sengaja uji sendiri agar yakin. Tidak langsung percaya oleh pemeriksaan yang dilakukan pihak Dava."
Olivia diam. Kalau dua ahli telematika mengatakan semua foto itu asli, dia mau bilang apa?
"Kamu bisa bayangkan bagaimana mamimu waktu dia bersujud di kaki sahabatnya? Dia bersujud di kaki ibunya Dava agar foto itu tidak di sebar ke media. Untuk mempertahankan namanya, untuk mempertahankan nama kami di depan seluruh kerabat."
"Terutama kerabat Papi yang sejak awal melarang Papi menikahi gadis bule. Karena mereka beranggapan gadis bule tak punya adab sopan santun."
"Susah payah mamimu merangkak agar bisa diterima di keluarga papi. Dia belajar agama dan adat dengan tekun agar bisa diterima. Dan dia berhasil"
"Tapi sebentar lagi semua akan mencibirnya karena dia tak bisa mendidik anak kandungnya sendiri. Hanya satu anak saja dia enggak bisa didik."
"Kamu benar-benar telah membuang kotoran ke wajah mamimu!" Davis memberitahu Olivia sejarah yang selama ini dia tutup dari putrinya karena tak ingin Olivia membenci keluarganya.
Sekarang karena kelakuan buruk putrinya semua pendapat keluarga besarnya mendapat pembenaran.
"Puas kamu? Puas? Kamu menginjak-injak kepala kami!" Teriak Diane.
Maminya Olivia dan bundanya Dava adalah sahabat waktu di Brisbane. Saat libur semester Diane ikut Hermiena yang pulang ke Indonesia.
Di Bandung Diane dan Hermiena berkenalan dengan Davis yang sama-sama sedang darmawisata ke Maribaya.
Saat Hermiena menikah, Diane dan Davis yang belum menikah karena terhalang restu keluarga Davis berjanji mau menjodohkan anaknya bila punya anak yang beda jenis kelamin.
Selain karena alasan persahabatan itu, Diane juga memikirkan bahwa Dava adalah sosok yang sangat mapan dan kaya jadi bisa untuk mengayomi putrinya yang borjuis yang terlalu boros dan hedonis. Dia pikir dengan punya menantu Dava kebutuhan materi putrinya bisa terpenuhi dengan mudah.
"Lalu sekarang Mami harus bagaimana? Mami tahu di tempat kerjamu namamu itu sudah kotor banyak yang tahu bahwa kamu itu pela-cur," kata maminya membuat Olivia terperangah.
"Mami sudah bertanya-tanya tadi sebelum mereka tahu siapa Mami. Bukan hanya satu orang, tapi mayoritas yang mami tanya bercerita bagaimana kelakuan burukmu untuk mencari order, bagaimana kelakuan burukmu untuk bisa menjadi peserta delegasi yang dikirim ke luar negeri."
"Selama ini Mami berpikiran semua adalah hasil prestasimu, ternyata hasil menjual dirimu. Mami enggak nyangka karena Mami nggak pernah ngajarin itu." Sesal Diane.
"Dan ingat! Orang yang mengirim foto-foto itu ke ibunya Dava belum ketahuan. Oke saat ini ibunya Dava atau Dava tidak menyebarkan foto itu."
"Bagaimana bila sumber yang memberitahu Dava atau ibunya yang menyebarkan ke media?"
"Mau ngomong apa kamu?" Tanya Davis lagi.
"Papi yakin orang itu sangat membenci dirimu sehingga membuat kamu dan Dava berpisah!"
"Jadi kamu harus bersiap diri sebentar lagi foto-foto itu akan menyebar. Papi tidak bisa membelamu karena kamu yang mengotori wajahmu sendiri," ujar Davis.
"Minggu depan kami pindah ke Aussie. Kami tidak mau malu di sini. Selamat tinggal untukmu. Rumah ini pun sudah Papi jual. Besok rumah ini akan dikosongkan."
"Terserah kamu mau tinggal di mana karena Mami sudah tidak anggap kamu lagi." Diane sudah memberitahu dia memutus hubungan dengan Olivia.
Olivia hanya diam. Dia tak menyangka mami dan papinya sangat terluka dengan kelakuannya.
Kesalahan Diane dan Davis sejak kecil semua keinginan Olivia selalu dituruti. Sehingga sifat egois dan mau selalu terunggul melekat erat dalam keseharian Olivia. Dia tak peduli caranya salah. Yang penting dia bisa menang. Dalam hal apa pun dia terapkan kalau dia harus jadi pemenang.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.