
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Bunda masak apa?" tanya Moya pada sang bunda mertua dengan pelan. Moya menghampiri bunda dan uwak yang sedang di dapur.
"Bunda enggak masak apa-apa sih. Ini semua Uwak pada bikin masakan Palembang. Jadi Bunda tinggal makan aja," kata Hermien.
"Uwak masak apa Bun?" Amora memperhatikan semuanya. Dia tak mau buta masakan asal suaminya.
"Mereka bikin sup ikan patin dan pindang patin. Tadi sekalian belanja patin dalam jumlah banyak jadi bikin dua menu dengan bahan dasar ikan patin."
"Memang kalau di Palembang paling suka ikan patin Bun?"
"Enggak hanya patin. Pokoknya semua jenis ikanlah. Kebetulan saja hari ini kami belanja ikan patin."
"Abangmu juga suka banget ikan patin, cuma dia senang patin goreng tepung atau dibakar. Dia jago masaknya kok," lanjut Hermien.
"Aku nggak bisa masak apa-apa," kata Moya lirih.
"Jangan suka merendah seperti itu. Abang tahu kamu jago masak kok. Mommy-mu cerita sejak SMP kamu mulai terjun ke dapur sendiri tanpa disuruh," kata Dava dari belakang Moya. Dava memeluk pinggang istrinya dan menaruh dagunya di pundak Moya.
"Apalah diriku ini yang cuma remahan dapur," kata Moya.
Dava tentu saja gemas mendengarkan kata-kata istrinya seperti itu. Dia acak-acak puncak kepala istrinya.
"Oh ya Wak, bagaimana garis besar pengolahannya?" Moya mendengar semua resep yang disebut uwak tanpa mencatat. Dia langsung mengingat di otaknya.
"Aku cuma tahu patin goreng doang," kata Moya.
"Digoreng lalu masak lagi di wajan yang anti lengket tanpa minyak, lalu siram dengan kecap nanti seperti dibakar. Itu sedaaap lho Ya," ucap seorang uwak.
"Oh gitu?" Tanya Moya tak percaya.
"Iya hanya kayak gitu. Selain patin yang enak diginiin tuh bawal tawar dan ikan mas juga enak."
"Jadi habis digoreng lalu taruh di wajan anti lengket tanpa minyak?" Moya memastikan apa yang dia dengar.
"Wow aku mau coba ah Bun besok." Moya penasaran ingin mencoba "*ikan bakar*" yang tak dibakar itu.
"Aku tuh paling suka empek-empek," kata Moya.
"Ajarin aku bikin kuah cukonya yang enak dong Wak." Pinta Moya penasaran.
"Emangnya kamu sudah bisa bikin empek-empeknya?" tanya seorang uwak.
"Enggak juga sih, tapi setidaknya bisa meraba lah. Bisa cari dari google. Tapi udah buka beberapa resep, belum nemu rahasia cuko yang enak," jawab Moya tanpa malu.
"Aku pernah beberapa kali bikin cuko seperti tutorial, tapi kurang sedap."
"Uwak nggak nyangka loh kamu rajin masak biasanya *anak seumurmu* itu sukanya hura-hura aja."
"Aku bukan anak kecil kali Wa," protes Moya merajuk dengan kalimat uwaknya.
"Eh iya maksud Uwak, *perempuan seumurmu*." Sang uwak pun meralat kata-katanya.
"Ya kan nggak semua sama. Mommy sejak kecil anak orang kaya, tapi dalam keluarganya enggak pernah ada ulang tahun. Didikan Eyang seperti itu."
"Kami harus humble. Semua harus bisa masak sejak SD walau lelaki sekali pun. Aku diajar mommy untuk bertanggung jawab terhadap menu makan satu keluarga setiap hari Minggu."
"Jadi setiap hari Minggu sejak SD, makan siang itu tanggung jawabku."
"Mau masak apa pun tak boleh ada yang full bantuin aku masak. Harus aku yang tanggung jawab sendiri. Uwak bisa bayangin aku di protes oleh daddy : *kayaknya menu hari ini pasti sayur sop dan tempe goreng Mom*, gitu sindiran daddy saat itu."
"Kenapa dibilang gitu?" Tanya Hermien penasaran.
"Karena setiap hari Minggu aku cuma bisa masak sayur sop dan tempe goreng sampai mereka hafal. Sejak itu aku terus belajar masak sayur asem, sayur lodeh, tumis dan lain-lain."
"Belajar dan belajar selalu tanpa ragu aku coba. Lalu SMP tanpa disuruh aku sudah terjun ke dapur."
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR