LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
KEWAJIBANKU



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Besok-besok lagi aku nggak mau ah kalau dipaksa gini" Amora kesal ketika harus menerima traktiran buku dari Dava.



"Dipaksa gimana sih? Abang nggak maksa, tapi itu kewajiban Abang,"  jawab Dava ringan.



"Kewajiban apa?" Amora tentu bingung Dava bilang tentang kewajiban. Orang tua bukan, suami apa lagi. Kalau pacar kan belum wajib ngebayarin! Dan dia bukan pacar Dava.



"Kewajiban ngebelanjain kamu lah," Dava menjawab santai tanpa beban.



"Om enggak usah pura-pura bego. Kewajiban atas dasar apa. Itu maksud pertanyaanku. Masa orang sudah selesai S3, udah jadi dosen, punya perusahaan, pertanyaan gitu enggak ngerti? Masa kalah ama anak kecil?" Rinci sekali Amora menerangkan apa yang dia maksud.



"Pokoknya itu kewajiban Abang. Titik! Terlebih kalau kamu terus sebut Abang dengan panggilan Om!" Dava pun tak mau kalah. Dia juga ngeyel pada Amora.



"Bodo' ah," jawab Amora kesal.



"Papa Steve ngundang aku loh, sebaiknya aku datang sendiri apa sama kamu?" Tanya Dava.



"Terserah," jawab Amora. Gadis itu bingung datang ke rumah papa Steve sebagai apa?



"Oke aku sendiri aja. Nanti aku tanya alamat papa Steve pada daddy atau mommy mu aja. Mereka sudah  kasih nomor telepon koq," jawab Dava.



"Kalau gitu nanti aja datangnya sama aku," Amora minta Dava ke rumah papa Steve bersama dirinya. Amora kaget mendengar Dava sudah memiliki nomor telepon kedua orang tuanya.



"Enggak. Enggak usah. Kalau ama kamu repot ngatur waktu. Sudah gitu Aku harus minta izin dulu buat bawa kamu keluar rumah. Biar Abang datang sendiri aja," Dava sengaja menggoda Amora.



"Kalau sendiri kan bisa berangkat sesempetnya Abang aja. Abang bisa datang ke showroomnya papa atau ngobrol di butiknya mama Yai," lanjut Dava.



"Ya sudah kalau mau pergi sendiri. Dan jangan pernah kirim pesan atau telepon apalagi datang ke rumah," sekarang gantian Amora yang mengancam. Dava hanya tersenyum saja.



"Abang enggak mampir ya," Dava menghentikan mobil di rumah Amora.



"Iya. Terima kasih," Amora langsung turun sambil mengucapkan salam.


\*\*\*



Dava langsung menuju kantornya walau sudah jam empat  sore saat dia tiba disana. Kadang Dava bisa sampai tengah malam berada di kantor untuk mengecek semua hasil pekerjaan pegawainya.



Bagi staffnya, tak aneh Dava datang jam berapa pun. Setiap saat mereka butuh petunjuk Dava selalu menjawab cepat sehingga pekerjaan mereka tak pernah terhalang.



Dava bekerja tak kenal waktu. Dia bisa bekerja sesuka hatinya kecuali pas harus bertemu klien atau meeting. Saat seperti itu baru Dava akan bekerja sesuai waktu yang ditentukan.


\*\*\*



"Capek juga hari ini," Amora meletakkan buku-bukunya di meja belajarnya. Dia masih penasaran apa yang mommynya ceritakan ke mama Yai atau tante Risye sehingga mama Yai bisa cerita ke papa Steve.



Amora bingung ada apa dengan Dava? Mengapa papa Steve menyebut dirinya sendiri *papa* bukan *OM* saat bicara dengan Dava?



Amora lalu bergegas mandi dan bersiap untuk salat Ashar sendirian karena tiga adiknya belum tiba. Mereka ada kegiatan sampai sore hari ini.



Amora mengeluarkan lumpia Semarang dari kulkas.



"Mbok tolong ini digoreng buat cemilan sore,"  dua box lumpia Semarang Amora berikan pada simbok untuk di goreng.



"Injih Non," si mbok menerima dua box lumpia untuk dia goreng. Biasanya juragan kecil pulang latihan pasti langsung cari cemilan yang mengenyangkan.



"Aku minta jus belimbing ya," Amora juga minta juice buat teman membaca sore ini.



"Injih."


\*\*\*




Saat pulang kerja Dini hanya memberi salam pada Amora lalu dia langsung masuk ke kamarnya dan langsung mandi karena sedang kedatangan tamu bulanan.



"Mommy di telepon siapa? Mama Yai atau papa Steve?" tanya Amora.



"Papamu cerita ke daddy, katanya bertemu kamu," Dini memberitahu kalau sumbernya dari Anto suaminya yang dapat laporan dari Steve.



"Ya Mommy tanya aja sama daddy, suruh tanya kejelasannya ke papa Steve ketemu aku dimana. Kenapa tanya aku?" Amora malah bingung. Seakan pertemuan dengan papa Steve tadi jadi trending topic di antara para orang tuanya.



'*Ada apa sih para orang tua ini*?' pikir Amora.



"Cuma pengen kroscek aja karena sebelum ajak kamu ke toko buku Davanya udah bilang kok sama Daddy bahwa dia akan ajak kamu ke toko buku, sehabis makan siang."



'*Ya ampun jadi semuanya dia laporin*,' pikir Amora.



'*Ternyata cuma aku yang nggak tahu apa-apa*,' Kata Amora lagi.



"Jadi mommy sekarang mata-matain aku? Aku udah nggak dipercaya lagi sama Mommy sama daddy?" Amora ingin tahu apa alasan Dini mencari info dari dirinya.



"Bukan gitu cuma Mommy sama daddy respect aja sama Dava. Kok bisa ya ada orang ngajak anak gadisnya lapor dulu. Serasa Mommy tuh suka aja sama tingkah laku gentle nya Dava," jawab Dini.



"Gimana kalau Mommy pacaran sama Dava aja?" Goda Amora pada sang mommy yang jelas-jelas mengatakan suka sama sikap gentle Dava.



"Oh jadi kamu pacaran sama Dava?" Dini malah balik menembak putri sulungnya.



"Enggak lah bukan gitu maksud Mbak," Amora jadi malu sendiri karena salah ucap.



"Lalu kenapa jadi Mommy yang harus pacaran sama Dava? Mommy punya pacar legal kok."



"Mommy punya daddy yang nggak akan tergantikan oleh siapa pun," kata Dini.



"Tau ah. Mommy sama mama Risye nih sama aja sih ngatain aku pacaran sama Dava," Amora jadi serba salah sendiri diledek mommynya.



"Kalau jadi pacaran juga nggak apa-apa. Mommy setuju aja. Orangnya sopan, dan baik," kata Dini sambil mengambil lumpia yang mulai hangat.



"Enggak. Aku belum ingin pacaran," jawab Amora dengan percaya diri.



Dini hanya terkekeh saja. Dia langsung sibuk dengan tiga jagoannya yang baru saja tiba.


\*\*\*



"*Kewajiban ngebelanjain kamu lah*," Kalimat itu jadi terngiang di benak Amora.



'*Apa kata-kata itu dia ucap karena dia bicara sesuatu dengan mommy dan daddy ya*?'



'*Tapi kapan ngobrolnya? Kan mereka baru ketemu pas abang antar buku dari kak Aldo. Masa sih pertemuan pertama dia langsung bang sesuatu*?' Amora memang tak pernah menyebut Dava dengan Abang atau Bang secara lisan. Tapi setiap ngebatin dia selalu menyebut Dava dengan sebutan Abang lho.



'*Kewajiban*?'



'*Masa sih kewajiban? Daddy masih mampu koq. Lagian ada ayah yang wajib kasih nafkah aku*!'



Batin Amora terus saja perang argumen sendiri.



'*Besok kita harus bicara. Penting*!'



*SEND*!



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.