
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
'*Kakak nitip buku di Abang Dava. Besok dia ke kampus mu. Entah besok atau lusa Kakak nggak tahu. Tapi Kakak sudah kasih nomor ponselmu ke Bang Dava*,' pesan dari Aldo dibaca oleh Amora.
'*Iiih kak Aldo ngapain sih kasih nomor aku ke si Om. Biasanya juga kalau kirim barang pakai ekspedisi. Kenapa sekarang dia titipin ke dosen tengil itu*!' Amora ngedumel sendiri.
'*Ya Kak terima kasih*,' Amora menjawab pesan Aldo.
Amora mau bilang apa kalau memang Aldo sudah memberikan nomor teleponnya ke Dava.
Amora belum boleh bawa mobil oleh Anto. Dia masih mengendarai motor untuk kegiatan sehari-hari. Bila pergi dengan daddy atau mommy nya baru dia boleh menyetir mobil. Walau sudah punya sim A sekali pun.
Dini sampai heran mengapa Amora mengambil jurusan kedokteran hewan saat memilih kuliah dulu. Alasan Amora dia ingin membuka Pet Shop. Dini mau pun Anto membebaskan pilihan putri mereka. Tak ada larangan. Mereka hanya mengarahkan saja.
Ketika akan pulang kuliah sore ini ada pesan dari nomor yang belum dikenal.
'*Hai, save ya, ini nomor Abang ganteng*.'
'*Ada titipan buku dari Aldo*.' Pesan kedua masuk. Amora langsung tahu nomor siapa yang mengaku abang ganteng itu.
'*Bisa ketemu dimana*?' tanya nomor itu.
'*Aku baru keluar dari laboratorium. Om ada di mana*?' tanya Amora.
'*Abang*!'
'*Terserah aku*!'
'*Aku akan culik kamu dan enggak akan aku lepas kalau belum panggil Abang*!'
'*Ya itulah. Culik kan perlakuan orang dewasa yang menyulik anak-anak. Pantas kan kalau saya panggil OM*,' balas Amora. Amora kadang bilang aku, kadang pakai saya.
'*Udah cepet ketemunya di mana*?' jawab Dava.
'*Saya bilang saya masih di lab. Bapak aja kasih tahu di mana. Nanti saya datangin ke sana*,' balas Amora.
'*Abang ada di belakang kamu*!' Amora berbalik dan ternyata memang Dava ada di sana
'*Ih ngeselin*,' batin Amora.
"Dav, ngapain? Mau ngapelin aku?" tanya Niken, dosen mata kuliah yang baru Amora ikuti.
"Kak Niken! Ngapain aku ngapelin Kakak? Bisa dihajar bang Jaja nanti," sahut Dava sambil menyalami Niken.
"Dia sudah jinak kok sekarang. Setelah punya anak dua," balas Niken. "Kamu makin ganteng aja," goda Niken.
"Percuma ganteng kalau nggak laku juga Kak," jawab Dava santai.
"Kamu kebanyakan milih sih."
"Enggak milih juga sih Kak, tapi kan juga nggak asal terima aja. Aku butuh partner seumur hidup. Bukan teman tidur satu dua malam saja kan?" jawab Dava.
"Bener tuh! Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Niken.
"Ini mau ngasih titipan punya temanku depan rumah ke adiknya."
"Oh kirain ngapelin aku," ucap Niken lagi.
"Aku nyerah kalau harus berhadapan ama bang Jaja."
"Kamu enggak percaya banget, dia udah jinak!"
"Ha ha, iya percaya lah ama pawangnya," mereka pun tertawa berdua.
"Ayo, aku nemuin Amora dulu," Dava pamit apda rekannya itu.
"Iya dia adiknya tetanggaku di Jakarta."
"Aldo titip buku apa sih?" tanya Dava.
"Kan aku pesan sama kak Aldo cariin buku yang aku butuhkan buat kuliah." Dava memang tidak bisa melihat karena kan dibungkus rapi oleh Aldo.
"Waktu kakak ke Aussie kemarin aku pesan banyak buku. Lalu ada dua buku belum sempat kak Aldo cariin karena waktu itu kakak nggak sempet."
"Akhirnya dia titip ke temennya dan temannya kirim ke Kak Aldo."
"Kenapa dia nggak minta temannya kirim langsung kirim ke Jogja?" Tanya Dava.
"Mungkin sekalian kirim pesanan buku kakak yang lain. Mungkin bukan cuma dua bukuku ini aja." Jawab Amora.
"Oh iya bisa jadi sih begitu."
"Ubah kek panggilannya. Sejak tadi aja Abang dengar kamu manggil Aldo aja kakak."
Amora tak membalas. Dia malas membahas soal panggilan.
"Kita minum dulu yuk," Dava ngajak Amora ngobrol.
Akhirnya mereka ke kantin fakultas kedokteran hewan.
"Tumben kesini Kak?"
"Apa khabar Kak?"
"Hallo Kak," sapa beberapa gadis cantik senior di kantin itu yang tentu belum Amora kenal.
"Ngetop ya banyak penggemarnya. Ini di fakultas lain lho. Gimana di fakultasnya sendiri?" Goda Amora.
"Kan dulu Abang kuliahnya juga di sini. Abang aktif di pencinta alam, di program penelitian juga di Senat. Jadi ya gini deh. Banyak yang kenal, walau beda fakultas."
"Tapi kan Om udah lama banget lulusnya," Amora masih heran aja.
"Kan setiap tahun ada acara, tiap enam bulan sekali ada pertemuan, Abang pasti datang. Kenal banyak orang ya di pertemuan itu."
"Kamu pesan apa? Dava ternyata pesan makanan berat. Dia rupanya belum makan siang.
Amora hanya pesan fruit punch.
"Sorry ya Abang belum makan. Makanya Abang ajak kesini biar ada teman."
"Ya ampun udah hari gini belum makan siang! Waktu itu aja ikut marahin aku waktu aku telat makan padahal kan waktu itu aku malas makan karena opa meninggal. Ini ngapain coba dari tadi bukannya makan!" Omel Amora ketus. Dia ingat Dava yang ikut sewot waktu dia enggak makan ketika di rumah opanya.
"Tadi ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan jadi lupa makan siang jawab," jawab Dava.
"Om tuh udah tua Om. Makanya cepat nikah biar ada yang urusin ada yang ingetin makan," nasihat Amora.
"Apa menikah itu tolok ukurnya umur?" Telak Dava bertanya pada Amora. Karena sampai saat ini tak ada yang menyebutkan patokan usia untuk menikah.
"Enggak juga sih tapi kan kalau udah umur ketuaan kayak kamu udah kelewatan," jawab Amora.
"Aku tahu, orang tuaku nikah juga cepet kok" balas Dava.
"Aku ada saat mommy belum 20 tahun tapi ada tanteku sepupu dari ayah, sampai sekarang juga belum nikah." Amora memberitahu mommynya nikah sangat muda.
"Itulah Abang bilang tadi. Untuk menikah bukan umur tolok ukurnya, tapi kesiapan pasangan," Dava memberi pendapat dan Amora setuju hal itu.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.