
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"I can't believe this is really a surprise. Ini sebuah kejutan besar Bang."
"Ini hadiah buat kita berdua," Dava memeluk dan mengecup kening serta puncak kepala istrinya.
"Gimana enaknya? Mau kita umumin langsung atau gimana Bang?"
"Kayaknya kalau kita omongin sekarang nggak enak deh. Gimana kalau kita bikin makan malam sebelum bunda pulang ke Jakarta?"
"Aku juga setuju Bang. Jadi keluarga inti kita aja jangan sama orang luar."
"Tapi kan para tante dan uwak pulangnya bareng bunda Yank. Terus ayah Harry gimana?" Dava ingat para uwak dan tante dari ayah dan bundanya ingin pulang bareng Hermien. Dan Harry harus pulang cepat karena tak dapat cuti.
"Oh iya juga ya. Gimana kalau kita bikin nanti malam aja? Kumpul masih ada eyang?" Tanya Moya.
"Boleh juga tuh. Nanti malam kita bikin kumpul semuanya di resto bawah aja."
"Ya sudah nanti pas sarapan Abang akan kasih tahu semuanya."
"Enggak bisa Bang. Kasih tau sekarang jangan pending sampai nanti sarapan. Takut ada yang sudah bersiap packing." Desak Moya.
Akhirnya Dava mengalah dan mengumumkan semua tak boleh pulang karena masih ada acara nanti malam melalui pesan di ponsel semua yang masih me ginap di hotel.
Dava dan Moya baru selesai salat subuh. Sebelum salat subuh tadi Moya menampung air urine nya lalu dia rendam dua buah test pack di sana. Kemudian mereka tinggal untuk beribadah.
Begitu habis salat subuh baru mereka melihat hasilnya.
"Abang ingat loh."
"Ingat apa?" tanya Dava bingung karena merasa tak menjanjikan sesuatu sama sekali.
"Jangan sering *bikin capek* aku. Aku takut kalau nanti keguguran." Amora menggerakkan kedua jari tengah dan telunjuknya seperti kode tanda petik saat mengucapkan bikin capek tadi.
"Iya Abang ngerti. Emang Abang kayak apa sih maniaknya?" Kilah Dava.
"Maniak sih enggak. Cuma nggak pernah mau berhenti," jawab Moya santai.
"Nah itu kamu tahu," goda Dava.
"Tapi nggak lah. Begitu tahu kamu terlambat aja sampai sekarang Abang nggak nengokin baby kan?"
"Abang enggak akan membuat program ini gagal. kemarin-kemarin setelah tahu kamu telat aja Abang belum sentuh kamu kan. Karena Abang nggak ingin kamu capek dan nanti malah program kita gagal."
"Ya Bang terima kasih ya." Moya ingat saat dia bilang belum mens memang Dava tak mengajaknya bercumbu seperti biasa.
"Abang yang berterima kasih sama kamu." Balas Dava.
"Kita sama-sama terima kasih pada Allah aja," kata Moya.
\*\*\*
"Oalah capeknya," kata Moya.
"Tumben Yank, jalan sedikit ini doang gini ngeluh cape?"
Dava tahu istrinya bukan perempuan lemah yang kolokan. Jarang mengeluh seberat apa pun persoalannya. Baru pagi ini dia mendengar AMOR nya mengeluh.
"Aku enggak tahu kenapa Bang. Serasa capek banget tau nggak," jawab Moya.
Mendengar itu Dava jadi khawatir.
"Nanti kamu duduk aja ya, Abang yang ambil makanan dan minummu. Kamu bilang aja apa yang kamu mau," Dava mewanti-wanti istrinya.
"Iya Bang." Moya akan patuh pada suaminya.
Mereka baru turun untuk sarapan di ruang makan hotel.
"Wah gimana nih pengantin baru?" goda Hermien.
"Apanya yang pengantin baru coba Bun? Bunda ngaco nih. Ngaco banget malah. Kita udah nikah tujuh bulan koq." Protes Moya.
"Pengantin baru resepsi deh ha ha ha," kata Hermien.
"Kamu kenapa lesu gitu?" Hermien memang paling tahu perubahan wajah menantunya.
"Capek Bun, capek banget baru terasa mungkin. Karena merasa sudah plongkerjaan terealisasi dengan lancar dan bagus jadi kok rasanya capek banget," kata Moya.
"Bisa jadi seperti itu," kata Dini.
"Enggak lah bulan madu. Apa Abang mau bulan madu Bang?" Pancing Moya. Mereka punya rahasia kalau Moya tak boleh lelah.
"Coba aja kalau memang kamu mau kita atur waktu dan lokasinya," dengan bijak Dava menjawab soal wacana bulan madu itu.
"Kita mikirnya belakangan nanti aja ya Bang," jawab Moya. Dava mengerti mengapa itu harus mereka pikirkan karena ada baby yang belum mereka umumkan.
"Kamu mau makan apa Yank?" Bisik Dava.
"Aku pengen makan salad aja boleh? Aku enggak kepengen yang lain." Jawab Moya.
"Tapi kamu harus makan yang banyak proteinnya Yank," Dava mengingatkan asupan makan ibu hamil bukan hanya berdasarkan rasa keinginan saja.
"Banyakin keju sama daging asap aja Bang."
"Oh ya oke," Dava setuju dengan usulan Moya.
"Tadi aku lihat ada udang asam manis sama cumi goreng tepung Bang."
"Wah itu bagus banget. Abang ambilin ya," Dava senang Moya mau menurut dengan arahannya.
Mereka semua makan sambil makan Dava kembali mengingatkan semua nanti malam akan ada acara makan malam. Tak boleh ada yang check out siang ini tanpa terkecuali.
Dava bilang dia akan perpanjang sewa kamar sampai besok siang.
"Ingat ya, nanti malam kita akan ada makan malam dengan pengantin baru, ingat itu," kata Dava.
"Besok baru boleh check out," kata Dava lagi.
"Oke," kata yang lain setuju.
"Ada apa sih Bang?" tanya Hermien penasaran.
"Pokoknya udah gitu aja, kita makan malam resmi nanti malam. Enggak udah nanya ada apa."
"Okelah kalau gitu."
\*\*\*
"Ayah, Bunda, Mommy, Daddy, Eyang, Ayah lagi, Papa, Mama, Om, Tante semuanya. Maaf kalau yang udah punya niat tadi siang mau pulang kepaksa pending."
"Aku dan Abang sengaja minta semuanya kumpul karena aku ingat waktu itu pernah ditolong semuanya."
"Pada kesempatan kali ini kami berdua mau bilang terima kasih buat semua yang udah mendukung pernikahanku kemarin."
"Sejak lamaran pertama yang dilanjut dengan pembicaraan penentuan tanggal pernikahan saat acara halal bihalal di rumah Bunda dulu."
"Sampai tragedi kebohongan dari Abang yang bikin heboh semuanya, lalu dilanjut ke acara akad nikah dadakan kami tujuh bulan lalu."
"Puncaknya adalah acara resepsi pernikahan kami kemarin malam."
"Hari ini sebagai acara terima kasih kami juga menyatakan pembubaran panitia tak resmi. Aku dan Abang mau kasih hadiah yang enggak bisa di tukar dengan apa pun." Dava tersenyum saja melihat istrinya menyampaikan ucapan terima kasih.
"Ini hadiahnya," Moya memperlihatkan hasil test pack bergaris dua dari dua buah test pack yang mereka uji tadi pagi.
"Wow ini hadiah besar buat Daddy," Anto langsung berdiri menghampiri dan memeluk Moya dengan hangat.
"Puji Tuhan," ucap Leo dan Vionne bersamaan.
"Alhamdulillah," yang lain langsung mengucap syukur bersamaan.
Para eyang bahagia akan mendapat buyut.
"Bukannya waktu itu kamu bilang mau tunda satu tahun?" kata Dini.
"Tadinya aku mau tunda satu tahun Mom. Tapi setelah lima bulan berpacaran secara halal, aku berpikir kayaknya kok udah puas lah aku pacaran."
"Aku sudah mengenal Abang luar dalam. Kami sudah tahu baik buruknya sifat kami masing-masing. Jadi aku memantapkan diri untuk jadi ibu sesungguhnya."
"Aku bilang sama Abang dan kami langsung konsultasi ke dokter pas enam bulan kontrasepsi selesai.
"Dokter memberi pengarahan kami untuk persiapanya. Jadi kehamilan ini bukan tanpa persiapan. Kami melakukan program dibawah pengawasan dokter sejak berakhirnya masa suntik KB."
"Oh gitu. oke selamat. Yang penting kamu jaga kesehatan jangan terlalu lelah dan happy aja selalu." Ucap bude Sashi.
"Iya doain aja semua agar kehamilanku lancar," pinta Moya.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU