LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
DITUNGGUIN PACAR



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




'*Besok Abang jemput ya*,' sehabis makan malam Amora membaca pesan dari Dava.



'*Enggak usah. Besok enggak berangkat pagi, kuliah mulai jam 10.00*,' jawab Amora. Kalau berangkat siang tentu membuat Dava jadi tertunda berangkat kerja. Atau sudah sampai kantor jadi balik lagi.



Amora berpikir kalau Dava antar itu karena sekalian berangkat kerja.



'*Oke besok jam sembilan Abang sampai ke rumahmu*,' jawab Dava tak peduli terhadap penolakan Amora.



'*Terserah*,' Amora  meletakkan ponsel nya. Dia  sudah siap untuk belajar.



"Itu anak kebiasaan, selalu memutus pembicaraan tanpa pamit," Dava bersungut karena balasan pesannya sudah tak dibaca oleh Amora.


\*\*\*



Besoknya beneran, jam delapan pagi Dava sudah sampai rumah Amora. Dia takut Amora pergi sebelum dia sampai.



Padahal kan janjinya jam sembilan. Karena belum waktunya tentu saja Amora belum siap.



Semua sudah berangkat kecuali Amora, karena memang dia jadwal berangkat siang.



"Silakan duduk," kata Amora.



"Lho kenapa nggak langsung berangkat?" tanya Dava.



"Aku tanya apa maksudnya Om jemput?" Tanya Amora. Dia tak mau jadi beban dan tak mau jadi kapiran pulangnya nanti.



"Abang bukan Om!" 



"Whatever!"



"Jelas maksud Abang ya nganter kamu ke kampus lah," jawab Dava lugas.



"Aku biasa berangkat dan pulang sendiri. Aku enggak mau bergantung ke orang lain. Nanti pas Om enggak bisa kan aku jadi kalang kabut karena terbiasa bergantung ke orang lain," Amora berkelit tak mau di jemput oleh Dava.



"Sekarang aku diantar, lalu nanti aku pulang gimana? Lalu pas mau pindah lokasi gimana? Kan ribet."



"Ribet gimana sih? Udah Abang tungguin deh kamu mau pindah lokasi ke mana, dari ruang apa kemana?"



"Pulang nya ya Abang antar lah," jawab Dava.



"Jangan mentang-mentang boss lalu jadi seharian enggak kerja malah nongkrong di kampus deh," tolak Amora.



"Tetap kerja koq walau enggak di kantor. Udah urusan kerjaan enggak usah dipikirin. Kamu kuliah sampai jam berapa?" Dava jadi ingin tahu jadwal harian Amora.



"Hari ini cuma satu mata kuliah. Mulai jam sepuluh," Amora tak perlu memberitahu selesai jam berapa karena Dava dosen di kampusnya. Pasti tahu satu mata kuliah berapa menit.



"Ya udah Abang tungguin di kampusmu." Tegas Dava.



Malas berdebat Amora segera masuk kamarnya untuk bersiap.


\*\*\*\*



Sudah dua minggu sejak pembicaraan dengan kedua orang tuanya, Olivia mulai membereskan barang-barang pribadinya. Dia mulai packing karena rumah itu harus dikosongkan.



Davis dan Diane pun mulai packing. Foto-foto kenangan surat-surat dan barang kenangan lain sudah mereka packing dan kirim ke rumah mereka di Australia.




Davis dan Diane memang benar-benar akan meninggalkan Indonesia.



Dan sekarang satu minggu setelah kedua orang tuanya pergi. 



Sebelum pergi  Diane dan Davis sudah tak mau bertegur sapa dengan Olivia. Gadis itu sekarang sebatang kara, hal itu tambah membuat Olivia murka, bukannya sadar diri.



Olivia malah semakin menjadi-jadi. Olivia benci Dava dan dia benci semua orang yang tidak menjilatnya.



Di pekerjaan Olivia sulit mendapat order lagi walau rekomendasi tetap mengalir untuknya.



Di lapangan banyak yang tidak mau bekerja sama dengannya walau dia dapat rekomendasi. Para kru di bawah tak mau bila modelnya adalah Olivia. Sehingga sering terjadi konflik.



Karena lebih banyak nganggur tak ada order, Olivia mencari celah memantau Dava.



Sudah tiga bulan sejak pertunangannya batal. Sekarang dia akan mengikuti Dava.



Ternyata Dava tak ada di Jakarta. Sebagai mantan tunangannya tentu Olivia tahu di mana Daffa berada. Olivia pun langsung terbang ke Jogja.



Mengapa Dava bisa bertunangan dengan Olivia yang tak dikenalnya? Maksudnya kenal secara intim. Kalau kenal sosok sudah sejak dia kecil.



Selain dulu pernah ada janji lisan akan menjodohkan anak-anaknya, ibunda Dava 'senang' melihat sosok lembut Olivia yang dia pikir bisa menjinakkan Dava yang keras.



Jadilah ibunda Dava mendesak putranya untuk bertunangan. Sebagai anak tunggal, Dava tak ingin ibunya terluka pada penolakannya, sehingga dia manut saat disuruh tunangan.



Dava hanya lembut bila bicara dengan ibunya saja. Lalu sejak tunangan dia juga lembut pada Olivia, karena tak ingin sang ibu sedih.


\*\*\*



"Nanti Abang tunggu di sini. Jangan coba pulang duluan!  Jangan pulang sendiri!' begitu pesan Dava saat menurunkan Amora di kampusnya.



"Iya," jawab Amora singkat dia malas berdebat dengan Dava.



"Padahal tadi manis kok ngobrolnya. Kenapa pas dibilang enggak boleh pulang duluan atau pulang sendiri jadi jutek? Apa karena dia mau menghindar dari aku?" ucap Dava pelan saat Amora sudah turun dari mobilnya.



Dava melajukan mobil ke fakultasnya. Dia duduk di ruang dosen. Dava sudah menyalakan alarm sesuai jam pulang kuliah Amora.



"Tumben nih Pak Dava ada di kampus diluar jadwal ngajar," kata seorang rekan yang melihat Dava hadir saat tak ada jam mengajar.



"Lagi iseng aja," sahut Dava lalu dia membuka handphonenya untuk mulai bekerja.



"Loh tumben Dav,"  tanya seorang rekan yang sepantaran, maka tak menyebut dirinya dengan sebutan Pak.



"Lagi bete di kantor," Dava terus saja memperhatikan journal ditangannya.



Sesekali dia membuka emailnya dan membalas beberapa pesan yang butuh jawaban cepat.



Ponselnya bergetar, tanda alarm yang menandakan jam pulang kuliah Amora. Dava segera melajukan mobilnya ke arah fakultas kedokteran hewan.



'*Abang sudah di parkiran. Enggak nunggu di fakultasmu karena pacarmu lagi nungguin kamu*' Amora membaca pesan yang Dava kirim saat dosen baru saja menutup mata kuliah hari ini.



'*Pacar? Nungguin aku*?' Amora malah bingung sendiri karena dia tak punya pacar atau janjian dengan siapa pun. 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.