LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
DICULIK?



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Hari hampir maghrib di Jakarta, artinya Jogja sudah bedug maghrib saat ponsel Dava berdering.



Bukan dari ponselnya Amora melainkan dari ponsel Anto!



"Assalamu' alaykum, kenapa Dadd?"  Tak pernah Anto menghubunginya sejak mereka bertukar nomor telepon. Berkirim pesan saja tidak.



Setelah sering berkunjung memang Anto dan Dini menyebut diri mereka daddy dan mommy ketika bicara dengan Dava sehingga Dava pun menyebut mereka dengan panggilan itu.



"Apa Moya lapor padamu dia akan pergi kemana?" Tanya Anto hati-hati.



"Maksud Daddy?" Dava tentu tak tahu mengapa Anto bertanya seperti itu.



"Sejak siang ponsel Moya nggak bisa dihubungi mommynya. Tadi jam satu mommy pengen janjian di toko buku dengan dia. Sampai sekarang hp-nya juga belum aktif dan dia belum pulang. Moya tak pernah seperti ini. Apa kalian sedang ada masalah?" Tanya Anto.



"Kami tak pernah berkirim pesan. Kami bertukar cerita kalau ngobrol malam dan siang ini dia tidak mengingatkan saya untuk makan siang karena dia tahu saya *lunch* dengan rekanan dari Belgia."



"Dan kami bukan ABG yang saling ngambeg. Enggak ada masalah pada kami Dadd." Dava mulai panik.



Hermiena yang ingin mengajak putranya menjadi imam salat magrib kaget melihat wajah anaknya sangat pucat.



"Itulah. Daddy jadi bingung. Kalau ponsel lowbat dia pasti segera mencharge. Dia tak pernah membuat mommynya ketakutan seperti sekarang. Amora tak pernah ingin membuat mommynya ketakutan mikirin dia." Anto memberitahu kalaubputrinya tak pernah membuat masalah.



"Sudah tanya teman atau saudara lain?" Tanya Dava berupaya menenangkan diri sendiri.



"Kami tak punya nomor teman Moya. Dan kalau dia di rumah saudara pasti dia akan telepon ke nomor rumah. Dia hafal nomor rumah karena nomor ini adalah nomor sejak dia masih kecil." Anto ingat nomor rumah ini adalah nomor dia absen kekasih hatinya setiap hari ketika Amora berusia empat tahun. Setiap malam Anto akan telepon Amora di telepon rumah. Bahkan Anto sampai pasang alarm agar tak lupa.



"Ini papa Steve dan om Leo sedang meluncur kesini. Mommy sudah telepon ayahnya Moya."



"Saya akan terbang ke Jogja. Langsung ke kampus. Kabari semua perkembangan yang ada," tanpa menunggu persetujuan Anto, Dava memutus hubungan. Kalau kondisi normal tentu tak sopan. Tapi Anto dan Dava yang sama-sama panik tak peduli pada sopan santun.



"Pesan dua tiketnya. Bunda ikut," Hermiena langsung memutuskan ikut mencari calon menantunya itu. Dia tak ingin Dava sedih sendirian.



Dava memesan tiket ke Jogja lalu mereka segera salat Magrib dan berangkat ke bandara.



Ndaru, Ayahnya Dava hanya bisa mendoakan semoga gadis impian putranya bisa ditemukan dengan selamat. Ndaru tak bisa seenaknya pergi. Jadi dia membiarkan istrinya menemani putra tunggal mereka.



Jam sebelas malam Dava tiba di kampus. Dia meminta izin mencari Amora melalui CCTV dan juga data kegiatan Amora di kampus. Dari kegiatan itu Dava mendapat beberapa nomor ponsel teman Amora. Tapi mereka tak ada yang tahu dimana Amora berada.



Amora sudah keluar kampus jam setengah dua belas siang.




Dava minta rekaman CCTV parkiran motor. Terlihat pada jam dimana Amora datang CCTV ditutup kain hitam!



Dava minta rekaman CCTV parkiran mobil karena kalau motor dimatikan mungkin bisa cari rekaman dari sisi lain.



Dari rekaman parkiran mobil terlihat Amora sudah duduk lemas di sebuah mobil van besar berwarna putih sebelum pintu ditutup.



"Ya Va," Steve yang mengangkat telepon Dava. Padahal yang dihubungi adalah nomor Anto.



"Daddy dimana Pa?" Tanya Dava bingung.



"Daddy sedang menenangkan mommymu," jelas Steve.



"Pa, sejak tadi aku di kampus. Dari CCTV terlihat Amora sepertinya diculik, dibawa mobil van putih, dia sudah tak sadar."



"Aku sedang selidiki mobil berikut yang keluar adalah mobil lelaki yang mendekati Amora. Namanya Bayu. Aku sudah dapat nomor Bayu, tapi nomornya juga enggak aktif Pa."



"Bayu dari fakultas hukum. Dia tiga tahun lebih tua dari Amora Pa. Motor Moya, tas, dan helm ada terjatuh di parkiran. Moya enggak bawa identitas apa pun karena dompetnya ada di tas. Sekarang aku *on the way* ke rumah Pa," Dava memutus teleponnya. Dia segera menuju taksi yang dia naiki dari bandara. Hermiena menunggu di taksi sambil bicara dengan Kiran melalui ponsel.



"Dapat info apa Bang?" Tanya Hermiena pada Dava yang baru saja masuk mobil. 



"Ke Bumijo Pak," pinta Dava pada sopir taksi. Dava minta diantar ke rumah Anto. Dava tak membawa koper. Hanya koper kecil milik Hermiena yang dibawa.



Dava menceritakan semua hasil temuannya kepada bundanya agar bunda tahu segalanya.



"Motornya ada?"



"Ada Bun, juga tas dan helm nya. Sepertinya dia dibius saat akan pakai helm. Amor itu biasa tasnya ditaruh di stang dan buku ditaruh di bawah jok. Sedihnya dia enggak bawa identitas apa pun. Dompetnya ada di tas," Dava memberitahu hasil temuannya dia perlihatkan tas kuliah Amora yang dia bawa, juga kunci motor dan helm.



Akhirnya jam 02.00 dini hari Dava tiba di rumah rumah Anto di sana semua masih berjaga-jaga sambil terus mencari keberadaan Amora.



Dini dan yang lain berkenalan dengan Hermiena kembali. Dini lupa-lupa ingat pernah beberapa kali main ke rumah Hermiena ketika memanggil anak-anaknya yang senang ke rumah Dava karena mainan masa kecil Dava banyak dan Hermiena membolehkan mereka membawa pulang.



Anto bercerita dia sudah mencari data di kecelakaan lalu lintas di kepolisian dan di rumah sakit. Anto sudah memberi nomor teleponnya bila ada korban kecelakaan yang sesuai dengan ciri-ciri anaknya.



Semua kaget melihat rekaman CCTV yang Dava miliki. Terlihat Moya yang tak sadar di van putih yang ketika nomornya Steve minta lacak ke rekan polisi ternyata nomor itu palsu. 



Dini juga melihat dompet Amora utuh. Masih ada uang Rp 435.000 di dompet itu.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.