
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Satu bulan sejak foto-foto itu tersebar keuangan Olivia semakin menipis dia juga sudah tidak bisa menghubungi lelaki yang biasa membutuhkan desahannya sebagai pengantar tidur karena pasti ketahuan sama istri-istri mereka.
Pemotretan sudah nggak ada. Boro-boro pergi kunjungan lawatan ke luar negeri.
Jadi income Olivia sudah benar-benar minus.
Olivia sudah kalang kabut. Akhirnya bila bertemu dengan seseorang yang mau transaksi ya dia ladenin saja daripada dia kekurangan.
\*\*\*
"Ini beneran?" tanya Leo pada Steve.
"Yang gua dapet sih kayak gitu," Steve yakin pasti tak akan ada yang percaya bila hanya menyebut nama.
"Meragukan ah," Leo masih tak percaya melihat data yang terpampang di hadapannya.
"Meragukan gimana wong datanya valid kayak gitu," kata Steve.
"Ntar gua tunggu Anto aja. Elo bilang gitu," jawab Steve.
Three musketeers memang hari ini berniat ngumpul membahas persoalan penculikan Amora.
Mereka memang janjian ngumpul bertiga seperti zaman mereka muda. Bedanya perutnya Leo sekarang sudah mulai membuncit beda dengan Anto dan Steve yang tetap rata.
"Elu hamil berapa bulan?" Ejek Steve.
"Kurang ajar lu," Leo tak terima diejek Steve.
"Lu udah kayak bapak-bapak aja," Steve lanjut mengejek Leo.
"Wajar lah, anak gue tiga," Leo membela diri.
"Gua anak empat nggak gitu-gitu amat," Steve tak mau kalah.
"Diakui atau enggak elu emang udah bapak-bapak Yo," kata Anto yang baru saja datang.
"Lah kan memang udah bapak-bapak," sahu Leo.
"Tapi nggak gitu amat kali. Anak lu masih balita-balita. Anak gue sama si Steve udah ABG. Malahan anak gue udah mau nikah! Badan kita masih bagus aja," jelas Anto.
"Tapi kan lu juga dapatnya memang udah gede, udah 4 tahun!" Tetap saja Leo tak mau kalah.
"Buktinya Harry juga tetap kecil tuh perutnya. Badannya masih bagus aja daripada lu yang adiknya," kata Steve.
"Iya juga sih," akhirnya Leo kalah ketika dibandingkan dengan Harry kakak kandung nya, ayahnya Amora.
"Elo yang paling muda di antara kita tapi anak lu yang paling tua ya," protes Leo.
"Itu rejeki gue," jawab Anto.
"Sudah deh cepetan gua mau pulang cepet nih."
"Ini mungkin nggak?" Leo menunjukkan data yang diberikan oleh Steve.
"Enggak mungkinnya di mana?" Balas Anto tak mengerti alasan Leo.
"Dia kan sosok agamis yang berkarisma dia tuh nggak mungkin punya bisnis seperti itu," Leo mempertahanan alibinya.
"Padahal koruptor kan menghisap uang rakyat." Jelas Anto.
"Oke sekarang misal kita terima itu data betul, itu data valid lalu yang maju perang siapa?" Tanya Leo.
"Dava lah. Biar Dava majuin tuntutan karena calon bininya yang diculik," ujar Steve.
"Enggak. Gue yang akan maju. Gue ama Dini yang akan maju. Enggak akan gue lolosin itu perempuan karena yang dia senggol anak gue," jawab Anto geram.
"Elo siap ngadepin masalah ama tu orang gede?" Tanya Leo.
"Yang bermasalah ama penculikan anak gue cuma Olivia! Perkara dia lempar order ke penjual ayam sayur yang berkedok yayasan penyalur tenaga kerja ke luar negeri kan bukan gue?"
"Yayasan dibawah pimpinan orang gede itu kebawa-bawa ama Olivia. Bukan karena gue yang seret!"
"Gue enggak ada urusan. Nah soal menggeret nama petinggi biar netizen yang akan gulirkan." Ujar Anto.
"Enggak nyangka ya," ujar Leo.
"Sekarang banyak yang kayak gitu. Kamuflase dibalik topeng ketaqwaan," jawab Anto.
"Jadi serius elo yang maju?" Sekali lagi Leo bertanya meyakinkan dirinya kalau Leo akan maju membela putri sambungnya atau keponakan kandung Leo.
"Maju lah gue! Anak gue yang diculik kok. Kalau sampai lolos, dia bisa jadi penjaja \*\*\*\*." kata Anto.
"Serius lu berani melaju?" Leo masih tak percaya, karena yang akan dihadapi adalah pejabat yang terkenal santun dan agamis.
"Kenapa takut? Anak gua nggak salah kok." Jelas Anto.
"Nah sekarang masalahnya anak lu masih kuliah. Gimana dong? Enggak takut?"
"Dia bisa kok. Aku yakin dia bisa," kata Anton dengan percaya dirinya.
"Ya udah Bismillah aja," kata Steve.
"Kita berdoa aja jadi besok. Kalau datanya udah valid gini gua berani maju dan yang akan ngelaporin gua sama Dini kok bukan Dava."
"Dava udah maju saat kasus kemarin di pertunangannya sama Olivia."
"Pengacara lo masih yang lama itu yang muda Batak itu?" Tanya Leo.
"Pengacara gue kan Jawa. Yang Batak pengacara Steve. Gua pakai itu mungkin sama pengacaranya Dava kemarin," jawab Anto.
"Pakai pengacara gua aja," ujar Steve.
"Pokoknya gua mau Olivia hancur!"
"Kalau buktinya udah nyata kayak gini sih nggak mungkin nggak hancur," Steve yakin Olivia akan jatuh ke jurang terdalam.
"Oke besok pagi gua langsung ke kantor polisi bikin pengaduan."
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.
