
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Dava sudah pulang ke Jakarta dia ingin minta maaf pada bundanya.
Rupanya saat mengetahui Dava pulang bundanya langsung pergi.
"Bunda ke mana Yah?"
"Loh tadi ada," kata ayahnya bingung, karena yang menyiapkan sarapan dirinya adalah Hermien.
"Dari aku datang nggak ada," Dava sengaja ambil penerbangan pertama agar bisa ketemu kedua orang tuanya sebelum ayahnya berangkat kerja dan sang ibu sibuk dengan kegiatannya.
"Masa sih?" ayahnya langsung mencari istrinya di kamar.
"Bun," cari Rustam.
"Maaf Pak. Ibu memang tidak ada. Ibu sudah pergi," seorang pembantu memberitahu Rustam kalau Hermien sudah pergi.
"Kemana?"
"Ibu pergi ke Bandung sama rombongannya," jawab pembantu itu.
"Koq Ibu nggak cerita ke saya?" Rustam bingung karena istrinya tak izin juga tsk memberitahu perihal kepergiannya.
"Saya cuma dipesani itu Pak. Saya nggak tahu," jawab si pembantu.
Dava yakin sudah bundanya tak mau lagi bicara dengannya.
"Apa yang terjadi dengan sampai bunda seperti itu marahnya pada kamu?"
"Ayah nggak apa apa telat ke kantor?" Tanya Dava. Dia tak enak bila menjadi penyebab ayahnya terhambat bekerja.
"Enggak apa-apa Ayah ingin tahu kejelasannya," Rustam sudah mendengar dari sisi Hermien. Dia harus tahu dari sisi Dava agar balans.
Dava merinci semuanya tanpa ada yang disembunyikan.
"Bunda lalu langsung kasih ultimatum : *mulai saat ini kamu bukan anak saya*! bunda pergi Yah," jelas Dava.
"Terus kamu diem aja?" Tanya Rustam geram.
"Ya gimana, aku kasihan nanti perempuan itu sendirian."
"Kamu mikirin perempuan itu daripada ibumu sendiri? Wajar bundamu sangat marah, Ayah juga bilang kamu bukan anak Ayah!"
"Memang kamu sudah terlalu bodoh Dava. Selamat tinggal. Silakan keluar dari rumah ini." Rustam pun pergi berangkat kerja dengan geram.
"Astaghfirullahaladzim," kata Dava.
"Aku terlalu bodoh kenapa aku membiarkan rasa ibaku terhadap orang lain diatas segala-galanya daripada menghormati ibuku sendiri?"
Dava baru sadar bahwa semua kelakuannya adalah salah. Seharusnya walau pun itu istri dia harus lebih menghormati ibunya karena selama ini ibunya adalah perempuan yang baik dan benar.
Dava makin mengerti mengapa dia seperti ini. Tidak bisa lagi berpikir jernih. Orang tuanya aja sudah nyalahin dia lebih-lebih orang lain.
Malam itu Rustam juga tidak pulang dia sudah menghubungi Hermien, ternyata Hermien tidak pergi ke Bandung. Mereka pun menginap di hotel bersama untuk memberi pelajaran pada Dava kalau semua langkahnya adalah salah.
\*\*\*
Di rumah Dava makin sadar ketika kedua orang tuanya tak ada yang pulang. Keduanya benar-benar telah membuang dirinya. Dava putus asa. Baru kali ini dia terpuruk sangat dalam.
Dava mengambil ponselnya. Dia banyak bicara pada beberapa orang. Dia memberi ultimatum pada beberapa orang juga agar segera melakukan yang dia minta atau dia akan hancurkan orang itu bila deadline yang dia berikan tak dilakukan.
Dava sudah berada dititik nadir. Waktunya dia bertindak.
\*\*\*
'*Abang enggak kuat nanggung beban ini. Kesalahan demi kesalahan terus menimpa membuat Abang makin terpuruk*.'
'*Tak adanya maaf darimu membuat duniaku gelap. Ditambah ada kesalah pahamna baru yang membuat nama Abang semakin kelam*.'
'*Terima kasih pernah jadi lilin dalam duniaku*.'
'*Terima kasih pernah jadi setetes air saat aku dahaga*.'
'*Kamu cahaya hidupku, kamu sumber kehidupanku*.'
'*Maaf atas kesalahan yang tak sengaja mau pun di sengaja*.'
'*Abang selalu mencintaimu dan tak pernah berpaling pada siapa pun*.'
'*Hanya kamu cintaku My Amor*.'
Saat bangun untuk salat subuh Amora membaca banyak pesan yang Dava kirim. Setelah dua bulan tak pernah berkirim pesan apalagi bicara lewat telepon.
Amora tak mengerti apa isi pesan itu karena sejak tragedy traffics light, dia tak pernah mendengar khabar apa pun tentang Dava. Hidupnya kembali normal seperti sebelum dia mengenal lelaki itu.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang baru aja terbit dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND
Atau juga judul lain yang baru terbit dengan judul BETWEEN terminal BUBULAK ~ GIWANGAN