
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Amih, ini ada info nomornya A Apis," kata Eman pada mertuanya.
"Seriusan?" kata amih nya Davis dengan logat Sunda yang kental atau dialek Cirebon kental.
"Seriuslah," kata Eman.
Davis kaget mendapat panggilan dari nomor Indonesia. Tapi dia tidak berani menolak takut ada sesuatu dengan keluarganya.
"Koq bisa ada nomor Indonesia? Ini kan nomor baru." Diane kaget ketika Davis memperlihatkan nomor pemanggil. Kebetulan mereka ganti ponsel sehingga tak ada nomor yang mereka save.
"Kalau aku enggak angkat, bila ada hal urgent. bagaimana?" Davis dilema. Akhirnya dia membulatkan tekad mengangkat panggilan.
"Assalamu'alaykum," sapa Davis ragu.
"A'a ini teh Eman," suara diujung sana Davis kenal sebagai suara adik iparnya.
"*Kunaon Man*? Ada apa?" kata David.
"Ini *atuh* Amih mau bicara," Eman memberitahu kalau ibunya Davis ingin bicara.
"Oh iya enggak apa apa," sahut Davis.
'*Berarti habis ini aku harus ganti nomor lagi biar aman*,' kata David dalam hatinya tapi sekarang dia terima sambungan telepon dari amihnya dulu. Amih atau ibu yang memang meminta Eman menghubungi Apis atau Davis.
"Assalamu'alaykum," Davis memberi salam pada ibunya lebih dulu.
"Wa'alaykum salam." jawab si ibu.
"Kamu *teh* nggak perlu kabur begituh, Kamu *teh* nggak perlu takut. Amih sama Apah nggak marah kok sama kalian. Pulang *atuh*, kita hadapin bersama," kata amihnya.
Davis sampai menangis mendengar ibunya berkata seperti itu.
"Amih *teh* nggak apa apa sama Diane juga nggak apa apa. Udah kalian jangan buang diri seperti itu. Kumpul aja kita hadapi bersama. Kita perbaiki bersama. Kalau pun dia di penjara berapa tahun ya kita bina dari luar," kata amihnya.
Diane dan Davis menangis berpelukan.
"*Ulah kitu atuh*," kata amihnya. Jangan begitu.
"Amih mah nggak marah sudah daripada kalian buang diri jauh begitu kembali aja nggak apah apah."
"Amih tahu rumah kalian sini sudah dijual. Tetapi kalian pasti punya cukup uang untuk bertahan hidup. Kalian tinggal sama Amih dan Apa' juga bisa," ucap sang ibu lagi.
"Iya Amih, nanti kami diskusikan dulu," kata Davis.
"Oh dari tadi kamu dengar?" Jawab mertua Diane.
"Dari tadi aku speaker Amih," balas Davis.
\*\*\*
Hermiena senang karena Olivia sudah dilaporkan oleh calon besannya dia melihat memang kalau Anto maju sendiri tidak menggunakan nama Dava untuk lapor ke kepolisian.
Banyak yang bertanya pada Hermiena mengenai kata-kata Dava di infotainment, karena Dava mengatakan bahwa perempuan yang diculik adalah benar calon istrinya tentu saja semua kerabat bertanya pada Hermiena terutama saudara-saudara dekatnya.
"Memang, bulan depan aku akan mengadakan lamarannya Dava," Hermiena akhirnya berkata menjawab semua pertanyaan atas pernyataan Dava.
"Terus kapan nikahnya?" Desak kerabat yang lain.
"Oh aku nggak tahu kapan karenakan perempuannya masih kecil. Amor baru 17 tahun."
"Kamu bilang BARU 17 ? Dulu kamu nikah umur berapa?" kata kerabatnya. Hermiena langsung tertawa terbahak-bahak, karena memang dia nikah sangat muda bahkan KTP aja belum punya.
Waktu itu dia nikah baru 16 dan baru resepsi saat dia berumur 17 sesudah kelahiran si kembar.
"Jadi lamarannya di Jogja?"
"Iya di Jogja. Sepertinya cuma keluarga inti aja nggak bikin besar-besaran kayak waktu lamarannya Dava ke Olivia. Cuma menyatakan bahwa kami itu serius. Resmi nikahnya nantilah nunggu anak tersebut siap.
\*\*\*
Satu bulan berlalu. Olivia sudah terbukti bersalah. Karena memang sidangnya marathon agar bulan puasa sudah ada keputusan.
Olivia dijatuhi hukuman 6 tahun penjara sedang si ustad sudah jelas-jelas terlibat dia masih lama sidangnya dan itu tidak ada urusannya dengan Prasetyanto Soekarso.
Jadi kasus si ustad tidak Anto ikuti. Jadi dibiarkan saja oleh mereka yang penting Olivia sudah kena hukuman 6 tahun penjara.
Davis dan Diane yang datang di saat ketok palu hanya bisa menangis melihat anak mereka terkena jeratan seperti itu. Olivia juga senang orang tuanya datang begitu pun ada neneknya.
Di pihak Anto yang datang adalah dirinya dan Dini, Steve, Leo dan Dava. Amora tak boleh hadir.
Saat menghadiri persidangan sebagai saksi korban Amora selalu mengenakan hijab dan masker sehingga tak pernah ada yang tahu wajahnya.
Tak ada yang bisa menolak cinta kasih dari kedua orang tua maka Olivia pun sadar selama ini dia terlalu banyak salah karena sering berbohong pada kedua orang tuanya. Olivia berjanji untuk kedepannya dia akan berubah menjadi sosok yang lebih baik.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.
