
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Setiap pagi kini Dini dan Anto sudah tak aneh bila Dava telah datang untuk sarapan bersama. Bukan cari irit tentunya. Buat Dava kalau hanya sekedar sarapan mewah setiap hari saja dia masih mampu.
Dava memang sedang pendekatan dengan semua anggota keluarga Amora. Dia bukan hanya mendekati Amora. Dia ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Dia mulai "berkenalan" dengan Arya, Abbhie dan Aqiel.
Dava mencatat semua info dalam memorinya. Kesukaan tiga lelaki kecil itu, pantangan mereka dan hal lainnya.
Anto mengagumi ketelatenan Dava yang anak tunggal. Anto jadi ingat Steve yang juga anak tunggal dan sekarang memiliki empat anak dengan adiknya.
Formasi anak Steve juga sama dengan dirinya. Anak sulung perempuan lalu ketiga adiknya semua lelaki.
Kadang pulang kerja Dava ada di rumah walau Amora tak di rumah. Karena Dava memang tidak janjian dengan Amora melainkan dengan salah satu adiknya.
Dava membiarkan Amora bebas latihan atau pulang sendiri seperti yang perempuan itu mau. Mereka hanya bersama pagi hari saja. Malam mereka ngobrol sebentar melalui telepon.
'*Jangan telat makan*!' itu yang sering Dava dapat bila siang.
'*Kalau yang ini balas ya, udah makan belum*?' pesan seperti ini akan Dava baca satu jam setelah peringatan pertama.
Hanya pesan seperti itu saja. Tak ada kata sayang yang lebay.
Dava hanya membalas singkat. '*Sudah*' atau '*sebentar lagi makan, sudah pesan koq*.' atau bisa juga '*ini lagi makan*'.
Tak ada perintah lebay mengingatkan salat atau selamat tidur seperti pasangan pacaran pada umumnya. Karena mereka bilang mereka bukan pacaran.
Hari ini Amora tak ada kuliah pagi. Dia ada praktek jam satu siang nanti. Maka Dava mengajak Amora ke kantornya.
"Sepertinya bukan adik, big boss kan anak tunggal. Mungkin keponakannya. Gadis cantik. Polos ya. Enggak dandan. Aku pernah lihat kalau tunangan bigboss kan seorang model yang dandanannya menor," bisik yang lain.
"Tuti," Dava menyebut seorang PR dengan name tag Prastuti.
"Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?" Tuti yang dipanggil tentu tak mau kesalahan bila tak segera menjawab panggilan pemilik perusahaan itu.
"Beritahu semua temanmu dan satpam, gadis ini calon istri saya. Kalau dia mau masuk kapan pun jangan halangi walau saya sedang rapat."
"Siapa pun yang melarangnya akan saya pecat. Tak ada yang bisa menahan dia, tak boleh ditahan baik disini mau pun di ruang saya," jelas Dava.
Amora jadi tak enak Dava bicara seperti itu.
Mayoritas karyawan Dava tahu Dava bertunangan dengan Olivia hampir dua tahun lalu. Tapi tak ada yang tahu pertunangan itu telah berakhir enam bulan lalu.
Di dalam, di lantai tiga Dava juga melakukan pesan yang sama ada sekretarisnya. Selama ini Dava belum pernah satu kali pun membawa tamu pribadi maka sekretaris Dava sangat senang mendapat kejutan ini.
"Saya Indraswari. Panggil saya Arie aja Bu," pinta sang sekretaris dengan sopan.
"Hallo Mbak Arie, panggil saya Amora saja, tak perlu memanggil Bu," dengan tulus Amora memperkenalkan dirinya.
"Kalau begitu saya akan panggil dengan Mbak saja. Tidak sopan rasanya bila langsung panggil nama," Arie tentu tak mau dianggap tidak sopan dengan calon istri bigbossnya itu.
Hari itu sehabis dari kantor Dava baru Amora ke kampus diantar oleh Dava. Sekalian mereka makan siang sebelum Amora masuk kuliah.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.