
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Daddy!" Dava sedang bersiap berangkat kerja ketika melihat Pak Amir memarkir mobilnya.
Dava melihat Amora berlari keluar sambil berteriak lalu memeluk lelaki yang berada di kursi depan sebelah sopir.
'*Oh itu daddynya Amora yang sekarang. Lumayan ganteng! Menurutku lebih macho ayahnya. Mungkin karena muka Ambon. Kalau lelaki ini lebih terlihat* ***wise*** *dan meneduhkan mata yang memandangnya. Sepertinya dia bukan dari Ambon seperti ayahnya Amora*,' pikir Dava.
Posisi Dava yang di kanan mobilnya dan posisi Amora dan daddynya yang di kiri mobil om Amir tentu membuat mereka berdiri dalam jarak cukup dekat.
"Dadd, kenalin. Itu teman kak Aldo. Dia yang temani Mbak belanja baju. Dia juga temani kak Aldo sampai siang di pemakaman opa kemarin," Amora memperkenalkan Dava yang akan berangkat kerja.
"Dava Om," Dava menghampiri Anto dan mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Anto. Terima kasih telah membantu putri saya saat saya sedang tak bersamanya," Anto memperkenalkan dirinya sekalian mengucapkan terima kasih.
"Iya Om sama-sama. Mari Om saya harus nguli dulu," pamit Dava.
"Om enggak bisa ngebayangin bagaimana tajirnya mandormu kalau kulinya pakai mobil sport seperti ini," jawab Anto.
Dava terkekeh sebelum dia mengucap salam pada Anto.
'*Oh rupanya dia lelaki Jawa. Mungkin itu sebabnya mommynya Amora tinggal di Jogja. Sedang orang tua dan kedua kakaknya saja ada disini*,' pikir Dava. Dava menebak Anto berasal dari Jawa berdasarkan namanya
\*\*\*
"Mbak udah nungguin Daddy dari tadi," kata Amora bergelayut di lengan kekasih hatinya.
"Nah udah deh langsung lupa sama daddy Amir, lupa sama kak Aldo kalau daddy Anto datang," goda Aldo yang memberi salim menyambut kedatangan suami tantenya itu.
"Iya Kak, tahu gitu tadi daddy Anto enggak daddy jemput," Amir pun melengkapi godaan Aldo. Kata-kata Amir yang juga bersiap untuk berangkat kerja membuat semua tertawa.
Kalau maunya Anto dia tak perlu dijemput. Dia bukan anak kecil. Tapi Amir ngotot akan menjemput adik iparnya itu.
Selesai sarapan sambil istirahat dan ngobrol sejenak, Amir pun berangkat kerja.
Anto lalu bersih-bersih karena waktu mereka mepet.
"Ayo kita siap-siap ke tempat ayahmu," ajak Anto pada putrinya. Anto mengenakan kemeja biru dongker yang disiapkan Amora.
Tadi saat selesai makan memang Amora memberikan baju yang dia beli kemarin.
"Dadd kalau nggak ada baju warna gelap, ini kemarin Mbak belikan."
"Tadi pas landing Daddy jadi baru ingat loh. Untung kamu siapin," kata Anto.
Amora juga menggunakan baju biru dongker. Mereka menuju rumah Harry.
\*\*\*
"Turut berduka ya," kata Anto pada teman masa kecilnya itu.
"Makasih," kata Harry sambil memeluk erat suami mantan istrinya.
"Tadi jam 06.00 pagi sampai rumah mbak Kiran."
"Ceritanya kami nggak bisa lama-lama. Nanti habis makan siang kami ke bandara. Penerbangan kami jam 05.00 sore. Soalnya Amora juga harus ujian semester kan. Jadi hari ini harus pulang ke Jogja," Anto memberitahu Harry kondisi Amora yang tak bisa lama-lama mbolos.
"Iya terima kasih banget dia bisa datang," ulas Harry.
"Dan aku mohon maaf baru datang, sehingga kemarin nggak bisa ikut ke pemakaman papa. Dini juga gitu serius kami mohon maaf nggak bisa datang. Bukan nggak mau datang."
Leo yang lebih akrab dengan Anto daripada Harry menepuk-nepuk bahu sahabatnya. Mereka dulu bertiga dengan Steve bersahabat sejak muda.
"Kamu tahu lah kondisi kami. Tiga anak itu nggak bisa kalau pas ujian nggak ada mommynya." Jelas Anto.
"Iya saya ngertiin kok, bagaimana kalian ngasuh anak-anak. Saya dan opa berterima kasih banget kamu udah ngasih yang terbaik buat Amora," kata Harry sambil kembali mendekap erat Anto.
Kerabat yang ada di situ melihat bagaimana akrabnya Harry dan suami Dini sekarang.
Mereka akhirnya tahu bagaimana hubungan baik antara Dini dan keluarganya Harry.
Ternyata memang Dini tidak bisa datang bukan karena tidak mau!
Itulah pemikiran manusia kadang kalau belum lihat apa-apa udah salah menilai.
"Kapan balik ke Jogja?" Tanya Anto pada Leo.
"Setelah selesai kebaktian tujuh hari. Kasihan Vionne kalau urus sendiri. Harry kan enggak ikut kebaktian," jawab Leo.
\*\*\*
Sesuai dengan jadwal, Anto dan Amora pulang dari Duren Sawit setelah makan siang. Saat itu yang ada di rumah hanya Kiran. Aldo, Farid dan Farhan serta Amir semua sudah keluar sejak selesai sarapan tadi.
'*Abang minta nomor telepon Amora. Lusa Abang ke Jogja. Kali aja bisa minta ketemu ama dia*,' Aldo membaca pesan yang Dava kirimkan.
Saat pulang dari pemakaman selintas Aldo mengorek mengapa Dava intens ikut kegiatannya sejak opanya Amora meninggal.
Dava cerita sejak di pesawat dia punya perasaan yang belum pernah dia rasa sebelumnya pada perempuan mana pun termasuk pada Olivia mantan tunangannya.
"Mantan?" Tanya Aldo saat itu.
Dava lalu menceritakan awal dia dan Olivia tunangan dan akhir pertunangannya.
'*Gini aja Bang. Aku punya sesuatu alasan buat ketemu Amora*,' Aldo memberi jalan.
Aldo tak menghalangi niat Dava. Usia Dava yang selisih jauh bukan halangan baginya karena mommynya juga bude Sashi juga selisih usia dengan pasangannya cukup jauh. Bude Sashi dan pakde Teguh selisih usia 13 tahun sedang kedua orang tuanya selisih delapan tahun.
Dava secara ekonomi juga mapan. Dia anak tunggal. Tapi yang Aldo suka dari Dava dia penyayang dan sangat perhatian pada siapa pun. Aldo menilai Dava bisa mengayomi princessnya.
Tentu saja Dava tak menolak pertolongan Aldo untuk membuatnya lebih mudah bertemu dengan Amora besok lusa di kampus UGM.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.