
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Dini sedih saat mendengar mbak Kiran, kakaknya mengabari mantan mertuanya meninggal. Dia juga bingung karena tak bisa datang ke Jakarta.
Karena tak bisa dia berangkat ke pemakaman mantan papa mertuanya.
Dini langsung menghubungi Harry.
"Maaf Har. Bukannya nggak menghormati papa. Anak-anakku sedang akan ujian semester dan Anto sedang ada di Malaysia sehabis dari Singapore kemarin. Aku nggak bisa ninggalin mereka bertiga."
"Disini aku nggak seperti di Jakarta, enggak ada yang bisa aku mintain tolong jaga anak-anak," kata Dini.
"Ya aku ngerti kok," balas Harry.
"Kamu ngerti tapi orang lain akan menuduhku nggak perhatian sama papa." Keluh Dini.
"Aku akan jelasin." Harry tahu mantan istrinya sangat sensitif bila berhubungan dengan pendapat orang lain.
"Tadi aku juga udah telepon sama Risye. Aku juga udah jelasin ke dia kondisiku, tapi kan dia ipar. Aku telepon Leo sulit sekali nggak bisa. Aku hubungi Vionne juga enggak nyambung-nyambung. Aku jadi nggak enak," nada bicara Dini penuh sesal.
"Aku akan bilang sama adik-adikku bagaimana kondisimu saat ini. Toh di sini juga sudah ada Amora. Amora bisa jelasin, bukan kamu nggak menghormati papa. Aku tahu kamu juga pengen ke sini," Harry mengerti semuanya.
"Aku ngertiin kondisimu nggak ada yang jagain tiga anak dan kalau nggak ujian aku yakin kamu akan bawa mereka kesini," Harry membujuk Dini agar tak perlu risau berkepanjangan.
"Oke, sekali lagi turut berduka ya Har. Semoga kalian rela melepaskan papa," Dini kembali memberi ucapan turut berduka.
"Anto baru pulang lusa. Dia akan jemput Amora. Anto bilang akan ke rumah papa sebelum dia kembali ke Jogja."
"Iya terima kasih atensinya," jawab Harry.
\*\*\*
Mendengar opanya Amora meninggal Aldo langsung menuju ke rumah sakit. Aldo tahu adiknya butuh support dari dia.
"Kak Aldo," Amora yang sedang ditemani oleh Dava langsung berlari memeluk kakak tercintanya.
"Mommy nggak bisa ke sini. Adik-adik kan besok ujian. Mommy nggak mungkin tinggalin mereka. Kasian mommy bingung karena daddy masih di KL," isak Amora.
"Kakak tahu kondisi mommymu, dia mantan menantu, kalau nggak datang nggak enak tapi gimana dia ngadepin tiga anak dan daddymu sedang di Malaysia," Aldo merekam semua ucapan Aldo itu dalam benaknya.
'*Orang tua Amora ini bercerai sejak kecil sehingga Amora punya tiga adik yang harus dijaga maminya karena papanya lagi ke Malaysia*.'
"Mommy sudah telepon ayah buat kasih tahu, tapi mommy tetap nggak enak sama keluarganya ayah yang nanti ngira mommy nggak hormatin opa," jelas Amora lagi.
"Biarin aja mulut orang. Mereka kita jelasin apa pun tetap aja nyinyir," Aldo mengusap punggung adiknya.
"Tadi Mami udah telepon tante Risye juga karena telepon Om Leo nggak bisa-bisa, nomornya om Leo sibuk. Mommy telepon tante Vionne juga susah," Amora mengadukan kegalauannya.
"Udah nggak usah dipikir. Kamu sekarang mau pulang dulu atau bagaimana? Apa langsung ikut ke rumah duka?" tanya Aldo.
"Aku nggak bawa baju Kak. Lagian kalau menurut adab mereka kan bajunya hitam. Masa aku pakai baju cerah begini nggak pantes kan Kak?" Amora bingung.
"Aku nggak menyiapkan opa meninggal. Aku berharap opa sembuh! Sehingga aku enggak prepare bawa baju gelap dari Jogja," kata Amora ketus.
"Ya jangan ketus gitu juga kali. Aku cuma tanya," lanjut Dava lagi.
"Kalau begitu aku temani kamu beli baju gelap. Mau ditemani sama Abang enggak?" Dava menyebut dirinya Abang agar tak dipanggil OM.
"Adikmu panggil aku Om, Do! Konyol kan anak ini," protes Dava pada Aldo.
"Lagian Om ini nganggap aku anak kecil Kak," Amora membela diri.
"Ya udah kalian pergi dulu aja, aku bicara dengan Om Harry dan Om Leo dulu," kata Aldo. Dia memang anak paling tua dari keluarga neneknya Dini.
"Kalian pergilah cari baju. Kamu bawa uang kan l?" tanya Aldo pada adiknya.
"Banyak. Uangku cukup. Daddy kasih uang aku banyak kok. Tiap bulan juga nggak pernah kurang. Tenang aja kalau uang," kata Amora lagi.
"Lagian pergi sama Big Boss ngapain juga bingung uang," kata Aldo.
"Manalah dia mau ditraktir sama om-om," kata Dava sarkas.
Amora hanya diam saja.
Amora dan Dava pergi keluar sebentar untuk mencari pakaian yang pantas di rumah duka.
"Jangan cuma beli satu atau dua hitung dimulai dari sore ini lalu besok pagi sampai malam jadi kamu enggak bingung cari ganti," saran Dava. Lelaki mapan itu mengendarai mobilnya menuju butik yang dia biasa datangi.
"Iya Om," jawab Amora.
"Ubah panggilanmu itu, ganggu di telingaku," protes Dava. Walau usia mereka selisih sebelas tahun. Tapi rasanya enggak enak dipanggil Om oleh gadis kecil ini.
"Kayaknya enak panggil Om deh," jawab Amora santai.
Dava menghentikan mobil sportnya di butik langganan mamanya.
Amora memilih empat pakaian gelap dengan model sederhana yang dia pikir pantas digunakan saat suasana berduka.
Amora juga juga membelikan satu buah kemeja untuk daddynya. Mungkin nanti daddynya butuh baju gelap. Amora takut Anto nggak prepare baju gelap.
"Beli kemeja buat siapa?" tanya Dava melihat Amora mengambil baju biru dongker.
"Buat daddyku. Takutnya dari KL dia nanti enggak ada kemeja gelap. Besok daddy jemput kan akan mampir ke rumah duka. Kan nggak enak kalau daddy pakai baju cerah, saltum!"
'*Kamu anak bau kencur, tapi segitu atensi terhadap keluarganya*,' pikir Dava.
'*Padahal Olivia yang sudah berumur aja boro-boro mikirin orang lain. Nggak pernah dalam benaknya mikirin orang lain! Ini anak kecil malah atensi pada semuanya. Dia sampai bingung mamanya nggak bisa dateng. Dia bingung pandangan orang lain terhadap mamanya karena nggak datang di pemakaman Opanya. Anak kecil yang luar biasa*,' pikir Dava lagi.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.