LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
MAKLUMIN AJA, DIA ANAK KECIL



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Habis salat Maghrib saat sedang dipersiapkan makan malam. Amora menelpon Aldo.



"Terima kasih bukunya udah sampai Kak," ucap Amora di telepon.



"Wow cepet juga," Aldo senang. Bukan soal bukunya telah sampai. Tapi soal pertemuan Dava dan Amora.



"Kurirnya kilat Kak," ujar Amora lagi.



"Baguslah."



"Kakak bayar dia berapa sampai sekilat itu," Amora menggoda Aldo.



"Ha ha ha, pakai cinta antar sahabat," jawab Aldo.



"Kurir Kakak masih nyangkut disini. Dia ditahan sama mommy dan daddy," ujar Amora memberitahu masalah Dava yang tertawan sore ini.



"Iya kah?" Tanya Aldo tak percaya.



Amora pindah ke video call. Dia perlihatkan mommy dan daddynya sedang ngobrol dengan Dava di ruang tengah. Bukan di ruang tamu!



"Malah nyangkut nih Kak," lapor Amora.



"Baguslah kali-kali aja jadi menantu nya mommy Dini," goda Aldo.



"Iih Kakak apaan sih," rajuk Amora.



"Ya nggak apa apa kalee, jodoh kan enggak ada yang tahu," kata Aldo.



"Aku belum mikir ke arah sana." Amora menepis soal jodoh.



"Enggak mikir ke arah sana tapi pernah bilang kan : Suatu saat kamu ingin menikah dengan pasangan yang seperti mommy dan daddy mu yang cinta sehidup semati sejak awal." Aldo sejak kecil sering jadi teman ngobrol yang nyaman buat Amora. Jadi dia tahu luar dalam bagaimana sosok yang didamba adik kecilnya.



"Iya sih," kata Amora.



"Ya udah Kak makasih ya. Jangan kapok. Kata mommy kalau titip-titip itu aku harus bayar. Nanti aku nggak boleh titip lagi ama mommy kalau dikasih gratis terus."



"Ya nggak apa apa nanti kamu titip aja pembayaran ke Abang kurirnya." Ucap Aldo santai.



"Kurirnya lebih-lebih nggak mau tuh di bayar. Bayar baju aja dia tolak gimana sih Kak."



"Uang segitu mah nggak ada artinya buat CEO seperti dia."



"Waduuuu … Ya udah ya Kak. Makasih. Assalamu'alaykum," Amora memutus pembicaraan.



"Wa'alaykum salam. Salam buat mommy dan daddy ya."



"Iya Kak. Aku juga titip salam buat mommy Kiran dan daddy Amir ya."



"Iya sama-sama nanti Kakak sampaikan."



'*Mulus nih kayak jalan tol*!' goda Aldo pada Dava. Dava yang merasa ada pesan tak berani membaca karena sedang ngobrol dengan Dini dan Anto. Dia hanya tahu ada notif pesan saja.




"Kamu kapan akan kembali ke Jakarta?"



"Tergantung sih Om kan sebenarnya perusahaan saya itu ada Godean sini. Di Jakarta itu hanya cabang. Biasanya disana saya hanya dua hari buat nengok mama aja. Karena saya anak tunggal. Mama enggak rela saya tinggal disini."



"Saya kalau diam tanpa kerja rasanya sayang buang waktu. Jadi bikin cabang di Jakarta. Nengok mama tapi enggak buang waktu. Saya di sini sampai satu bulan gitu, di Jakarta tiga hari."



"Kemarin saya tiga bulan di Jakarta karena ada trouble yang butuh attensi saya lebih banyak."



Dini dan Amora sudah tidak keluar lagi menemani Dava pulang. 



Sejak selesai makan, Amora langsung masuk kamar tak peduli ada tamu. Jadi Dini pun merasa tak perlu lagi menemani Dava. 


\*\*\*



"Ha ha ha mulus apanya?"  kata Dava dia langsung menghubungi Aldo melalui telepon tidak melalui pesan. Dava menggunakan earphone.



"Lah itu tadi langsung di ajak makan malam sama calon mertua?" Goda Aldo.



"Iya tadi tante Dini itu asik ngobrol tentang pekerjaan dosen. Dan Om Anto juga ngobrol masalah perbankan. Udah gitu aja sih, dianya malah nggak mau deket. Habis makan malam dia langsung masuk kamarnya sampai aku pamit."



"Dia keluar sebentar lalu masuk lagi," adu Dava.



"Sabar aja Bang. Namanya ama anak kecil."



"Aku ngerti," jawab Dava.



"Ini ceritanya baru pulang Bang?" Tanya Aldo.



"Iya habis makan malam. Kalau orang tuanya sih baik mereka welcome," lapor Dava.



"Iya memang Om Anto dan Tante Dini memang selalu bersikap baik pada siapa pun. Walau orang itu telah menyakiti mereka."



"Maksudmu?"



"Tante Dini dan om Anto pernah terpisah cukup lama. Karena tante Dini harus menikah dengan Om Harry akibat adanya Amora di perut tante Dini akibat perkosaan yang dilakukan om Harry."



"Oh gitu tapi aku salut pada om Anto yang masih sangat baik ke om Harry." 



"Itulah hebatnya keluarga besar eyangku dan keluarga Om Anto. Mereka orang-orang yang sayang pada sesama."



"Iya kemarin aku lihat eyangmu, orang tuamu juga bude Sashi sangat baik terhadap ayahnya Amora."



"Kalau Tante Dini aja yang ditikam om Harry secara langsung bisa memaafkan mantan suaminya. Mengapa mereka tidak? Gitu kan pada prinsipnya. Memang kesalahan ada di ketidak tegasannya Om Harry."



"Om Harry itu terlalu ditekan oleh mamanya. Dia jadi boneka mamanya lalu berontak tapi terlambat. Tante Dini nggak mau lah dibawah tekanan mertuanya."



"Akhirnya om Harry ambil jalan yang salah. Dia kembali ke kenakalan awalnya. Dia main perempuan dan kembali menggunakan narkoba sehingga tante Dini minta cerai."



"Iyalah kalau sudah dikhianati kayak gitu pasti nggak ada perempuan mau," jawab Dava.


\*\*\*



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.