LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
BEST COACH



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Dengan perjuangan sekuat tenaga Menik meraih juara III tingkat nasional.



Amora sangat bangga anak didiknya berhasil meraih juara karena dia sedang kurang fit akibat cidera. Dan anak didiknya yang lain memegang juara 1 atau medali emas tingkat nasional.



Berarti Amora akan mendapat bonus sebagai coach.



Sejak kemarin Abbie serta Aqiel datang. Anto dan Dini ingin Aqiel dan Abbie mulai mengenal arena pertandingan tingkat nasional.



Prestasi Arya hebat. Dia memegang dua medali emas dari dua kategori yang dia ikuti.



Benar-benar hebat!. Dava bangga dengan prestasi Arya.



"Itu kan Dava Mom,"  kata Anto.



"Memang. Dia kan ketua panitia nasional." Jawab Dini santai.



"Lho, Mommy tahu?" Anto gak percaya dia letinggaln info.



"Ya tahulah Arya kan lapor kala Dava ketua panitia nasional sejak pembukaan digelar."



"Saat melihat Arya  langsung lapor." Jawab Dini.



"Wow hebatnya," Anto kagum pada calon menantunya yang bisa menjadi orang penting dalam event nasional.



"Dia kan sensei, sudah DAN berapa gitu deh." Kata Dini.



"Dia biasa ikut kejuaran mewakili Indonesia koq, dia udah biasa ikut di event internasional dari kecil.  Makanya saat Arya masih segitu sudah bagus prestasinya dia bilang terus tingkatkan sehingga nanti masih SMA Arya sudah bisa sampai tingkat tinggi."



"Arya akan terus berprestasi baik. Insya Allah," kata Anto.



Anto dan Dini kemarin sempat bertemu dengan Amora sebentar, tapi Amora langsung kembali lagi karena persiapan malam final.



Acara penutupan kejurnas akan segera dimulai. Persiapan sedang dilakukan.



"Abaaaang," teriak Aqiel.



Dava kaget mendengar suara anak kecil berteriak, Dava menoleh, dia tersenyum dan melambai pada Aqiel. Simon melihat ada anak kecil melambai-lambai pada Dava.



'*Itu orang tuanya Dava*,' kata Simon dalam hatinya. Dia tidak tahu bahwa itu adalah orang tuanya Amora.



"Medali ini punya Mommy. Perempuan terhebat dalam hidupku." Arya mengalungkan medali yang dia raih di leher Dini. Dini tak percaya melihat putranya mendapat medali emas. Dini menangis terharu.



"Nanti kalian harus lebih hebat dari pelatih, terus juga belajar di sekolah yang benar. Pelajaran sekolah juga nggak boleh jelek nilainya."



"Kita nggak boleh menyerang orang lebih dulu kalau mereka duluan ya kita lawan. Kita enggak boleh nindas orang lemah dan tidak bersalah," kata Arya pada Aqiel  dan Abbie.



"Ya Mas kami ngerti," kata Abbie.



"Mas kembali lagi ke sana ya,"  amit Arya.



Sebelum kembali ke arena Arya memeluk Anto.



"Proud of you Son,"  kata Anto.



"Aku bangga Daddy adalah ayah terbaik untuk aku untuk Mbak Moya yang bukan anak Daddy," kata Arya. Biar bagaimana pun Arya tahu Amora bukan anak Anto.



"Semua anak Daddy. Tidak ada yang bukan anak Daddy." Arya kembali memeluk Anto.



'*Oh itu adiknya Amora. Jadi beneran mereka tunangan bukan hanya bualan Arya.  Aku pikir hanya celoteh anak kecil semata. Ya udah aku mundur aja*.' Simon melihat ternyata anak kecil tadi adiknya Arya, itu artinya adiknya Moya, bukan adiknya Dava.


\*\*\*



"Kenapa Moya?"



"Orang tua saya datang, dua hari stay di sini jadi saya tidak ikut pulang bareng kontingen."



"Oh ya oke nggak apa-apa.  Ketika pertandingan usai hari ini maka tugas sebagai pelatih telah selesai. Tinggal tugas mendampingi pulang hingga tiba di Jogja saja."



"Tanggung jawabmu sebagai pelatih sudah selesai begitu pertandingan usai."



"Saya pamit nanti aja setelah penutupan. Barang saya juga semua masih di camp."



"Kedua orang tua saya dan dua adik saya datang, mereka datang karena ingin memperkenalkan kedua adik saya arena pertandingan sebenarnya."



"Ya memang mereka harus dididik dari kecil."



"Iya justru Mommy and Daddy perkenalkan arena yang real."



"Saya senang dengan sikap orang tua kamu," kata ketua Kontingen Jogja.




"Ya nggak apa apa," kata ketua Kontingen Jogja yang mengerti kalau Amora dijemput oleh kedua orang tuanya.



"Dadd,  Mom," sapa Dava. dia lalu menghampiri kedua orang tua Amora dan memberi salim.



"Loh kamu di sini?"



"Iya Dadd, kebetulan saya ketua panitia." Jawab Dava merendah.



"Daddy baru tahu barusan. Mommy nggak cerita padahal Arya dari pembukaan itu selalu cerita ke mommy tapi Mommy nggak cerita ke Daddy."



"Arya prestasinya hebat banget," puji Dava.



"Iya Alhamdulillah," kata Anto. 



Saat itu MC mengumumkan nama Arya kembali menjadi juara. Arya akan mendapat medali.



"Maaf Mom, Dadd saya dipanggil," pamit Dava.



Medali untuk Arya akan diserahkan oleh ketua panitia kata MC-nya. 



Dava lalu menyerahkan  medali emas pada Arya.



Selanjutnya dipanggil pelatih terbaik karena anak asuhnya banyak mendapat medali.



Saat itu nama Amora dipanggil dan mendapat piagam penghargaan dari Menpora yang didampingi oleh ketua panitia.



Ada kebanggan di dadaa Amora, dad4 Dava dan juga dad4 Dini dan Anto melihat prestasi Amora.



"Selamat ya."



Amora berkesempatan foto bersama Menpora. Foto bertiga dengan ketua panitia dan Menpora. Dan foto berdua dengan ketua panitia yang sekaligus tunangannya sendiri.



Selanjutnya Arya dan Dava kembali ke dekat Dini dan Anto sedang Amora dikerubuti oleh semua anggota kontingen DIY.



Kali ini Arya menyerahkan medali untuk Anto.



"Ini medali buat Daddy sebagai prestasi Daddy menjadi Ayah terbaik buat kami berempat."



Tentu saja Anto bangga dan terharu atas dedikasi dari anaknya.



"Terima kasih Son kamu yang terbaik semua anak Daddy adalah yang terbaik"


\*\*\*



"Mommy sama Daddy nginep di mana?" 



"Di hotel atlit," jawab Dini.



"Terus mau pulang kapan?"



"Kami mau liburan di sini dua hari lagi. Moya juga pindah ke hotel mulai malam ini," kata Dini.



"Kamu ikutan aja," kata Anto.



"Ya Dadd. Saya akan atur waktu. Besok pagi kami  panitia meeting evaluasi."



"Nanti sehabis itu baru saya gabung sama Mommy dan Daddy."



"Oke kita tunggu," kata Anto. Saat itu Moya datang.



" Selamat ya Dek. Kamu hebat," kata Moya.



"Terima kasih," Dava dan Moya masih sama-sama kaku.



"Kamu juga hebat kok"  kata Dava. 



"Atlet binaan kamu hanya dua kan yang nggak dapat juara.  Yang lainnya semua juara malah Menik yang terluka aja bisa juara."



"Itu karena prestasi mereka karena kehebatan mereka bukan kehebatan aku sebagai pelatih," Moya merendah.



" Tanpa pelatih atlet itu nggak ada apa-apanya," kata Arya.



"Wah adiknya Mbak udah hebat ya."



"Hebat lah anak momny dan Daddy, kok nggak hebat,"  kata Arya lagi.



Mereka semua tertawa kekakuan mencair perlahan-lahan. Dari kejauhan Simon melihat bagaimana keakraban Dava dan keluarganya Arya.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA