LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
DUA ATAU SATU?



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Bagaimana Dok? Dua atau satu?" tanya Dava penasaran.



"Kenapa anda memprediksi dua?"



"Saya tidak memprediksi, saya hanya berharap, lebih tepatnya istri saya sangat berharap. Saya dari keluarga kembar. Jadi wajar kami ingin punya bayi kembar juga." Jelas Dava mengapa dia bertanya soal kembar atau tidak kehamilan Moya kali ini.



" Kali ini harapan kalian belum terwujud. Bayinya satu yang ini," dokter menunjuk satu titik di monitor.



"Janin baru memasuki usia tiga minggu. Kemarin jadi ikuti program penjadwalan?" Tanya dokter.



"Jadi Dok," balas Dava.



"Yang mana? Perempuan atau laki?"



"Kami berusaha yang laki Dok. Tapi hasilnya nggak tahu Dok."



"Ya kita berharap benar dapatnya laki-laki."



"Kami patuh sesuai dengan waktu subur Dok," jawab Dava.



"Kalau tepat perhitungannya maka kalian akan mendapat hasil yang pas sesuai dengan keinginan," jelas dokter sambil dia menuliskan resep.



"Ibu ada keluhan?" tanya  dokter.



"Saya mudah capek Dok. Padahal saya bukan orang yang kolokan," Moya memberitahu kondisinya saat ini.



"Saya tahu ibu karateka kan?"



"Iya betul Dok,"  Moya membenarkan tebakan dokter.



"Saya melihat wajah kalian dilayar TV."



"Iya Dok, makanya saya bingung sekarang saya sering capek dan sering ngantuk."



"Nggak apa apa,  itu biasa nggak bahaya. Ada keluhan lain? mual muntah atau pusing?"



"Enggak sih Dok."



"Kalau mual muntah nggak ada ini resep vitaminnya. Anda bisa datang satu bulan ke depan.  Dan ini resep kalau memang merasa mual baru ditebus. Kalau nggak,  nggak perlu ditebus biar nggak buang-buang uang.  Saya pisahkan resepnya sendiri takutnya tercampur dengan vitamin lain."



"Terima kasih," kata Dava. Mereka pun pamit.



Dava sangat senang karena hasil testpack ternyata akurat. Moya benar sedang hamil.


\*\*\*



"Beli susunya di apotek sini apa di supermarket aja?" tanya Dava. Dava dan Moya berupaya semua tidak diputiskan sendiri. Mereka sedang belajar agar rumah tangga mereka harmonis.



"Ke supermarket aja, pengen beli yang lain." Jawab Moya.



"Jadi disini hanya beli vitamin tadi?



"Ya Bang."



Pulang dari rumah sakit Dava dan Moya langsung ke supermarket mereka membeli banyak bahan terutama barang dapur yang habis.



"Abang kayaknya sabun pelnya juga habis deh."



Dava pun mengambil apa yang diminta oleh Moya.



"Apalagi yang habis ya, aku lupa. Tadi kan nggak niat belanja, jadi nggak bikin listnya. Yang aku tahu pasti bahan makanan aja yang kosong."



"Ya udah kita hunting bahan makanan dulu. Karena kamu nggak boleh perut kosong," ujar Dava.




"Kan tadi Dokter bilang wajar namanya orang hamil. Jangan dikhawatirkan," 



"Oh ya kamu mau yogurt?"



"Aku nggak suka sih, tapi bolehlah beli satu atau dua botol kecil aja buat kalau pas kepengen. Sekarang sukanya salat Abang."



"Kamu setiap hari lo makan salad."



"Enggak tahu sekarang suka banget ama salad."



"Kalau gitu sekarang kita beli bahannya aja ya, jadi bikin tiap hari."



"Iya Bang, beli mayonaise sama mustard aja tambah krim keju."



Mereka pun membeli semua kebutuhan buah buat salad  buah dan juga kebutuhan sayuran buat salad sayur.



"Ada kol ungu mau?"



"Ya Bang aku suka dia crispy."



"Kalau paprika?"



"Paprika ambil yang kuning sama yang unggu juga deh."



"Bukannya sama aja kan?" 



"Iya, tapi warnanya jadi beda bikin cantik penampilan saladnya,"  kata Moya.



"Apalagi?" 



"Kejunya Abang, jangan lupa yang banyak."



Mereka pun ngambil keju banyak.



"Smoke beef-nya juga Bang."



"Owh bener ya smoke beef," kata Dava lagi.



"Belanja pak dosen?" tanya seorang gadis.



"Iya masa di sini mau baca buku?" jawab Dava ketus sambil menarik Moya meninggalkan perempuan itu.



"Abang jangan kayak gitu.  Dia kan basa-basi." Moya berupaya mengingatkan suaminya.



"Ya lagian aneh kan? Di sini masa mau beli gado-gado atau baca seperti di perpustakaan, namanya di supermarket ya belanja lah," kata Dava.



"Abang kok kayak orang PMS? Abang jadi emosian, apa karena kebawa hormon  hamil, jadi Abang yang emosian gitu?"



"Enggak Abang paling males kalau dengar basa-basi dari orang."



'*Andai kamu tahu licik dan kotornya perempuan tadi*,' lanjut Dava dalam hatinya.


\*\*\*



"Lagian kamu kenapa negor dia sih," tegur teman si perempuan tadi.



"Kan tahu dia sekarang udah punya istri. Dia belum punya istri aja udah ketusdan enggak suka diganggu. Apalagi sekarang," kata temannya lagi.



"Aku masih penasaran aja mau taklukin dia." Jawab pelaku yang menegur Dava tadi.



"Jangan macam-macam.  Dua-duanya karateka. Kalau mau ngejebak lagi mungkin kalau dia sendirian kita bisa bikin pak dosen terkapar, tapi dia sekarang ada pendampingnya. Akan lebih sulit mendekati dia."



"Kamu ingat, dulu dia enggak perpanjang kasus aja bagus. Kalau sekarang dia enggak akan bekukan persoalan karena ada istri yang harus jelas kalau dia dijebak seperti dulu."


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND