
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Hari resepsi semakin mendekat. Kali ini Dava dan Moya mempersiapkan homestay untuk menampung semua keluarga yang ingin menginap.
Tiga buah homestay yang masing-masing berisi 5 kamar.
Siapa pun nanti bisa tinggal di situ selama tiga hari yaitu satu hari sebelum resepsi. Hari resepsi dan satu hari sesudah resepsi.
Diluar tiga hari itu mereka tanggung sendiri. Tentu semua senang karena tidak perlu harus mencari hotel dan membayarnya. Semua sudah dipersiapkan oleh Dava.
Homestay juga dekat dengan gedung yang akan jadi tempat resepsinya sehingga tidak memerlukan waktu yang lama dan jauh.
\*\*\*
Sejak pagi Amora serta keluarga termasuk para eyang juga Hermien dan Rustam serta Harry sudah tinggal di hotel tempat resepsi.
Harry sudah datang, dia juga sudah ada di hotel tempat resepsi ini. Harry tidak mendampingi Amora karena yang akan mendampingi Amora adalah Dini dan Anto.
Semua orang kan tahunya Dini dan Anto sebagai orang tua dari Amora begitu pun di undangan yang ditulis adalah nama Dini dan Anto karena mereka memang yang mengadakan pesta resepsi ini bersama dengan Hermien.
Jadi wajar, dan Harry juga nggak marah karena sudah tahu. Dia diberi kesempatan untuk datang saja sudah suatu keberkahan.
\*\*\*
Dava pangling melihat Moya istrinya. Moya baru saja selesai di rias.
Mereka sudah menikah enam bulan, dia sudah hafal setiap inchi tubuh istrinya, tapi begitu Moya dirias dengan pakaian adat pengantin Jawa ~ Jogja, Dava sangat terpesona.
Sejak tadi Dava sudah melihat kedua orang tuanya dan orang tua Moya menggunakan baju pendamping pengantin.
Dava dan kedua pasang orang tua sudah selesai di rias sejak tadi. Mereka memang menunggu Moya keluar dari kamar rias hotel yang Dava sewa khusus agar tak ada yang ganggu.
"Bismillah ya Yank," bisik Dava.
"Iya," jawab Moya.
"Kamu enggak apa apa?" Dava bertanya penuh rasa khawatir.
"Aku enggak apa-apa. Sudah tenang aja," balas Moya berupaya menenangkan suaminya yang sangat khawatir.
'*Jadi ini gadis kecil yang aku pikir kabur ke Jakarta kala itu*?' Dava memandang istrinya dia ingat first impression nya pada saat melihat sosok Moya di pesawat menuju Jakarta ketika itu.
“Maaf, saya keluarkan dulu ransel saya agar kopermu bisa masuk dengan mudah,”Dava melihat sosok gadis kecil agak kesulitan memasukkan kopernya di cabin, karena ada ransel miliknya yang menghalangi.
Gadis itu mundur memberi ruang pada Dava.
“Ok, silakan duduk biar saya yang atur,”Dava mempersilakan gadis kecil itu untuk duduk di kursi sesuai dengan nomor tiketnya.
Dava melihat gadis kecil itu sibuk mengirim banyak pesan.
"Kamu beneran sendirian? Kamu masih terlalu kecil untuk pergi jauh sendirian,” tegur Dava kala itu. Dava tak percaya ada orang tua yang melepas gadis kecilnya pergi sendirian naik pesawat dari Jogja ke Jakarta.
“Iya Om.”itu kalimat yang pertama Dava ingat. Gadis kecil itu memanggil dirinya **OM**!
“Berapa usiamu, mengapa memanggilku Om? Sepertinya selisih usia kita tak terpaut jauh!” protes Dava ketika itu. Panggilan Om sangat tak nyaman dia dengar masuk kegendang telinganya!
“Tadi anda bilang saya terlalu kecil, jadi wajar kalau saya panggil anda Om. Karena hanya orang tua yang menganggap saya terlalu kecil!”gadis kecil itu menjawab dengan ketus.
'*Nyalinya terlalu besar*!' itu pendapat Dava kala itu. Dava tak tahu kemampuan bela diri gadis yang dia anggap sangat muda dan lemah.
“Fine, maaf saya salah. Tapi serius kamu terlalu muda untuk melakukan perjalanan jauh sendirian!" lanjut Dava saat itu.
"Saya bahkan bukan anak SMP. Saya sudah kuliah. Jadi anda tak perlu khawatir. Dan saya tidak minta anda momong saya!”
Deg!
Dava kaget mendengar jawaban ketus gadis belia itu.
Dava tersenyum sendiri mengingat kenangan manis pertemuan dengan istri tercintanya itu.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU