
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Mbak, mau dibawain apa sama Mommy?" Dini langsung bertanya begitu Anto bilang Dava mengundang mereka semua buka puasa esok lusa.
"Terserah Mommy lah. Namanya mau bawa, kan enggak ada keharusan?"
"Siapa aja yang diundang?" Dini memastikan berapa orang yang akan datang.
"Enggak ada yang diundang lah Mom. Abang cuma kabarin keluarga papa, keluarga kita sama keluarga Om Leo. Abang kan nggak punya keluarga di sini," jelas Amora.
"Oh gitu, jadi Mommy siapin jumlahnya kan sesuai yang datang," ujar Dini.
"Mommy, jangan hitung jumlah mulut Mom, tapi hitung jumlah perut."
"Bedanya apa?" Dini malah bingung dengan istilah Amora.
"Mulutnya Aqiel aja udah 3 perut itu kan? Belum satu Abbhie, berapa tuh perutnya, yang agak bener cuma mulutnya Arya aja," ujar Amora menjelaskan apa yang dia maksud.
"Belum satu mulutnya Om Leo Itu kan dia 5 perut tuh," tambah Amora lagi.
"Oh ya oke, oke. Mommy ngerti sekarang maksud kamu."
\*\*\*
"Moya, Mama harus bawa apa?" tanya Sari saat menghubungi Amora.
"Mau bawa apa terserah Mama. Mau bawa baju satu lusin buat aku juga nggak apa apa, nggak nolak tuh yang dari butik banyak kan?" Canda Amora.
"Iih matre," kata Sari.
"Ya kapan lagi? Wong Mama nawarin Amora mau dibawain apa."
"Buat bukber terserah deh Mama rundingan aja tuh sama mommy dan tante Risye. Pasti sebentar lagi dia telepon aku juga nih kayak Mama yang nanyain suruh bawa apa."
"Padahal aku nggak nyuruh loh ntar kabarin aja bawanya apa biar aku nggak bikin dobel."
"Oke kalau gitu Mama ngobrol sama tante Risye dan mommymu aja. Nanti mama kasih tahu hasil keputusannya pada bawa apa."
\*\*\*
"Abang kita mau ngapain bikin buka bersama cuma ketempatan rumah doang," kata Amora saat mereka ngobrol malam sehabis tarawih.
"Kenapa Yank?" Dava jadi bingung.
"Aku udah ditanyain tuh sama ibu negara akhirnya mereka berunding mau bawa apa aja. Tadi mama Yai bilang mau bawa es buah, tante Risye mau bawa puding atau kolak dia nggak tahu yang penting dia mau bawa itu. Lalu Mommy mau bawa lumpia Semarang."
"Kita mau bikin apa jadinya?"
"Itu kan berarti takjil semua Yank. Enggak ada makanan pokoknya. Kita pesan makanan pokok aja."
"Mau menu apa?" Tanya Dava.
"Pengennya cuma ayam panggang aja udah nggak ribet. Kalau buka puasa tuh pada males makan. Lebih-lebih udah makan takjil," kata Amora.
"Ya udah kalau cuma ayam panggang mah Abang bisa bikinnya."
"Mau ayam bakar bumbu kemiri yang pedas atau bumbu kecap?"
"Enaknya gimana?" tanya Dava.
"Kayaknya kalau puasa sih ya kalau pedes kasihan perut, tapi kalau bikin yang kecap kalau yang suka pedas nggak enak," balas Amora.
"Ya wis, Abang bikin dua-duanya deh. cuma bikin ayam bakar aja?" kata Dava.
"Itu aja lah, nanti tinggal beliin kerupuk-kerupuk aja kan, sama lalapan perlu nggak ya?" Tanya Amora.
"Boleh sih cuma buat garnishnya aja lalapan ya," kata Dava.
"Ya udah kan besok kita belanja jadi tahu cuma beli bumbu ayam panggang aja. Pakai sop nggak?" Dava bertanya karena ada anak kecil yang akan datang.
"Oh iya lupa. Bikin aja sedikit deh. Sop bakso buat anak-anak." Ujar Amora.
"Abang bikin list apa aja yang mau dibeli biar enggak lupa ya?"
"Oke siap," kata Dava. mereka memang biasa ngobrol malam.
\*\*\*
Amora sudah satu kali ke rumah Dava dan melihat kebutuhan perabot buat buka puasa bersama sudah lengkap.
"Alat yang buat bakarannya udah ada Bang?" tanya Amora.
"Abang mau beli alat pembakaran yang buat kompor aja nggak usah pakai arang," kata Dava, alat itu sudah ada dalam list belanjaannya.
"Moyaaaaa," panggil seseorang saat Amora sedang melihat panggangan sate untuk dia beli walau buat panggang ayam sedang dicari Dava.
"Eh iya," Amora langsung berbalik badan melihat Shinta bersama ibunya. Amora dengan sopan bersalaman dengan ibunya Shinta.
"Kamu belanja sama siapa?" tanya Shinta.
"Sama tunangan aku," jawab Amora santai. Untung dia dan Dava sudah membuat keputusan akan mulai membuka jatidirinya.
"Mana tunanganmu, biar aku kenalan," pinta Shinta.
"Abang," panggil Amora pad Dava. Yang menengok dan menghampiri Amora membuat Shinta sesak napas.
"Kenapa Yank?" tanya Dava.
Shinta tentu kaget melihat siapa sosok tunangan Amora.
"Jadi ini tunangan aku dan yang diculik adalah aku," kata Amora tersenyum.
"Ya ampun," Shinta menutup mulutnya dia tak percaya bahwa dia pernah bilang menyukai Dava di depan Amora.
"Kenalin Bu ini tunangan saya," jelas Amora pada ibunya Shinta.
"Kamu sudah tunangan?"
"Sudah Bu." Sahut Dava.
"Sedang cari apa?" Tanya ibunya Shinta ramah.
"Kami cari panggangan untuk besok. Kami mau bikin buka puasa bersama dengan keluarga besar Amora," kata Dava.
Shinta diam saja, ternyata memang Moya dan Dava benar-benar pasangan setengah resmi yang selama ini nggak ada yang tahu.
"Kamu cari apa Shin?" kata Amora.
"Cari rice cooker untuk tambahan di rumah. Kami antisipasi kalau buat sahur," kata Shinta.
"Iya kalau ada adik kecil kasihan kalau telat sahur," kata Moya.
"Iya yuk kami lanjut ya," kata Shinta.
"Mari Pak Dava," pamit Shinta.
"Mari silakan," balas Dava ramah.
"Itu salah satu yang suka ama Abang," jelas Amora.
"Enggak usah diceritain. Abang nggak ada hubungannya." Dava malas membahas hal seperti itu.
"Cuma kasih tahu doang," jawab Amora.
"Ya nggak apa apa tapi nggak usah lah. Abang juga nggak pengen tahu kan." kata Dava lembut.
"Abang udah dapet alat panggangnya, sekalian itu bisa juga buat sate loh," kata Dava memperlihatkan barang yang dia akan pilih.
"Ya udah ambil aja," kata Amora lalu mereka pun mengetes barang itu apakah berfungsi dengan baik.
\*\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.
