LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
KAMU HEBAT YANK!



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



Sebagai pelatih putri tentu Amora sibuk dengan atlet binaannya.  Simon adalah pelatih putra.



Simon mendekati Amora lima bulan lalu, satu bulan sebelum Amora berpisah dengan Dava. Simon  beda kampus. Dia dari Sanata Dharma.



Simon nggak nganggap Simon. Tapi saat seperti ini tentu saja Amora juga nggak mau membuat Simon jadi tameng terhadap Dava untuk bikin Dava cemburu, itu sangat kekanak-kanakan dan bisa berbahaya mengingat kemampuan berkelahi Dava bukan tandingan Simon.



Bisa jadi karena merasa tak mampu bertarung sendirian nanti Simon ngajak ngeroyok Dava. Kan bisa bahaya. 



'*Itu bukan gayaku! Childish banget*!'



Upacara pembukaan selesai mereka masing-masing ke camp yang berbeda.



Camp untuk Putri terpisah jauh dari camp Putra dan tentu sebagai pelatih pendamping Amora focus pada binaannya.



Pada saat itulah Arya melihat Dava tapi dia tak berani menegurnya.



Dava bingung apakah Arya juga marah padanya sehingga tak mau menyapanya.



"Halo Dek," sapa Dava.



"Abang hebat jadi ketua panitia. Mas ( dirumah Arya terbiasa dipanggil Mas, sehingga dalam percakapan dalam keluarga dia menyebut dirinya Mas ) nggak berani tegur Abang. Takut Abang malu punya adik aku." Jawab Arya jujur. Dia tentu tak tahu permasalahan Amora dan Dava. Dia hanya tahu Dava tak pernah datang lagi dan di meja makan tak pernah ada percakapan tentang Dava.



"Jangan kayak gitu lah.  Abang bangga kamu mewakili Jogja."



"Iya di kompetisi tingkat bawah sangat ketat, tapi aku Alhamdulillah berhasil bisa terpilih," kata Arya.



"Selamat bertanding ya Dek, semua itu harus kita mulai dari bawah dan kejujuran kitalah yang akan menjadi pemenangnya. Enggak usah berharap medali yang penting kamu siap bertanding."



"Itu adalah pemenang utama!"



"Daddy juga bilang gitu prestasi terbaik adalah kejujuran dan keikutsertaan kita, bukan medali yang kita raih."



"Kalau kita dapat medali itu adalah bonus itu yang dia ditanamkan pada aku dan Mbak sejak dulu."



"Pantas kalian selalu berprestasi, rupanya dibalik kesuksesan kalian ada daddy yang hebat," puji Dava.



"Hallo Sensei Dava, apa khabar?" Sapa Simon yang baru datang ingin mendekati Arya sebagai jalan mendekati Amora.



"Alhamdulillah baik," kata Dava.



"Sensei kenal calon adik iparku?" Dava mendengar Simon mengatakan tentu sedikit kaget.



"Apa kalian sudah jadian?" Tanya Dava santai, dia tak menjawab pertanyaan Simon.



"Belum sih masih PDKT. Sulit kali dia ditembusnya." Walau telah lama kuliah di Jogja tetap saja dialeg atau logat Medan Simon sangat kental.



"Baik saya permisi dulu," pamit Dava.



"Dan buat kamu, selamat berjuang!" Dava memberi tepukan pelan di bahu Arya.



"Iya Bang," jawab Arya.



"Kamu kenal dengan Sensei Dava?" Tanya Simon saat mendengar Arya memanggil Dava dengan panggilan Abang.



"Kenal, dia tunangannya kakakku," jawab Arya.



Simon langsung kaget mengetahui Dava adalah tunangan dari Amora. Dan dia tadi dengan pede-nya berkata sedang pedekate pada Amora.


\*\*\* 



Hari pertama pertandingan. Semua fokus pada jadwal yang ketat. 



Pertandingan putra dan putri di lakukan di GOR yang beda.




Amora sebentar - sebentar melihat dua sudut yang berbeda karena dua anak asuhnya turun dalam waktu bersamaan di kelas berbeda.



Tak ada nervous didada gadis manis itu. Dia terbiasa ikut pertandingan sejak dia kecil.



"Wooooiiiiii!" Teriak banyak penonton saat anak binaan Amora jatuh dan cedera!



Amora segera berlari mendekap kepala adik asuhnya.



"Tenang sayang, enggak apa-apa. Tenang," bisik Amora menciumi kening gadis kecil yang terisak.



Gadis kecil itu sedih karena tak akan terus bisa berlaga bila dia cedera.



Wasit langsung bertindak menghentikan pertandingan.



Banyak mata melihat kecurangan lawan. Dia yang sudah tahu kalah telak sengaja menjegal lawan dan menarik bajunya agar jatuh! 



"Saya minta rekaman pertandingan di sebar ke semua juri tanpa diedit! Saya akan perkarakan ini bila ada kecurangan dengan mengedit rekaman. Banyak saksi mata!" Teriak Amora tegas. Banyak yang merekam aksi Amora itu.



Aksi Amora yang teriak minta keadilan langsung sampai di ponsel Dava.



"Saya minta rekaman asli pertandingan." Tanpa menunggu Dava menghubungi ketua wasit dan juga kepala ruang CCTV.



Tentu aksi Amora banyak pendukung. Mereka juga benci kecurangan. Wasit juga dari tadi terlihat berat sebelah.



Nama Amora mencuat di event kali itu sebagai Srikandi. Dia berjuang untuk kebenaran.



Selain diberi bantuan medis, Menik, atlet yang terluka ditangani oleh orang dari team Jogja yaitu ahli tulang patah dan salah urat.



Bila hanya ditangani secara medis, sampai akhir pertandingan Menik tak akan bisa turun berlaga lagi karena dia keseleo di tumitnya. 



Dava tiba di ruang kesehatan. Dia menyapa Menik yang sedang ditangani pak Bagyo tentu didampingi oleh Amora.



Yang mendampingi peserta lain yang sedang bertanding rekan pelatih lainnya.



"Bagaimana kondisi dia Pakde?" Tanya Dava pada pak Bagyo.



"Sore bisa mulai pulih mas Dava. Besok bisa turun asal malam ini Menik bisa tidur nyenyak. Barusan sudah dianjurkan banyak minum coklat sussu agar dia mengantuk."



"Tak akan diberi obat yang membuat dia tidur karena takutnya itu digunakan pihak lawan ngajak test urine," sahut pak Bagyo yang sudah kenal Dava lebih dari lima tahun saat Dava terluka di pertandingan si Vietnam karena mereka satu team perwakilan dari Indonesia.



Amora hanya diam saat Dava tepat berada didepan matanya.



"Semangat ya Dek. Sensei yakin kamu bisa terus bertanding dan juara. Kamu sudah menang di pertandingan tadi karena lawanmu sudah ketahuan curang dan dia dicoret sebagai peserta." Dava mengacak rambut Menik.



Menik tak percaya dia menang. Artinya dia akan maju ke babak berikutnya, dia miringkan badannya memeluk Amora dan menangis bahagia di pelukan pelatih tercintanya itu.



"Mbak bilang apa? Kita harus percaya kebenaran pasti menang!" Bisik Amora.



"Iya Mbak," jawab Menik.



Amora menghapus air mata dipipi Menik dengan tissue.



"Kita tak boleh menangis dalam kondisi apa pun!" Kalimat ini jelas terdengar oleh Dava dan pak Bagyo karena Amora mengatakan dengan volume normal bukan berbisik.



'*Kamu hebat Yank, kamu tegar. Tak seperti aku yang sangat terpuruk dengan perpisahan kita*!'



Siapa bilang Moya tak terjatuh?



Siapa bilang empat bulan ini dia tak terpuruk?



Ikuti curhatan hati Amora di bab berikutnya ya.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER