
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Tidak terasa sudah satu minggu Dava dan Amora perang dingin Amora sudah kembali ke rumah orang tuanya sejak dua hari menginap di rumah Rina. Amora bertekad akan hadapi apa pun yang terjadi tak mau menghindar lagi.
Aldo juga sudah kembali ke Jakarta. Mommy Kiran marah besar saat mengetahui Aldo terlibat dalam perkara ributnya Amora dan Dava. Dini dan Anto tak pernah bicara hal itu pada siapa pun bahkan kepada Leo dan Harry. Mereka tak mau memperpanjang masalah.
Hermiena langsung minta maaf by phone karena dia tahu dari Kiran tentu saja Kiran tahun lagi Aldo karena Aldo ngaku dia takut dimarahin bila Dini lapor pada Kiran. Padahal Dini tak bicara apa pun.
Dini dan Anto juga nggak pernah tanya pada Amora bagaimana kelanjutannya. Mereka tak mau menambah ribut jadi dibiarkan saja apa pun keinginannya Amora.
Di hari jam ngajarnya Dava sering seharian di kampus dia memperhatikan Amora dari jauh.
'*Aku kangen kamu Yank*.' Dava benar-benar tak berani mendekat.
\*\*\*
Hermiena minta bertemu dengan Dini dan Anto.
"Silakan aja datang," jawab Dini.
"Aku nggak enak sama kamu. Gimana kalau kita bertemu di luar?"
"Boleh silakan," kata Dini.
"Mau bertemu di mana dan kapan?"
"Nanti malam jam 07.00 kita makan malam."
"Oke."
\*\*\*
"Beneran Mommy mau pergi sendiri?" kata Anto.
"Ya aku mau sendiri aja."
Dini dan Hermien bertemu berdua saja.
"Sudah lama?" tanya Dini sambil bersalaman dan mencium pipi calon besannya.
"Enggak aku baru datang." Jawab Hermien.
"Mana Dava?"
" Dava nggak tahu aku ke sini." Mereka pun pesan makan dulu.
"Mau ngomongin apa sih?" tanya Dini.
"Aku serius nggak tahu kejadian itu. Aku tahu dari Mbak Kiran."
"Padahal aku nggak pernah cerita ke siapa pun," kata Dini.
"Ke mbak Kiran pun aku nggak cerita. Karena menurut aku ini masalah anak-anak biarin lah anak-anak yang selesaiin."
"Tapi karena masalah sudah melebar Ya silakan aja yang penting aku nggak pernah nyeritain ke siapa pun."
"Bisa dicek ke mbak Kiran dia dapat info dari mana."
"Aku tahu nggak ada yang kamu ceritain. Lagian mbak Kiran tahu dari Aldo. Dia ketakutan dimarahin kalau mamanya tahu dari orang lain."
"Biasanya ada hal apa pun Dava selalu cerita. Yang aku pikir Dava putus asa atau dia takut gagal karena baru kali ini dia jatuh hati."
"Daripada cemas nunggu mending aku tahu cerita dari kamu." Ungkap Hermiena.
"Pada prinsipnya sih kalau aku itu urusan anak-anak, biar aja mereka yang selesain. Tapi kebohongan itu tidak bisa dimaafkan apa pun alasannya."
"Walau entah alasan untuk menolong orang, entah untuk surprise seperti yang Dava bilang atau apa pun namanya. Bohong itu memang nggak ada rujukan pembenarannya. Itu kalau versi aku."
"Tapi ya terserah aku nggak akan halangin kalau Amora mau maafin, aku juga nggak akan halangin kalau Amora mau nunda dan aku juga nggak akan halangin kalau dia mau batalin karena nanti yang rumah tangga kan dia."
"Aku cerai ama Harry itu karena kebohongan - kebohongan. Sejak awal aku udah bilang, sekali bohong nggak ada maaf."
"Awalnya kami menikah terpaksa karena aku hamil, pasti tau kan cerita kenapa aku hamil diluar nikah."
"Aku bilang satu kali dia bohong sama aku nggak ada maaf. Tapi karena demi Amora aku bertahan walau beberapa kali aku tahu dia bohong! Aku masih coba bertahan."
"Aku tahu dia depresi, dari dia mulai merokok lagi adahal dia berhenti merokok sejak aku hamil."
"Sejak Moya lahir dia depresi karena mamanya nekan dia."
"Aku tanyain ke dia, kamu ngerokok? Dia jawab enggak. Dia bohong aku tahu karena bajunya kecium bau asap rokok."
"Aku diemin dia berbohong malah saat aku tegur dia bilang CUMA masalah kecil gitu aja aku marah."
"Kata cuma itu sangat besar artinya. Pertama dia bisa bilang ngerokok gratis cuma enggak enak ditawarin teman."
"Lalu besok-besok karena terbiasa merokok lagi, pas enggak ada yang kasih, mulut asemkan? Dimulailah CUMA kedua yaitu cuma beli satu batang."
"Nanti akan ada CUMA berikutnya sampai beli satu bungkus lalu mulai mendekati narkoba lagi."
"Dan benar! Harry benar-benar balik ke narkoba, dia ketangkap waktu lagi mabuk narkoba. Itu feelingku."
"Aku bilang sama dia mungkin pertama kamu sekedar say hello sama mantan-mantan teman tidurnya, lalu sekedar cium pipi akhirnya ke ranjang dan bener dia ketangkap sedang di ranjang perempuan begituan!"
"Apa kita salah kita punya feeling? Kemarin Moya bilang dia bukan anak kecil yang gampang ditipu!"
"Mungkin Dava mikir seperti itu, anak kecil rumahan, bukan anak kecil yang bergaul bebas seperti Moya pasti gampang dibohongin!"
"Karakter aku sama Moya bertolak belakang. Aku bisa maafin Harry yang sudah jelas dia memperkosa dan menyelingkuhi ku berkali-kali aku bisa terima dia lagi dan keluargaku bisa rangkul dia lagi."
"Aku lihat \*\*\*\*\*\* di dompetnya kayak apa coba? Aku tahan semua buat Moya."
"Aku mudah marah tapi mudah maafin. Moya enggak! Sifat Moya kayak Harry. Dia bukan type pemaaf!"
"Itu karakternya dasarnya Moya yang nurun dari sifatnya Harry. Egois dan nggak mau kalah. Moya enggak akan maafin apa pun."
"Itu yang aku takutkan. Aku kemarin udah bilang sama Dava, aku nggak bisa bantu, mau ngomong apa yang ngejalanin rumah tangga nanti Moya bukan aku."
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIED ya.
