LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
KEPERGIAN OPA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Sashi dan Teguh datang bersama anak tunggal mereka. Masih beruntung bude Sashi bisa punya anak setelah menikah sembilan tahun.



Anak tunggal mereka biasa dipanggil Arjuna walau namanya  Dhairya Zulfikar.



Usia Arjuna sama dengan Abbhie adik kedua Amora. Adik pertama Amora bernama Arya.



"Ini bandeng kecap spesial lho, cuma buat eyang kakung sama daddy Amir aja. Kita mah enggak spesial," goda Amora.



Teguh hanya tertawa saja mendengar celoteh keponakannya itu.



"Bagaimana opamu?" tanya eyang putriya. Eyang malah tak menggubris saat di goda dia masak hanya untuk suami dan seorang menantunya. Siapa suruh dia enggak boleh masak?  



"Kayak gitu lah. Kalau prediksi dokter sih, tipis kemungkinan bertahan. Tapi kan kita nggak tahu ya. Sebagai manusia tetap berusaha," jawab Amora.



"Oh begitu?" Tanya Sashi.



"Iya jadi ayah sama tante Vionne  udah nggak terlalu berharap banyak. Daripada kita terlalu berharap banyak lalu sedih. Kan lebih baik kita lihat kenyataan aja," jawab Amora bijak.



"Bener banget. Ya memang manusia tetap berusaha dan berharap tapi daripada kita terlalu berharap jauh. Memang beneran kayak gitu. Kita jadi lebih siap," kata Kiran.



"Ia, ayah juga udah bilang gitu sih. Dan sebelum  masuk rumah sakit opa udah pesen minta dijadiin satu sama oma. Udah kasih tanda-tandanya seperti itu gitu," jawab Amora.



Sehabis sarapn  semuanya bersiap berangkat ke rumah sakit  kecuali Aldo.



Aldo ada acara lain. 


\*\*\*



"Loh kok mereka  baru datang," kata Dava yang sedang parkir mobil di rumah sakit. Dava melihat rombongan om Amir. 



Sejujurnya Dava lebih fokus pada gadis kecil yang sedang berjalan dengan papinya tante Kiran. Dava 'kenal' keluarga tante Kiran dan om Amir. Dava sering melihat siapa saja yang datang ke rumah tetangga depan rumahnya itu.



Hari ini Dava merasa beruntung bisa terus melihat gadis kecil itu, kebetulan aja dia juga mau mengunjungi rekannya yang sakit. Dava tak tahu kalau opanya Moya yang sakit juga di rawat di rumah sakit ini. Kemaren dia hanya dengar dari tante Kiran kalau opanya gadis itu sakit.



"Lho, mau nengok siapa Bang?" Tanya Farid pada Dava ketika mereka bertemu saat mau masuk lift.



"Nengok istri teman," sahut Dava. Dia membaw parcel buah.



"Kamu ikut ke sini juga?" Dava melihat Farid dan Farhan bersama dengan seorang anak elalaki lainnya.



"Iya kami habis sarapan bareng di rumah eyang, lalu kesini semua kecuali kak Aldo," jawab Farid.



"Di ruang mana?" tanya Dava.



"Di ICU Bang," Farid menjawab pertanyaan Dava.



"Oke Abang juga nengok istri teman," Dava memberitahu siapa yang akan dia kunjungi. 



"Oh kirain nengok pacar Abang," goda Farid.



"Ha ha ha, pacar apaan," jawab Dava.



"Siapa tahu aja," goda Farid lagi.



"Abang enggak laku, enggak ada yang mau," Dava menjawab asal. 



Mereka pun masuk lift bersama. Amora melihat saja dari jauh.




Saat keluar lift mereka berpisah, rombongan Amora ke kiri sedang Dava ke kanan.


\*\*\*


"Turut prihatin ya Har. Semoga papa cepat sembuh kata Lukman pada mantan menantunya.



"Terima kasih Pi," jawab Harry. Dia memang masih memanggil papi dan mami pada mantan mertuanya itu. "Kamu yang sabar," 


maminya Dini juga bersimpati ada Harry.



"Iya Mi. Insya Allah sabar," balas Harry.



Saat itulah datang Leo dan istrinya.


\*\*\*



Saat semuanya lagi di situ.  Opanya kritis, Amora langsung dipeluk Farid saat sang opa tiada.



Farid memapah sepupunya agak menjauh dari ICU.



 Dava yang sudah selesai menjenguk istri temanya tak sengaja melihat Farid. Dava menghampiri. 



"Kenapa?" Tanya Dava tanpa suara. Farid melihat gerak bibir Dava.



"Opanya meninggal," jawab Farid juga tanpa suara.



"Kamu bilang semua siap. Kenapa kamu sekarang seperti ini? Kamu harus kuat. Kasihan ayahmu kalau kamu seperti ini," hibur Farid.



"Kamu ambilkan air teh anget sana," kata Dava. 



Dava langsung menyuruh Aldo ke rumah sakit karena opanya Amora meninggal.



"Kamu yang sabar. Memang sudah waktunya Opa pergi, " Kiran menghibur keponakannya.



"Mommy tolong telepon Daddy dan Mommyku," Amora meminta Kiran menghubungi Dini dan Anto.



"Mommy pasti akan menghubungi mereka. Tapi kamu harus sadar, mommy mu enggak bakal bisa  datang karena kan adik-adikmu lagi ujian," kata Kiran. 



Kiran langsung menghubungi Anto dan Dini perihal meninggalnya papanya Harry. 



Farid datang membawa teh anget minum dulu," kata Dava. Dia memberikan teh itu pada Amora.



"Terima kasih Om,"  Amora menerima teh hangat itu. 



"Yah masih dipanggil om aja,"  protes Dava.



"Habiskan dulu tehnya biar kamu agak enakan baru kita ke dalam yuk," kata Dava.



Amora dituntun oleh Dava dan Farid untuk melihat jenazah Opanya. 



Di dalam ada Harry, Leo dan istrinya. Vionne belum datang.



"Mau dimakamkan di mana dan jam berapa?" tanya Sashi.



"Besok Mbak. Nunggu kerabat datang." Jawab Harry.



"Oke kabarin aja jamnya dan lokasi pemakaman ya biar besok kami ke sana.  Sekarang kami pamit dulu kata Sashi



"Iya Mbak. Terima kasih sudah datang," kata Harry.



Farid dan Dava membantu Amora, memapah Amora ke jenazah Opanya. Amora memegang tangan opa yang sudah dingin.



"Opa nggak nungguin aku . Opa pernah janji kan mau tunggu wisuda aku. Aku baru masuk kuliah. Opa udah berangkat," isak Amora. Dava menepuk-nepuk bahu Amora untuk menghiburnya.