
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Pak, habis ini kita langsung ke resto ini ya. Saya barusan sudah pesan tempat disana. Bapak juga ikut makan disana ya," Dava memberikan secarik kertas berisi alamat resto yang akan mereka kunjungi pada setiap sopir agar tak saling cari.
Seperti yang tadi dibicarakan oleh Dava dan Amora.
"Kamu sudah tentukan tempat makan?" tanya Steve pada Dava
Steve dan Leo sudah paham kalau pada pertemuan seperti ini pasti Dava yang akan bayar mereka sudah tahu karena sudah pernah kejadian mau bayar tapi nggak jadi, karena nggak bisa karena kasir sudah diberitahu Dava yang akan bayar.
"Iya Pa, aku sudah pesan tempat. Apa Papa punya tujuan lain? Mau pindah?" tanya Dava.
"Enggak kalau kamu sudah tentukan. Ya udah masa kita sudah pesan lalu kita batalkan." Leo menyela pembicaraan Steve dan Dava.
"Sudah Pa tempat yang nyaman untuk adik-adik kecil, makanannya enak untuk yang dewasa," jawab Dava.
"Baguslah kalau kamu memikirkan adik-adik kecil," jawab Leo.
"Tunggu sampai lengkap dulu Pa. Dilihat sudah lengkap belum, baru kita jalan."
"Ya pastilah. Masa ada salah satu ditinggal?"
"Kali aja Papa lupa. Terus mama Yai ketinggalan." Ucap Dava.
"Wah bisa gawat itu kalau mama Yai ketinggalan," kata Steve. Mereka semua tertawa terbahak-bahak.
\*\*\*
Mereka tiba di rumah makan yang Dava rekomendasikan. Dava tadi sudah memesan makanan pokok. Sehingga saat mereka datang, resto tidak terlalu lama untuk menyajikan makanan yang dalam jumlah banyak secara mendadak.
"Makanan pokok sudah aku pesan ya. Sudah Abang pesan. Kalau masih kurang silakan pesan makanan tambahannya. Pesan sendiri sesuka kalian. Tulis aja biar disiapkan oleh waitress nya."
Dava melihat istrinya sedang memperhatikan eyang putrinya yaitu mamanya daddy Anto.
"Eyang capek?" tanya Amora penuh perhatian.
"Enggak sih tapi ya buat orang tua cukup melelahkan. Tapi Eyang masih bisa hadapi."
"Eyang duduk dulu ini minum untuk Eyang ya," kata Amora sambil memberikan teh hangat tanpa gula pada eyangnya.
"Mau lanjut ke mana nih?" Pancing Dava pada semuanya.
"Enggak ah nyerah mau pulang aja," Hermien langsung menjawab tak mau kemana-mana lagi.
"Kamu tu paling-paling deh. Kalau Bunda udah lelah mau apa?" kata Hermien.
Memang semua setuju mereka akan langsung pulang karena terlalu lelah. Bukan hanya lah karena jalan-jalan ke Borobudur nya tapi persiapan sebelum untuk pernikahan membuat mereka semua lelah tenaga dan pikiran.
"Ya udah makan dulu puas-puas ya habis itu kita pulang. Tapi sebelumnya akan mampir ke tempat oleh-oleh. Jadi nanti silakan belanja dulu."
Dava tadi sudah memesan pada driver agar sehabis makan mengantar rombongan ke pusat penjualan oleh-oleh khas Jogja.
\*\*\*
"Ayah seriusan mau pulang besok Yah?" tanya Dava.
"Iya Ayah kan izin kerja hanya hari Jumat aja. Hari Senin Ayah harus sudah masuk," kata Harry pada menantunya.
" Kenapa Ayah nggak mau naik pesawat aja barang yang lain?"
"Enggak, Ayah bareng Vionne dan Ferry. Mereka nggak mau naik pesawat lagi seperti berangkat karena si kecil rewel."
"Jadi mereka mau naik kereta dan kami sudah pesan tiketnya untuk hari Minggu sore."
"Kalau hari Minggu sore dari sini, sampai Jakarta jam berapa Yah?"
"Sampai sana hari Minggu tengah malam lah. Masih bisa kok Ayah istirahat dan kerja hari Senin." Jawab Harry.
"Anaknya Vionne rewel waktu naik pesawat sehingga Vionne memutuskan pulangnya mereka akan naik kereta saja barang dengan Papa."
Sebagai tuan rumah yang baik Dava berkeliling menyapa dan mengajak ngobrol satu persatu semuanya walau hanya selintas baik dari keluarga Hermien, keluarga Rustam, keluarga Dini mau pun keluarga Anto.
Begitu pun dengan Amora Dia menegur satu persatu agar tak dibilang sombong dan tak mau bergaul dengan saudara sendiril.
"Loh kamu nggak makan?" tanya Hermien pada menantunya.
"Sudah Bun dari tadi aku makan. Waktu mampir di eyang disuruh nyicipin mampir di Tante tadi suruh nyicipin terus aja aku keliling makan. Lama-lama aku lebih kenyang dari kalian yang punya piring loh," sambil terbahak-bahak Moya menerangkan apa yang terjadi.
Memang dari tadi juga Hermien lihat begitu.
'Alhamdulillah aku mendapat menantu yang baik,' batin Hermien. Dia tak menyangka menantunya malah orang yang sangat dekat rumahnya. Maksudnya adalah dekat dengan rumah mommy Kiran. Dia juga sudah kenal sejak kecil. Tidak seperti Olivia yang tak bisa diharapkan.
'Untung aja Dava bisa tahu bahwa Olivia bukan perempuan baik-baik,' batin Hermien.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY